Rahasia Ponsel Samsung Laris Manis

Setiap Samsung menghadirkan ponsel baru, produk tersebut selalu digandrungi konsumen. Samsung pun memiliki beragam ponsel pintar untuk menyasar berbagai kalangan dan segmen konsumen. Sebut saja, Samsung Galaxy J series, Galaxy A series, Galaxy S series dan Galaxy Note. Produk-produk tersebut memiliki fitur yang sesuai dengan kebutuhan target pasarnya.

Galaxy J series termasuk salah satu produk yang paling laku. Maklum, seperti kita ketahui, proporsi kelas menengah mencapai 30% dari populasi Indonesia, sehingga Galaxy J series menjadi ponsel pintar yang banyak diburu orang. Fitur yang dibenamkan pada ponsel tersebut menjadi solusi untuk kebutuhan dan gaya hidup target konsumennya. Misalnya, kemampuan 4G, kemampuan kamera, pilihan ukuran layar, fitur Ultra Data Saving (UDS), fitur Ultra Power Saving (UPS), aplikasi S Bike, keamanan dan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan target pasarnya.

Peluncuran Samsung Galaxy On7 yang eksklusif dijual melalui para mitra e-commerce Samsung. Peluncuran Samsung Galaxy On7 yang eksklusif dijual melalui para mitra e-commerce Samsung.

Memang, kelas menengah semakin bertambah. McKinsey memproyeksikan pertumbuhan kelas menengah dari 80 juta di 2015 menjadi 140 juta di 2030. “Berdasarkan proyeksi tersebut, pertumbuhan rata-rata kelas menengah per tahun 5%. Peluang inilah yang mendorong ponsel mid segment kami tumbuh 14% dibanding tahun lalu untuk periode yang sama, berdasarkan laporan Gfk,” ujar Denny Galant, Head of IT & Mobile Product Marketing PT Samsung Electronics Indonesia (SEI).

Lalu, bagaimana kiat suksesnya agar produk Samsung selalu laris? “Sebelum melakukan inovasi, kami keluar untuk mendengarkan konsumen. Apa yang menjadi kesulitan mereka. Apa yang mereka harapkan dari sebuah produk. Fitur apa yang mereka butuhkan dari produk yang ada. Bagaimana gaya hidup mereka, dan masih banyak pertanyaan dan pengamatan yang kami lakukan,” kata Denny menjelaskan.

Dari survei dan pengamatan langsung tersebut, Samsung menciptakan inovasi yang dapat membantu kehidupan dan gaya hidup konsumen sehingga inovasi yang dibuat bermanfaat dan menjadi solusi untuk kebutuhan mereka. Setelah inovasi tersebut dikembangkan, Samsung mengedukasi konsumen, bagaimana mereka dapat mengoptimalkan produknya untuk membantu hidup mereka dan membuka peluang baru.

Edukasi pasar tersebut dilakukan sejalan dengan promosi melalui beragam media. Namun, promosi yang dilakukan mengikuti pola perilaku konsumen dalam mengonsumsi tiap-tiap media. Di Indonesia, media digital sudah berkembang dan menjadi salah satu media yang utama dan menjadi sumber referensi saat konsumen hendak menentukan produk yang akan dibeli. “Sementara media seperti media cetak, televisi dan radio masih menjadi media referensi, namun telah bergeser peran dan pola konsumsinya,” ungkap Denny membandingkan.

Jo Semindang, Direktur Pemasaran SEI, menambahkan tentang perkembangan bisnis Samsung. “Untuk gadget, market share-nya 50%. Demikian pula, kontribusi gadget terhadap total penjualan SEI, ada di atas 50%. Tetapi, sekarang memang antara home solution dan gadget bedanya tergolong tipis,” ujarnya.

Saat ini yang berkembang pesat adalah penjualan produknya melalui marketplace atau e-commerce. “Untuk marketplace, perkembangan dealer kami cukup besar. Apalagi, handphone berkembang sekitar 48%. Kalau elektronik, 75%,” ungkap Jo sambil menambahkan, kontribusi gadget terhadap penjualan sebesar 80% melalui channel marketplace.

Twitter & IG : @ddsuryadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)