<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SWA.co.id &#187; Julie Bell</title>
	<atom:link href="http://swa.co.id/tag/julie-bell/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://swa.co.id</link>
	<description>SWA Online</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 10:50:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kunci Sukses Meraih Kinerja Puncak</title>
		<link>http://swa.co.id/business-strategy/book-review/kunci-sukses-meraih-kinerja-puncak</link>
		<comments>http://swa.co.id/business-strategy/book-review/kunci-sukses-meraih-kinerja-puncak#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 08:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison Lestari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[Julie Bell]]></category>
		<category><![CDATA[Performance intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Recognize]]></category>
		<category><![CDATA[Refocus]]></category>
		<category><![CDATA[Routine.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=14166</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Performance Intelligence at Work Penulis : Julie Bell, Ph.D Penerbit: McGraw Hill, 2009 Tebal : xxiv + 174  <a href="http://swa.co.id/business-strategy/book-review/kunci-sukses-meraih-kinerja-puncak">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p>Judul     : <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Performance Intelligence at Work</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><br />
Penulis  : Julie Bell, Ph.D<br />
Penerbit: McGraw Hill, 2009<br />
Tebal	     : xxiv + 174 halaman<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><br />
</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Performance intelligence is the ability to perform your best when it matters most. </em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> </span></span></span></span></p>
<p>Pernahkan Anda merasakan hal ini? Di saat latihan, Anda dapat tampil sempurna. Semua tembakan masuk ke ring basket dengan tepat. Ayunan golf Anda sempurna. Latihan presentasi Anda berjalan mulus. Namun, pada saat permainan sebenarnya dimulai, semua tembakan meleset. Ayunan golf menjadi gaya mencangkul tanah. Presentasi disampaikan dengan grogi di depan dewan direksi dan isinya sama sekali tidak terstruktur. Apa yang terjadi? Mengapa demikian? Inilah yang akan dijawab oleh buku <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Performance Intelligence at Work. The mind of a champion â€“ </em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">itulah inti buku ini.</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Performance intelligence</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> adalah memberikan yang terbaik pada saat yang menentukan. Yang dimaksud performa di sini tidak terbatas pada pekerjaan, melainkan area apa saja yang ingin ditingkatkan dalam kehidupan kita.</span></span></p>
<p>Penulis buku ini, Julie Bell, awalnya adalah psikolog olah raga (<span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>sport psychology</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">) bergelar doktor dari University of Virginia. Psikologi olah raga sendiri berasal dari konsep bahwa kita semua memiliki kemampuan mengenali pemikiran kita dan mengubah pemikiran itu untuk menghasilkan pikiran yang akan membuat kita sukses. Suatu waktu, seorang temannya, CEO Zebco dan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>President</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Brunswick Outdoor, memintanya untuk mengajarkan prinsip psikologi olah raga kepada tim kepemimpinannya. Dari sinilah lahir konsep </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>performance intelligence</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> yang pada dasarnya mengaplikasikan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>sport coaching</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> menjadi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>business coaching</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">.</span></span></p>
<p>Mari kita lihat pemikiran dan aplikasi psikologi olah raga dalam bisnis.<br />
Terdapat tiga prinsip dasar pada otak kita, yakni: pemikiran kita sangat <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>powerful</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, kita dapat mengontrol pemikiran kita, dan kita memiliki pilihan cara berpikir dalam setiap situasi. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Change your thinking and you can change your actions</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">.</span></span></p>
<p>Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya mengenali pemikiran kita yang mengarah ke hasil? Buku ini memberikan konsep 3R â€“ <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Recognize, Refocus</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;">, dan</span></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em> Routine</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">.</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Recognize</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> merupakan evaluasi diri untuk mengidentifikasi pemikiran kita. Apabila kita mem-</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>print out</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> pemikiran kita, apakah semuanya positif? Seolah-olah menyindir kita, penulis buku ini mengatakan jangan-jangan kita mengatakan hal yang lebih positif kepada binatang piaraan kita daripada apa yang kita katakan kepada diri kita sendiri.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Refocus</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> adalah mengubah fokus pikiran kita. Kita mengubah pemikiran â€œkonsumen itu datang untuk marah-marahâ€ menjadi â€œkonsumen itu datang untuk meminta bantuan sayaâ€. Kalau kita mengenal pemikiran kita dan mengubah fokusnya, kita akan siap secara mental menangani sesuatu. Pemikiran kita sebelum melakukan sesuatu akan memengaruhi kesuksesan atau kegagalan kita kemudian. Pemikiran kita sesudah melakukan sesuatu akan memengaruhi kesuksesan atau kegagalan kita di masa depan. Yang terakhir adalah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Routine</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> â€“ kita harus membangun rutinitas dalam menjaga pemikiran kita agar memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.</span></span></span></span></p>
<p>Terdapat empat kondisi pemikiran kita: <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Monkey, Intimidated, Natural</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, dan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Determined</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> (MIND). </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Monkey</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> adalah beban pemikiran kita. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Monkey</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> di pemikiran kita dapat mudah berubah menjadi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><span style="font-style: normal;">gorila</span></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> 400 kg, tetapi itu akan terjadi karena pemikiran kita saja. Ada kalanya kita juga terintimidasi oleh pemikiran kita, sehingga mengabaikan kekuatan dan sumber daya yang kita miliki. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Natural</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> adalah pemikiran yang terjadi secara alami. </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Determined</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> adalah pemikiran yang terjadi saat kita membuat pilihan sadar akan solusi dan perbaikan daripada memikirkan masalah dan kesalahan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Sebagai aplikasinya di bidang bisnis, penulis menyarankan untuk membuat jurnal pemikiran kita. Apakah pemikiran kita lebih banyak berada dalam keadaan M, I, N atau D? Pemikiran seorang pemimpin seharusnya berada di zona N dan D. Sebagai pemimpin, kita juga harus meng-</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>coach</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> anak buah  agar senantiasa berada dalam situasi D.</span></span></span></span></p>
<p>Sekarang mengenai cara mengaplikasikannya. Untuk mencapai <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>performance</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>intelligence</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, kita membutuhkan lima esensi: fokus, percaya diri, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>winning game</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>plan</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, disiplin diri, dan kompetitif.</span></span></p>
<p>Manakah yang lebih efektif untuk menjinakkan singa: cambuk atau kursi? Kursi! Mengapa? Karena keempat kaki kursi menyulitkan singa berkonsentrasi. Agar dapat tampil prima di saat kritis, kita harus fokus pada satu tujuan tunggal. Masalahnya, kita sering fokus pada hal yang salah, kita fokus pada hal yang tidak kita inginkan terjadi bukan pada hal yang kita ingin capai. Fokus yang benar adalah fokus pada hal yang penting pada saat yang tepat. <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>Focus is paying attention to the right things at the right time</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. Siapa pun pasti akan membuat kesalahan. Seorang pemenang tidak akan fokus pada kesalahannya, melainkan perbaikannya. Seorang pemenang fokus pada memenangi permainan, bukan sekadar tidak kalah.</span></span></p>
<p>Percaya diri akan memengaruhi apa pun yang kita lakukan. Kenyataannya, manusia sering kali percaya diri akan hasil. Percaya diri yang benar adalah percaya diri akan proses, bukan hasil. Kita tidak boleh percaya diri akan hasil, karena ada sejumlah variabel yang tidak dapat kita kontrol dalam memberikan hasil itu. Misalnya, kita menghadapi wawancara pekerjaan. Kita seharusnya percaya diri dalam prosesnya, tetapi kita tidak dapat menjamin bahwa kita pasti berhasil.</p>
<p>Pikiran kita sangat memengaruhi rasa percaya diri kita. Untuk membangun rasa percaya diri, kita harus menghargai kesuksesan kita setiap hari. Dalam aplikasi bisnis, setiap kita akan mengeksekusi proyek besar, pecahkan menjadi komponen kecil. Identifikasi keahlian yang dibutuhkan dan pakai sejarah kesuksesan kita akan keahlian itu di masa lalu. Dengan demikian, kita akan membangun percaya diri kita satu langkah satu waktu.</p>
<p>Esensi yang ketiga adalah <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>winning game plan</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> dan ini dimulai dari definisi kita sendiri mengenai kesuksesan. Selanjutnya, kita melihat apa yang sudah berjalan dengan sukses. Aspek yang menjadikan kita sukses inilah yang merupakan dasar </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>winning game plan</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> kita.</span></span></p>
<p>Kita juga harus mengenali hasil yang tidak diinginkan. Kita harus me-<span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>reverse engineering</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">-nya dengan mengenali pemikiran di balik aksi yang akan mengarah pada hasil yang tidak diinginkan. Setelah memiliki </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>winning game</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>plan</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, kita harus mengeksekusinya. Jauh lebih baik memberi penghargaan pada diri sendiri sewaktu eksekusi, ketimbang menunggu hasil akhirnya keluar lebih dulu.</span></span></p>
<p>Disiplin diri membentuk pemikiran dan perbuatan kita. Ini dimulai dengan pernyataan bahwa kita menginginkan perbaikan atau perubahan. Selanjutnya, kita membutuhkan pertanggungjawaban sukarela (<span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>voluntary accountability</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">). Konsep ini memaksa kita untuk mengakui kesalahan kita dan membenarkannya, bukan menunggu sampai ketahuan ataupun â€œditangkapâ€. Seberapa banyak dari kita yang berani membuat kesalahan dan menghadap supervisor untuk mengakui dan meminta bantuan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>coaching</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">? Semakin rendah disiplin diri kita, semakin kita membutuhkan pertanggungjawaban sukarela.</span></span></p>
<p>Yang terakhir, daya kompetisi kita. Agar dapat tampil prima di saat kritis, kita harus memiliki keinginan untuk menang. Menang dalam konteks <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>performance intelligence</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> bukanlah berarti </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>win-lose</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> (satu pihak harus kalah agar lainnya menang). Yang kita inginkan situasi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>win-win</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. Kita berkompetisi dengan diri kita sendiri. Daya saing kita adalah membawa permainan ke level yang lebih tinggi, bukan sekadar mengalahkan kompetitor. Kita tidak seharusnya fokus pada kompetisi, tetapi fokus meningkatkan keahlian dan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><em>personal best</em></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> kita. Dengan demikian, permainan kita akan meningkat dan kemenangan akan mengikuti.</span></span></p>
<p>50%-90% permainan kita tergantung pada kualitas mental kita. Bila kita sering melatih fisik kita, apakah kita pernah melatih mental kita? Jarang!</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Bagaimanakah caranya kita melatih mental? Visualisasi. Bayangkan Anda berada dalam situasi tertentu. Bayangkan apa yang akan Anda perbuat dalam gerakan lambat. Hal ini akan membantu kita agar dapat tampil lebih baik. Aplikasinya dalam bisnis, sebelum kita mengambil suatu keputusan penting, bayangkan dalam pikiran kita bahwa kita sudah mengambilnya dan jalani selama satu  minggu. Apabila keputusan itu membuat kita merasa termotivasi ataupun merasa damai, artinya keputusan itu sudah benar.</span></span></span></p>
<p>Hal kedua yang berpengaruh adalah pengalaman dan harapan. Untuk memaksimalkan pengalaman dan harapan positif kita, kita harus membuat jurnal setiap malam. Kesalahan biasa dalam membuat jurnal adalah membesarkan masalah dan meminimalkan cerita sukses kita. Bila kita menjumpai masalah, yang harus kita jurnalkan bukan hanya  kesalahan dan kelemahan kita, tetapi juga perbaikan di masa depan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Dalam bukunya, Julie Bell menjelaskannya dengan contoh yang baik. Bila kita tersandung kabel pada saat kita hendak melakukan presentasi, jurnalkan bagaimana kita melihat kabel dan melangkahinya dengan lancar pada saat kita hendak berpresentasi di masa depan.</span></span></span></p>
<p>Buku ini hampir senada dengan ajaran Neuro Linguistic Programming yang populer belakangan ini. Walau demikian, sudut yang dibidik buku ini adalah aplikasinya dalam kehidupan pekerjaan dan profesional.</p>
<p>Selain menggunakan bahasa yang sangat sederhana, buku ini juga penuh dengan analogi dan contoh sehingga membantu pemahaman kita. Latar belakang penulis yang berasal dari praktisi dengan pengalaman nyata menjadikan konsep yang dibawakan terasa membumi dan gampang diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sebuah buku bermutu yang terlalu sayang bila dilewatkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="en-US" align="LEFT"><em><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Peresensi bekerja di perusahaan</span></span></span></em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="LEFT"><em><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">minyak asing, Development Planning.</span></span></span></span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/business-strategy/book-review/kunci-sukses-meraih-kinerja-puncak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

