<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SWA.co.id &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://swa.co.id/tag/pendidikan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://swa.co.id</link>
	<description>SWA Online</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 10:50:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Penetrasi Teknologi, Intel Serahkan 50 PC ke UPI</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/penetrasi-teknologi-intel-serahkan-50-pc-ke-upi</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/penetrasi-teknologi-intel-serahkan-50-pc-ke-upi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 12:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellyzar Zachra P.B</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Intel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pendidikan Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=24750</guid>
		<description><![CDATA[Intel Indonesia mendonasikan 50 unit Classmate PC (CMPC) kepada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai bagian dari program Intel Teach di  <a href="http://swa.co.id/updates/penetrasi-teknologi-intel-serahkan-50-pc-ke-upi">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Intel Indonesia mendonasikan 50 unit Classmate PC (CMPC) kepada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai bagian dari program Intel Teach di seluruh dunia yang berhasil merangkul 10 juta guru. Program ini dilaksanakan untuk menyebarluaskan fungsi teknologi dan internet dalam lingkup pendidikan.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Unit-unit komputer portabel CMPC ini akan digunakan oleh calon-calon guru untuk menerapkan kegiatan percontohan belajar-mengajar 1:1 eLearning di laboratorium UPI. Intel Teach adalah program pengembangan profesi yang menargetkan guru sekolah K-12. Program ini memfasilitasi dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para guru untuk mengintegrasikan penggunaan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) dalam proses belajar mengajar di kelas.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Di bawah program Intel Teach dan naungan Intel Education Initiative, kerjasama strategis antara Intel Indonesia dan UPI ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dan calon-calon guru dalam mengintegrasikan teknologi di proses belajar-mengajar. Intel Education Initiative telah dimulai di Indonesia sejak pertengahan tahun 2007, dan hingga kini sudah terdapat 57 ribu guru yang sudah mengikuti pelatihan Intel® Teach.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Harry K. Nugraha, <em>Director of Strategic Business Development</em> Intel Indonesia, mengatakan, ”Intel Education Initiative memiliki fokus untuk meningkatkan kualitas belajar-mengajar melalui penggunaan teknologi yang efektif supaya sektor pendidikan mampu menjawab tantangan abad 21, dan khususnya supaya para pendidik dan siswa di Indonesia dapat meningkatkan daya saing mereka.”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Sudah saatnya Indonesia memberikan perhatian yang lebih besar lagi untuk sektor pendidikan karena di sini lah masa depan bangsa dimulai. Peran serta guru sangat penting dalam membentuk karakter para calon pemimpin masa depan bangsa ini, kata Harry lagi.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p id="yui_3_2_0_1_1323771766598528"><span id="yui_3_2_0_1_1323771766598525" style="font-family: ARial,sans-serif;">Realisasi dari kesepakatan strategis ini direncanakan akan berlangsung selama empat tahapan. Tahapan pertama akan dimulai dengan pelatihan guru dan implementasinya untuk sesama guru dan murid, melalui pelatihan Getting Started. Pada tahapan kedua, pengembangan pelatihan Essential Course dan implementasinya. Tahapan berikutnya, implementasi akan pembelajaran berbasis proyek dan evaluasi program. Tahapan terakhir adalah proses-proses integrasi kurikulum.</span></p>
<p><br clear="all" /><br />
&#8211;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/penetrasi-teknologi-intel-serahkan-50-pc-ke-upi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Harus Tanggung Biaya Operasional Perguruan Tinggi</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/pemerintah-harus-tanggung-biaya-operasional-perguruan-tinggi</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/pemerintah-harus-tanggung-biaya-operasional-perguruan-tinggi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 13:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rias Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Firmanzah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=24446</guid>
		<description><![CDATA[Hal tersebut dikemukakan Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kepada SWA di awal bulan Oktober lalu. Menurutnya, konsekuensi itu wajar  <a href="http://swa.co.id/updates/pemerintah-harus-tanggung-biaya-operasional-perguruan-tinggi">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hal tersebut dikemukakan Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kepada SWA di awal bulan Oktober lalu. Menurutnya, konsekuensi itu wajar jika perguruan tinggi negeri (PTN) dituntut untuk bersaing dengan perguruan tinggi (PT) asing. “Kalau pemerintah konsekuen, seharusnya tidak bisa begitu saja biaya operasional pendidikan diserahkan pada perguruan tinggi. Pemerintah harus menanggung beban juga,”ulasnya panjang lebar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak sedikit memang dana yang harus dirogoh untuk menjadi universitas kelas dunia. National University of Singapore (NUS) contohnya. Menurut Firmanzah, dana riset NUS di tahun 2008 mencapai Rp 4,1 triliun Sedangkan UI? “ Rp 1,2 triliun untuk keseluruhan operasional. Kami beli lampu untuk kelas saja dari Rp.1.2 Triliun itu,” ungkapnya sebagaimana disampaikannya ketika diundang menjadi pembicara yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) beberapa tahun lalu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kita dituntut untuk bersaing dengan NUS, tapi biaya pendidikan tidak boleh mahal. Itu sulit.” Menurut Firmanzah, kalau pemerintah tidak dilibatkan dalam menanggung biaya juga, maka persoalan komersialisasi akan selalu muncul. Lalu bagaimana solusinya? “ Saya rasa, pemerintah harus menanggung semua biaya kemudian dipatok. Misalnya, SPP tidak boleh lebih dari Rp 1 Juta.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fiz, sapaannya, lantas mencontohkan skema biaya pendidikan master dan doktor-nya di Perancis. Saat itu, dalam setahun biaya persemesternya jika dikonversi pada mata uang rupiah, hanya Rp 5 juta. Biaya riilnya bisa mencapai 15 ribu euro, atau hampir Rp 160 juta. Sisanya ditanggung Pemerintah Perancis. “Dekan di sana tidak perlu lagi memikirkan bagaimana mencari uang. Tinggal memikirkan kualitas pendidikan,”ulasnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>UI sendiri menurut Firmanzah saat ini harus menjadi sangat kreatif untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Untuk itu UI menjadi aktif mencari sponsor untuk membantu pembangunan fasilitas untuk UI agar tidak membebani mahasiswanya. Ia mencontohkan pembangunan Auditorium UI yang berbiaya sekira Rp 2 miliar dengan sokongan dana oleh Bank Mandiri dan bank serta lembaga lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p id="yui_3_2_0_1_1322659491717138">Bahkan, para alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni FE UI (Iluni FE UI), mengelola reksadana yang dinamakan Makara Prima. Ada tiga skema dalam penjualan Reksadana ini. Skema pertama, baik uang pokok maupun bunganya, akan masuk untuk Iluni UI. Skema kedua, bunga reksadana untuk Iluni UI namun uang pokok-nya tetap kembali pada orang tua mahasiswa. Skema ketiga, pokok dan bunga-nya untuk orangtua, bamun biaya manajerialnya untuk Iluni UI. Hasilnya, dari berbagai kegiatan untuk menyuplai kegiatan pendidikan tersebut, tahun 2011 ini FE UI mampu menyokong beasiswa mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Budaya dan MIPA sebesar rp 600 juta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Persatuan Orang Tua mahasiswa juga tak ketinggalan menggalang dana. Salah satunya dengan menggelar turnamen golf. Tahun lalu turnamen tersebut mampu mengumpulkan dana sebesar Rp700 juta. Bulan Oktober ini, kembali akan digelar turnamen golf dengan target Rp 1 miliar. Uang sebesar itu akan dipakai untuk membiayai kegiatan mahasiswa, fasilitas ruangan beserta perlengkapannya.  Begitulah, pada akhirnya, UI sendiri-pun juga harus berkreasi untuk bisa mandiri tanpa dukungan penuh pemerintah.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/pemerintah-harus-tanggung-biaya-operasional-perguruan-tinggi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan AS Bikin Pelajar &#8216;Speak Up&#8217;</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/pendidikan-as-bikin-pelajar-speak-up</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/pendidikan-as-bikin-pelajar-speak-up#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 11:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rias Andriati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan M. Soedjono]]></category>
		<category><![CDATA[Havard Business School]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=23055</guid>
		<description><![CDATA[Presiden Perhimpunan Alumni Indonesia-Amerika Serikat (Alumnas) Hasan M. Soedjono mengatakan bahwa pendidikan di Amerika Serikat memiliki kekhasan. Pelajar dididik untuk  <a href="http://swa.co.id/updates/pendidikan-as-bikin-pelajar-speak-up">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Presiden Perhimpunan Alumni Indonesia-Amerika Serikat (Alumnas) Hasan M. Soedjono mengatakan bahwa pendidikan di Amerika Serikat memiliki kekhasan. Pelajar dididik untuk berani mengeluarkan pendapat, berpikir secara sistematis dan independen, serta berpegang teguh pada fakta.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Tapi, keberanian itu bukanlah tanpa dasar. Kita tidak bisa asal </span></span><em><span style="font-weight: normal;">njeplak. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Sebuah pernyataan harus diikuti fakta dan riset,” kata Alumni Harvard Business School itu. Selain itu, siswa juga dirangsang untuk menulis pendapat mereka, baik di buletin kampus, jurnal dan </span></span><em><span style="font-weight: normal;">paper. </span></em><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Pendekatan pengajaran di AS pun mengarahkan pelajar untuk kreatif. Pendidik tidak diperkenankan hanya mendikte dan menyuruh siswa menghapal. “Kita tidak berbicara soal mengisi otak melainkan merangsang otak,” tegas pria kelahiran 15 November 1951.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Selain itu, pelajar dinilai berdasarkan sistem meritokrasi yaitu berbasis prestasi. Tidak ada penilaian berdasarkan senioritas. “Seseorang yang meraih gelar Doktor berarti memiliki kemampuan yang pantas untuk meraih gelar itu. Tidak ada gelar yang dipaksakan. Pada akhirnya, semua siswa ingin menjadi yang terbaik dengan cara bersaing,” ujar Hasan lagi. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Kelebihan lain dari sistem pendidikan di Amerika Serikat adalah siswa diarahkan berpikir dan bertindak jujur. Ini terkait konsistensi dan integritas. Menyontek adalah salah satu yang &#8216;haram&#8217; dilakukan. “Di Amerika, siswanya juga suka menyontek, sama seperti di Indonesia. Namun, kebiasaan itu berhenti saat mereka kuliah. Hukuman untuk siswa yang menyontek sangatlah berat. Siswa bisa dikeluarkan.”</span></span></span></span></p>
<p id="yui_3_2_0_1_1318592077186346" style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Meskipun begitu, dunia pendidikan AS tidaklah sempurna. Perguruan tinggi di negara adidaya itu sangatlah mahal. “Biaya mahal tidak selalu berarti kekurangan. Perguruan tinggi yang menerapkan biaya mahal biasanya memberikan kualitas pendidikan yang tinggi,” kata Hasan lagi.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"><span style="font-weight: normal;">Satu hal yang menonjol dari lulusan luar negeri adalah keberanian mereka menyampaikan pendapat secara sistematis. Mereka juga terbiasa melakukan analisis. Khususnya di Amerika, seringkali soal-soal Fisika dan matematika justru bukan mencari hasil angka. &#8220;Pertanyaan justru meminta jawaban, mengapa suatu rumus tersebut penting? Apa kegunaannya untuk masyarakat,&#8221; ucap peraih gelar Sarjana jurusan Teknik Kimia dari King Khalid University of Petroleum and Mineral, Saudi Arabia. Proses menulis kembali diasah dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu. (Acha)</span></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/pendidikan-as-bikin-pelajar-speak-up/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Pendidikan &#8216;Haus&#8217; Manajemen yang Berkualitas</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/dunia-pendidikan-haus-manajemen-yang-berkualitas</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/dunia-pendidikan-haus-manajemen-yang-berkualitas#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 13:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellyzar Zachra P.B</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=22993</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan dunia pendidikan saat ini terletak pada mutu pendidikan dan sangat bergantung pada kualitas manajemen sekolah maupun kepemimpinan guru selaku  <a href="http://swa.co.id/updates/dunia-pendidikan-haus-manajemen-yang-berkualitas">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">Tantangan dunia pendidikan saat ini terletak pada mutu pendidikan dan sangat bergantung pada kualitas manajemen sekolah maupun kepemimpinan guru selaku pendidik. Karena itu, perlu adanya program keseinambungan yang mampu membangun karakter bangsa.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Dunamis Foundation, Andiral Purnomo. Karena itu, sebagai wujud nyata kontribusi bagi pengembangan kepemimpinan dan karakter anak-anak Indonesia, Dunamis Foundation menjalankan program ”Membangun Karakter dan Kepemimpinan sejak Dini menggunakan Pendekatan Sekolah secara Menyeluruh di Sekolah Dasar Standar Nasional 12 Bendungan Hilir”. Program ini didasarkan pada program &#8216;The Leader in Me&#8217; dari FranklinCovey Education Solution.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">Para anak didik akan belajar 7 perilaku melalui transfer </span></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><em>knowledge</em></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;"> dari para pendidik, tidak hanya sebagai materi ajar kurikulum, namun juga melalui teladan seluruh guru. Praktek-praktek kepemimpinan dan </span></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><em>7 Habits </em></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">dilaksanakan di dalam dan luar kelas. Selain itu, budaya kepemimpinan diselaraskan dengan sistem dan tradisi, lingkungan fisik, materi ajar/kurikulum hingga</span></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><em> lesson plan.</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">&#8216;Program The Leader in Me&#8217; telah terbukti berhasil diterapkan di berbagai sekolah, dengan pendekatan menyeluruh (</span></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><em>whole-school approach</em></span></span><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">). Ini memberikan kesempatan tidak hanya kepada siswa, melainkan juga kepada guru, manajemen sekolah hingga orang tua murid untuk memiliki karakter kepemimpinan melalui prinsip universal 7 Habits®. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">“<span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">Enam pilar pendukung pendekatan menyeluruh ini termasuk dengan pemberian keteladanan (modeling), lingkungan sekolah yang mendukung (environment : lihat-dengar-rasa), materi ajar/kurikulum, cara penyampaian (instruction), hingga sistem dan tradisi kepemimpinan yang diselaraskan dengan visi dan misi sekolah bersangkutan,” kata Andiral.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p id="yui_3_2_0_1_1318424541098318" style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span id="yui_3_2_0_1_1318424541098306" style="font-style: normal;">Menurut Andiral, sekolah dasar negeri mendominasi sekolah dasar di Indonesia namun Sekolah Dasar Negeri pada umumnya memiliki keterbatasan baik tenaga maupun dana dalam pengembangan sekolahnya, termasuk dalam hal pembentukan karakter anak didiknya. SDSN 12 Benhil sebagai sekolah dampingan Dunamis Foundation sejak 5 tahun terakhir ini. </span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;"><span style="font-size: small;"><span style="font-style: normal;">Sekolah tersebut dipilih karena SDN yang dipimpin oleh Ibu Murliati ini merupakan Sekolah Adiwiyata Mandiri atau lebih dikenal dengan Sekolah Hijau dan telah mampu membangun budaya di lingkungan sekolahnya dengan melibatkan semua komponen sekolah, mulai dari kepala sekolah, para tenaga pendidiknya, tenaga pendukung sekolah, perwakilan orang tua (komite sekolah) serta tentunya para anak didik SDN12 Bendungan Hilir.</span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/dunia-pendidikan-haus-manajemen-yang-berkualitas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah 10 Penyedia Program MBA Terbaik di Dunia</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/inilah-10-penyedia-program-mba-terbaik-di-dunia</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/inilah-10-penyedia-program-mba-terbaik-di-dunia#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2011 11:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellyzar Zachra P.B</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Program MBA]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=22400</guid>
		<description><![CDATA[TopMBA.com, salah satu sumber informasi bagi kandidat MBA dan sekolah bisnis, bekerja sama dengan The Aspen Institute, secara eksklusif membuat  <a href="http://swa.co.id/updates/inilah-10-penyedia-program-mba-terbaik-di-dunia">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;">TopMBA.com, salah satu sumber informasi bagi kandidat MBA dan sekolah bisnis, bekerja sama dengan The Aspen Institute, secara eksklusif membuat peringkat bagi program MBA paling berkualitas di seluruh dunia. Sekolah bisnis itu diidentifikasi berdasarkan bagaimana mereka mempersiapkan para siswa untuk terjun di dunia bisnis modern yang kompleks.</span></p>
<p style="margin-bottom:0in;">
<p style="margin-bottom:0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Hasil tersebut berdasarkan empat parameter diantaranya ketersediaan program belajar yang relevan (20%), keaktifan mahasiswa (25%), relevansi kursus dengan biaya yang dikeluarkan (30%) dan penelitian di fakultas tersebut (25%). penelitian itu melingkupi 149 sekolah bisnis di 22 negara. Sekolah harus mengadaptasikan kurikulum mereka untuk fokus pada proses pengambilan keputusan bisnis yang bertanggung jawab serta menghubungkannya dalam konteks lingkungan bisnis dan sosial,</span></p>
<p style="margin-bottom:0in;">
<p style="margin-bottom:0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Kesepuluh lembaga belajar bisnis terbaik itu adalah Stanford Graduate School of Business (Amerika Serikat), York University (Kanada), IE Business School (Spanyol), University of Notre Dame (Amerika Serikat), Yale School of Management (Amerika Serikat), Northwestern University (Amerika Serikat), University of Michigan (Amerika Serikat), Cornell University (Amerika Serikat), University of North Carolina (Amerika Serikat) dan UC Berkeley (Amerika Serikat).</span></p>
<p style="margin-bottom:0in;">
<p style="margin-bottom:0in;"><span style="font-family: ARial,sans-serif;">Sebagai catatan, Stanford Graduate School of Business berada di peringkat pertama dalam survei 2009 dan 2007, namun sempat jatuh ke peringkat 4 pada 2009. Mereka menjadi &#8216;sang raja&#8217; pada survei 2011. Selain itu, terjadi peningkatan jumlah siswa yang mengambil jurusan bisnis yaitu 34% di 2001, 63% di 2007, 69% di 2009 dan 79% di 2011. Terjadi pula peningkatan 60% siswa yang mengikuti program kewirausahaan sosial dari 2007 ke 2011. peneitian fakultas pun semakin beragam seperti resesi dan perubahan iklim yang berdampak pada dunia bisnis.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/inilah-10-penyedia-program-mba-terbaik-di-dunia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejak 2006 Astra dan Yayasan Pendidikan Astra Michael Ruslim Sumbang Rp 22 Miliar</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/sejak-2006-astra-dan-yayasan-pendidikan-astra-michael-ruslim-sumbang-rp-22-miliar</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/sejak-2006-astra-dan-yayasan-pendidikan-astra-michael-ruslim-sumbang-rp-22-miliar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 13:40:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eddy Dwinanto Iskandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Astra]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Ruslim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=21149</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata, kalau ditotal selama 5 tahun terakhir PT Astra International Tbk (“Astra”) melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D Ruslim (YPA-MDR) sebesar  <a href="http://swa.co.id/updates/sejak-2006-astra-dan-yayasan-pendidikan-astra-michael-ruslim-sumbang-rp-22-miliar">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata, kalau ditotal selama 5 tahun terakhir PT Astra International Tbk (“Astra”) melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D Ruslim (YPA-MDR) sebesar Rp 22 miliar. Bantuan berupa renovasi sekolah, pelatihan akademis dan juga berbagai pembinaan seni, budaya dan sebagainya itu tersebar di 3 lokasi yakni kawasan Leuwiliang-Bogor, Jawa Barat; Gedangsari – Gunung  Kidul, Pandak – Bantul, Yogyakarta serta Tanjungsari dan Merbau Mataram-Lampung Selatan, Lampung.  Rinciannya Rp 9,8 miliar untuk Yogyakarta, Rp 12 miliar untuk Jawa Barat dan Rp 200 juta untuk Lampung yang baru dimulai dengan  beberapa program pada tahun 2011 ini.</p>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">Sebagai pengelola, Astra dan YPA-MDR itu mengaku telah melakukan  pembinaan pada 28 sekolah, yaitu 24 SD, 3 SMP dan 1 SMK yang mempunyai 6.234 siswa dan 405  pendidik dan tenaga kependidikan. Adapun bantuan yang diberikan oleh Astra melalui YPA-MDR kepada sekolah-sekolah  binaan di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor sejak tahun 2006 berupa renovasi 8 sekolah meliputi 5 SDN, 2 SMPN dan 1 SMKN, yaitu : renovasi total SDN Karyasari 02 , renovasi SDN Karyasari 01, SDN Karyasari 03, SDN Pabangbon  01 dan SDN Hegarmanah.</div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">Program bantuan dilanjutkan ke  jenjang SMP pada akhir 2007, dan pada 25 Agustus 2008 dilakukan serahterima gedung SMPN 4  Leuwiliang dan SMPN 4 Leuwiliang – Kelas Jauh Karyasari dan sebagai jenjang terakhir dalam program  bantuan. Selain itu YPA-MDR melakukan pembangunan SMKN 1 Leuwiliang (rintisan) yang diserahterimakan kemarin, 27 Juli 2011.</div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">Adapun penyerahan dilakukan oleh Direktur PT Astra  International Tbk Gunawan Geniusahardja kepada Bupati Bogor H. Rachmat Yasin.  Dengan pembinaan secara intensif dari YPA-MDR, sekolah-sekolah binaan tersebut telah mampu meraih  predikat dan prestasi yang membanggakan, termasuk akreditasi sekolah berdasarkan Standar Nasional  Pendidikan (SNP),” ujar Arief Istanto <em>Chief of Corporate Communications</em> Astra.</div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">Adapun Gunawan Geniusahardja dalam rilis mengatakan, donasi ini merupakan perwujudan dari filosofi Astra Menjadi Aset yang Bermanfaat Bagi Bangsadan Negara” dan <em>corporate aim </em>Astra “ Sejahtera Bersama Bangsa” yang dilakukan melalui YayasanPendidikan Astra-Michael D. Ruslim dengan kegiatan antara lain membantu sekolah-sekolah di daerah</div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">tertinggal untuk turut meningkatkan pendidikan anak bangsa yang cerdas, mandiri, serta peduli untuk</div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">membangun daerahnya.</div>
<div id="yui_3_2_0_5_1311859750678155" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID">Adapun program YPA-MDR selanjutnya adalah membantu peningkatan kualitas SDM sekolah sehingga mampu  menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi secara akademis dan berkarakter baik serta siap untuk  bekerja secara mandiri setelah lulus SMK.</div>
<div style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/sejak-2006-astra-dan-yayasan-pendidikan-astra-michael-ruslim-sumbang-rp-22-miliar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lembaga Pendidikan Bisnis Sebarkan &#8216;Angin Segar&#8217;</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/lembaga-pendidikan-bisnis-sebarkan-angin-segar</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/lembaga-pendidikan-bisnis-sebarkan-angin-segar#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 08:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yurivito Kris Nugroho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sanpoerna]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[SSB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=19521</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran lembaga pendidikan tinggi yang mengkhususkan diri pada ilmu bisnis di Indonesia diklaim sebagai &#8216;angin segar&#8217; dalam dunia pendidikan dan  <a href="http://swa.co.id/updates/lembaga-pendidikan-bisnis-sebarkan-angin-segar">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-style: normal;">Kehadiran lembaga pendidikan tinggi yang mengkhususkan diri pada ilmu bisnis di Indonesia diklaim sebagai &#8216;angin segar&#8217; dalam dunia pendidikan dan pengembangan kualitas bangsa. Inilah yang menjadi visi bagi Sampoerna School of Business (SSB).</span></p>
<p>“<span style="font-style: normal;">Kami ingin menunjukkan keseriusan dalam memberikan yang terbaik bagi negeri dengan membangun sekolah bertaraf internasional. Lembaga ini tidak hanya fokus kepada Indonesia tetapi juga kawasan negara Asia Tenggara,” ujar Dekan Sampoerna School of Business (SSB) Peter Hwang.</span></p>
<p>Hal senada juga diungkapkan pengurus SSB lain. Untuk mencapai targetnya tersebut, SSB akan ditransformasi dari sekolah lokal <em>undergraduate university</em> menjadi lembaga riset yang berfokus pada perkembangan Asia Tenggara, tanpa melupakan kebutuhan mereka untuk meningkatkan reputasi institusi. “Kami juga tidak ingin lupa dengan organisasi inti. Kami tetap menghadirkan pemimpin yang fokus kepada tujuan,” kata Agung Binantoro, Direktur Program SSB.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Asia Tenggara menjadi fokus SSB karena kawasan ini menjadi salah satu pemegang kendali ekonomi dunia yang berkembang dan Indonesia menjadi salah satu yang berperan besar. Peter Hwang bahkan memprediksi pada 2015-2030, negara-negara di Asia Tenggara akan menjadi &#8216;pemain pasar&#8217; yang ditakuti.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Sebagai sekolah bertaraf internasional, Peter Hwang tidak hanya merekrut mahasiswa lokal tetapi juga Asia, seperti Cina dan Taiwan, serta Timur Tengah, Eropa dan Amerika. Untuk memenuhi tujuannya, Peter Hwang menghadirkan dosen dari luar negeri, membuat standar kerja internasional, menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian di lingkungan kampus dan memastikan SSB sebagai pusat penelitian di Asia Tenggara.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;">Meskipun target sekolah cukup tinggi, masalah bukan berarti tidak muncul. Salah satu kendala yang muncul adalah kesulitan dalam merekrut dosen luar negeri. Karena SSB baru berdiri, pihak sekolah harus meyakinkan dosen bahwa lembaga pendidikan mereka memiliki standar internasional. Peter Hwang juga tidak menutup kemungkinan adanya pertukaran pelajar dengan universitas lain.</p>
<p id="yui_3_2_0_3_1305966908891199" style="margin-bottom: 0in;">SSB juga ingin membuat para mahasiswa mempunyai pengalaman wirausaha. Pada akhirnya, mereka bisa bersaing di dunia sesungguhnya setelah lulus karena mempunyai kemampuan dan pengalaman berwirausaha. Mahasiswa dilatih untuk membuat proposal bisnis yang kemudian dapat dikembangkan, (Acha)</p>
<p>&#8211;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/lembaga-pendidikan-bisnis-sebarkan-angin-segar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prihatin Sistem Pendidikan Nasional, Dik Mendirikan Sekolah Alam</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/prihatin-sistem-pendidikan-nasional-dik-mendirikan-sekolah-alam</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/prihatin-sistem-pendidikan-nasional-dik-mendirikan-sekolah-alam#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 06:59:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sigit A. Nugroho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Dik Doang]]></category>
		<category><![CDATA[filantropi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=19055</guid>
		<description><![CDATA[Berangkat dari keprihatinan Dik Doank atas kondisi pendidikan di Tanah Air, mendorongnya untuk mendirikan Sekolah Alam Kandank Jurank Doank (KJD).  <a href="http://swa.co.id/updates/prihatin-sistem-pendidikan-nasional-dik-mendirikan-sekolah-alam">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Berangkat dari keprihatinan Dik Doank atas kondisi pendidikan di Tanah Air, mendorongnya untuk mendirikan Sekolah Alam Kandank Jurank Doank (KJD). Dia prihatin atas stigma pintar-bodohnya seorang anak berdasar dari kemampuan penguasaan ilmu eksakta, lahirnya generasi pintar akademis tapi tumpul secara praktis, serta sekolah formal yang hanya mencetak generasi penjiplak bukan pencipta. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Sesuai dengan namanya, KJD merupakan sekolah yang dilakukan di alam terbuka. Siswanya dibiarkan bersentuhan langsung dengan alam. Angin yang sesekali mendesau pada terik siang hari menjadi salah satu sarana belajarnya. “Kami kembalikan anak-anak ke tempat belajar sesungguhnya,” ujar pemilik nama asli Raden Rizky Mulyawan Kertanegara Hayang ini. Dik memandang pendidikan formal justru membuat anak-anak terkekang di dalam tembok tebal. Akibatnya, anak hanya akan mendapat teori tanpa melihat, apalagi mengerti proses yang terjadi di alam. Pola pendidikan seperti itu membuat anak kehilangan olah rasanya sebagai manusia. “Lihat saja hasil pembangunan, pola sosial yang terbentuk di kota besar. Itu semua akibat kakunya pendidikan formal,” tegasnya.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Maka, di KJD lebih dipentingkan soal olah rasa. Sebagai gambaran, seleksi masuk ke KJD adalah menggambar. Alasannya, menggambar merupakan dasar dari segala ilmu. “Pencipta pesawat itu menggambar pesawat dulu baru menghitung ukurannya,” kata dia. Tujuannya, untuk mendidik anak-anak sebagai generasi pencipta. Menggambar di sini bisa bebas atau tematis. “Yang pasti gambarnya bukan satu matahari di tengah gunung dengan sawah di bawahnya,” ujar Dik menyitir pelajaran menggambar di sekolah formal. Meski judulnya seleksi, nyatanya semua anak masuk ke KJD. “Yang penting mereka tidak nyontek,” kata ayah 3 anak ini. Materi di sekolah alam KJD selain menggambar ada menari, musik, teater. Meski sering melibatkan selebritas sebagai mentor, KJD tidak memungut biaya untuk sekolah alam ini.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Sekadar menengok ke belakang, KJD dirintis Dik sejak tahun 1993 di Angkasa Pura, Kemayoran. Kala itu siswanya hanya 9 sampai 14 anak. Kala itu dia memfungsikan pot-pot besar tanaman sebagai sarana sekolah alamnya. Lantas tahun 1997, dia pindah ke komplek Avita, Sawah Baru, Ciputat. Lokasinya bersebelahan dengan rel kereta Serpong-Tanah Abang dan jalan tol. Tempat itu difungsikan sebagai sarana sekolah. Awalnya, sekolah alam KJD berlangsung di jalanan rumah Dik. “Lama-lama Allah mempercayakan tanah di depan rumah untuk saya kelola,” ujar Dik. Jadilah komplek KJD meluas hingga 2 hektar.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Hamparan tanah berilalang itu pelan-pelan dipermak untuk fasilitas KJD. Secara bertahap dibangun hingga sekarang KJD punya fasilitas Lapank Doank 800 orang, Kampunk Doank 450 orang, Perpustakaan Doank 70 orang, Kandank Jurank Doank 500 orang. Juga ada panggung, musholla, studio, kolam ikan, arena bermain, Kelas A dan Kelas B, dan Kolesium yang bisa menampung kurang lebih 600 orang. Aneka rupa fasilitas itu dapat diakses siapa saja secara gratis oleh peserta didik yang kebanyakan anak kampung dari keluarga kurang mampu. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Dari manakah dana untuk membangun ini semua? “Semua dibangun bertahap. Semakin kita mengurus orang tidak mampu, Allah akan mengurus kita,” ujar murid spiritual Emha Ainun Nadjib. Menurutnya, KJD dibangun dengan uang pribadi Dik. Dia tidak lagi memperhitungkan berapa prosentase dana pribadi untuk aktivitas sosial. Porsinya bisa lebih besar untuk kegiatan sosial ketimbang untuk pribadi. Sebagai seorang muslim dirinya memperlakukan aktivitas sosial sebagai sedekah atau zakat. Dia menggunakan filosofi lima jari untuk menganalogikan rukun Islam. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Sebagai salah satu bukti, di areal KJD seluas 2 hektare itu, rumah pribadi Dik hanya 100-an meter saja. Dia percaya kesejahteraan keluarga akan terbawa seiring semakin banyak dia mensejahterakan orang lain terlebih dulu. “Dalam ucapan Basmallah. Kata ‘rahman’ lebih dulu dibanding  ‘rahim’,” ujar dia. Dik kini lebih sering diundang ke berbagai belahan dunia untuk berbicara soal agama ini. </span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Pada perkembangannya, KJD juga punya area outbound dengan fasilitas flying fox, perahu kampret, jembatan goyang, dan lain-lain. Kalau sekolah alam gratis, khusus untuk outbound dapat disewakan baik perorangan maupun berkelompok dengan harga di kisaran Rp 100 ribuan. Ihwal ini, Dik juga mengaku tidak pernah memperhitungkan soal untung-rugi. “Kalau mau main gratis ya bisa saja. Hasil dari persewaan itu juga untuk pemeliharaan dan kembali ke anak-anak lagi,” kata ambassador beberapa merek ini. Tidak ada maksud bisnis di sini.</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span>Meski mengaku tidak ada donator tetap setiap bulan atau tahun, Dik mengaku pernah mendapat dukungan dari PT Holcim Indonesia yang membangunkan Museum Karya Pustaka di komplek KJD. Dia juga pernah dipercaya Samsung Hope untuk mengelola dana US$ 10 ribu. Namun, satu yang pasti, Dik tidak mau dibebani dengan semacam laporan pertanggung jawaban soal dana yang sudah didonasikan ke KJD. “Karena kita tidak mengandalkan siapapun, kecuali pada cinta dalam hati kita untuk menjadi generasi berilmu,” pungkasnya. (EVA)</span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/prihatin-sistem-pendidikan-nasional-dik-mendirikan-sekolah-alam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BINUS Menghasilkan Lulusan Bukan Sekadar Pintar, tapi Juga Inovatif</title>
		<link>http://swa.co.id/updates/binus-menghasilkan-lulusan-bukan-sekadar-pintar-tapi-juga-inovatif</link>
		<comments>http://swa.co.id/updates/binus-menghasilkan-lulusan-bukan-sekadar-pintar-tapi-juga-inovatif#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 01:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herning Banirestu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Updates]]></category>
		<category><![CDATA[Binus]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=18899</guid>
		<description><![CDATA[Firdaus Alamsjah, Ph.D mengatakan, untuk menghasilkan lulusan (S1 dan S2) terbaik, harus ditunjang oleh dosen terbaik. Ia menganalogikan dosen seperti  <a href="http://swa.co.id/updates/binus-menghasilkan-lulusan-bukan-sekadar-pintar-tapi-juga-inovatif">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Firdaus Alamsjah, Ph.D mengatakan, untuk menghasilkan lulusan (S1 dan S2) terbaik, harus ditunjang oleh dosen terbaik. Ia menganalogikan dosen seperti juru masak. “Jika juru masak bagus hasil masakan pun enak. Demikian bila dosennya bagus, maka lulusan pun bagus,” ujarnya. E<em>xecutive Dean</em> Binus Business School, itu.</p>
<p>Dosen memiliki dua syarat: <em>academically qualified </em>dan <em>professionally qualified.</em> <em>Academically qualified </em>artinya dosen BINUS harus lulusan dari sekolah terbaik, setidaknya lulusan 500 perguruan tinggi terbaik di dunia. Dosen jjuga harus punya pengalaman kerja yang sesuai dengan apa yang akan diajarkan. Secara akademik, dosennyaa harus memiliki kemampuan riset yang mumpuni.</p>
<p>“Selain dosen, kami juga memperhatikan konten yang akan diberikan ke mahasiswa. Dosen bagus akan men-<em>deliver</em> konten yang bagus,” terangnya. Ini tergantung lulusan seperti apa yang akan dihasilkan di tiap jurusan atau program studi.</p>
<p>Lulusan BINUS bukan sekadar pintar namun juga inovatif. Budaya inovatif ini tidak bisa dibangun sehari dua hari, khusus S2 di BINUS Business School, ada mata kuliah yang dikaitkan dengan inovasi. Jadi, tiap mata kuliah, ada bagian dimana mahasiswa harus mengembangkan project dan terobosan baru yang menunjukan inovasi baru.</p>
<p>Bagi S1 di BINUS, mereka harus mengerjakan proyek bersama temannya untuk tugas akhir yang tiap orang memiliki tanggung jawab seperti peran di perusahaan. Ada yang memegang keuangan, ilmu komputer, produksi, pemasaran dan sebagainya. Bukan sekadar skripsi yang dikerjakan individual. Jadi sudah diajarkan bekerja dalam tim seperti halnya di perusahaan.</p>
<p>“Kami menyiapkan lulusan yang siap bekerja di perusahaan multinasional,” klaim Firdaus. Belum lama ini pihaknya melakukan survei pada alumni lebih dari 80% lulusan BINUS terserap di dunia kerja. Malahan jurusan akunting belum lulus sudah diminta perusahaan, kebanyakan big 5 perusahaan audit seperti Ernst &amp; Young dan Price Waterhouse Cooper.</p>
<p>Perlu diketahui, bahwa BINUS dalam memilih jurusan yang ditawarkan berpatokan pada betapa Indonesia yang kuat di industri kreatif. Maka itu beberapa jurusan S1 nya meliputi bidang yang terkait dengan industri kreatif, seperti fashion design, marketing design, bahkan ada jurusan film. “Kelebihan BINUS ada di Teknologi Informasi (TI). Tentu kami menghasilkan sutradara yang kuat kemampuannya di film yang memiliki latar belakang teknologi,” ujarnya mengklaim.</p>
<p>Tentang kesenjangan antara dunia kerja dengan pendidikan, Firdaus menggunakan data survei yang belum lama ini dilakukan pihaknya. Bahwa menurut 1.800 responden yang merupakan lulusan BINUS yang telah bekerja baik S1 maupun S2, kala ditanyakan apakah yang dipelajari di BINUS berhubungan atau tidak dengan pekerjaan yang digelutinya sekarang. Ternyata, data survei menunjukan yang menyatakan tidak berhubungan hanya 20%, sedang yang menyatakan berhubungan 80%.</p>
<p>Artinya lulusan BINUS menggunakan ilmunya secara maksimal dari yang didapatnya kala kuliah, karena apa yang dipelajarinya kala di kampus berhubungan dengan dunia kerjanya.</p>
<p>Hal ini juga dikarenakan BINUS menyediakan fasilitas Student and Alumni Relation. Fasilitas ini membantu meminimalisasi gap antara dunia kerja dengan kuliah. “Kami coba siapkan sebelum mereka lulus get ready to work, mulai dari membuat CV hingga interview,” terangnya.</p>
<p>BINUS juga dikenal sebagai kampus yang menelurkan banyak technopreneur, mereka yang bisa menjadikan bisnis dengan latar belakang teknologi. “Salah satu alumni kami, namanya Chris Antony jurusan Computer Science ada yang menghasilkan game online yang dimainkan 60 juta orang di seluruh dunia,” ujarnya.</p>
<p>Seperti perguruan tinggi lain BINUS juga menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan industri dan universitas di luar negeri. “Kami juga ada double degree program, setahun di partner,” katanya. Partner universitas yang diajak kerjasama bukan saja yang bagus semata namun juga sejajar dengan lulusan BINUS. Mereka mengakui mata kuliah yang diberikan BINUS juga, jadi BINUS punya international quality program.</p>
<p>Kerja sama dengan industri dilakukan melalui proyek-proyek riset. “Kami rutin lakukan kegiatan CEO Speaks, Knowledge Sharing, Executive Education,” ujarnya. Executive Education bentuknya pelatihan untuk para eksekutif. Dengan dosen berani memberikan pelatihan eksekutif untuk korporat bisa lebih percaya diri kala mengajar di kelas mahasiswa. “Beda <em>lho </em>ngajar eksekutif dan mahasiswa, sebab eksekutif lebih berpengalaman,” katanya sambil menyebut ada 40an dosen S1 dan S2. BINUS juga punya consulting unit yang menangani konsultasi korporasi untuk bidang TI dann Manajemen.</p>
<p>Untuk membuka peluang berkarir di perusahaan global, pihaknya rutin mengadakan bursa kerja. “Kami membuka <em>Fortune Global 500 Company Carrier Marathon Day</em>,” ujarnya. Jadi perusahaan-perusahaan dengan reputasi global akan masuk dalam hari karier di kampus BINUS.</p>
<p>Firadaus yakin bahwa lulusan BINUS adalah lulusan yang percaya diri. Ini dikarenakan mereka sangat siap bekerja di lingkungan kerja yang juga internasional setelah menimba ilmu di BINUS. Karena BINUS mempersiapkan lulusan yang berstandar internasional, sehingga ketika bekerja di perusahaan lokal berstandar internasional atau multinasional, para lulusan sudah siap pakai. (EVA)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/updates/binus-menghasilkan-lulusan-bukan-sekadar-pintar-tapi-juga-inovatif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Microsoft Live@Edu Sediakan Software Murah untuk Pendidikan</title>
		<link>http://swa.co.id/corporate/csr/microsoft-liveedu-sediakan-software-murah-untuk-pendidikan</link>
		<comments>http://swa.co.id/corporate/csr/microsoft-liveedu-sediakan-software-murah-untuk-pendidikan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 10:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eva Martha Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=17690</guid>
		<description><![CDATA[Peran, fungsi dan pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam dunia pendidikan tidak dapat ditawar lagi. Menurut Mutia Nandika, Education Lead PT  <a href="http://swa.co.id/corporate/csr/microsoft-liveedu-sediakan-software-murah-untuk-pendidikan">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peran, fungsi dan pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam dunia pendidikan<br />
tidak dapat ditawar lagi. Menurut Mutia Nandika, Education Lead PT Microsoft<br />
Indonesia, kini keberadaan dan penggunaan TI dalam sebuah institusi pendidikan<br />
diposisikan dan dipakai sebagai penentu kualitas pendidikan.</p>
<p>Lembaga riset dan analis Gartner memproyeksikan bahwa  tahun 2020, sebanyak 60% dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi akan mentransformasikan seluruh sistemnya menjadi secara online. Bergeraknya dunia pendidikan menuju era sekolah digital abad ke-21 ditandai dengan semakin tingginya tuntutan siswa akan akses tak terbatas pada informasi, kapan pun dan di mana pun.</p>
<p>Saat ini terdapat sekitar 165 ribu sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar<br />
hingga Sekolah Menengah Atas dan sebanyak 4.500 universitas yang tersebar di<br />
seluruh di Indonesia. Total jumlah siswa di seluruh Indonesia mencapai 45 juta<br />
orang. Secara global di tahun 2015, angka siswa yang duduk di tingkat perguruan<br />
tinggi diperkirakan mencapai 250 juta orang.</p>
<p>“Jumlah angkatan siswa di Indonesia merupakan potensi besar yang harus diasah<br />
sejak dini, termasuk mendukung dengan penyediaan teknologi, di mana Microsoft<br />
berperan sebagai mitra setia, “Mutia menambahkan. Microsoft memiliki visi untuk<br />
mewujudkan masyarakat yang inovatif dan berbasis ilmu pengetahuan. Itulah<br />
sebabnya Microsoft bertekad untuk menjadi mitra ekosistem yang terus bertumbuh<br />
untuk mendukung pencapaian visinya tersebut.</p>
<p>Melalui bendera Microsoft Education, Microsoft setia melayani masyarakat dan<br />
dunia pendidikan di seluruh siklus masa edukasi. Microsoft Education adalah<br />
sebuah program jangka panjang yang terdiri dari berbagai inisiatif yang<br />
mendukung dunia pendidikan, antara lain program DreamSpark yang menyediakan<br />
software-software pilihan bagi kegiatan belajar-mengajar, pendirian Microsoft<br />
Innovation Center di lingkungan kampus, program kompetisi Imagine Cup individu<br />
berbakat, program BizSpark yang membuka pengetahuan serta memberi kesempatan bagi mahasiswa meraih cita-citanya berwiraswasta, program WebsiteSpark, program Live@Edu yang mendukung proses komunikasi dan kolaborasi serta kegiatan pembinaan dan pengembangan sumberdaya pengajar profesional melalui program Partners in Learning (PIL). Seluruhnya sebagai salah satu bentuk komitmen bagi perkembangan pendidikan nasional.</p>
<p>&#8220;Microsoft PiL sangat membuka wawasan, jaringan dan komunikasi untuk dapat<br />
saling berbagi informasi sekaligus sebagai pembelajaran antar guru secara<br />
global, sehingga menumbuhkan semangat guru bagai bola salju yang terus meluncur dan menjadi kekuatan yang lebih besar untuk berkreasi serta berinovasi di dalam proses pendidikan,” ungkap Bakrowi Jumiran, guru IPA SMP Nasional KPS<br />
Balikpapan.</p>
<p>Microsoft Live@Edu yang diperkenalkan sejak tahun 2007 adalah sebuah paket<br />
perangkat online yang diberikan pada institusi pendidikan untuk memberdayakan<br />
pendidik dan siswa untuk melakukan yang terbaik dalam berinteraksi,<br />
berkolaborasi dan belajar. Solusi ini juga membantu menciptakan, menyimpan,<br />
mengubah, menyebarluaskan dan menggunakan informasi dalam segala bentuknya.</p>
<p>Setiap guru dan murid akan diberikan sebuah Windows Live ID yang akan membuka akses mereka kepada outlook Live sebesar 10GB yang memungkinkan mereka untuk saling terhubung dan berkomunikasi; 5GB Office Live Workspace untuk menyimpan,  mengakses, berbagi serta bekerja dengan dokumen dan data secara kolaboratif; kapasitas Sky Drive sebesar 25GB untuk menyimpan data-data mereka; kesempatan bagi mereka pun dapat menikmati seluruh fitur-fitur Windows Live dan juga akses kepada Dreamspark.Com. “Semuanya dapat dimiliki oleh organisasi pendidikan dengan biaya 86% lebih rendah daripada harga komersil umum,” imbuh Siti Wulandari, Education Industry Marketing Manager, PT Microsoft Indonesia.</p>
<p>Bakrowi menambahkan, program-program Microsoft, termasuk Live@Edu, sungguh<br />
membantu siswa untuk dapat melek teknologi dan aktif menggunakannya sehari-hari. Penyediaan teknologi terkini dengan biaya yang sangat terjangkau dengan dukungan total oleh Microsoft, membuat sekolah dan universitas merasa sangat terbantu dalam meningkatkan daya kerja siswa dan mempersiapkan mereka sebagai angkatan kerja yang profesional.”</p>
<p>Lebih jauh Ndari menerangkan bahwa saat ini Microsoft Live@Edu telah diadaptasi<br />
oleh lebih dari 90 institusi pendidikan Indonesia dan digunakan oleh lebih dari<br />
130 ribu siswa. Sekolah dan perguruan tinggi yang juga telah mengaplikasikannya<br />
antara lain adalah Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jakarta, Politeknik Telkom, Universitas Terbuka, Universitas Nasional, SMAN 3 Medan dan SMAN 1 Binjai.</p>
<p>Microsoft Live@Edu menunjukkan pertumbuhan luar biasa; dari jumlah universitas<br />
yang bisa dihitung dengan jari di tahun 2005 menjadi lebih dari 4000 institusi<br />
pengguna saat ini. Microsoft Live@Edu didukung oleh upaya promosi global dan<br />
telah diaplikasikan di lebih dari 100 negara. “Microsoft percaya bahwa pertumbuhan inovasi teknologi, pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Ini semua berangkat dari sekolah yang mana semua orang menuntut ilmu,” Ndari menegaskan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/corporate/csr/microsoft-liveedu-sediakan-software-murah-untuk-pendidikan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

