<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SWA.co.id &#187; Seth Godin</title>
	<atom:link href="http://swa.co.id/tag/seth-godin/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://swa.co.id</link>
	<description>SWA Online</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 10:50:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Jadilah Seorang Seniman!</title>
		<link>http://swa.co.id/business-strategy/book-review/jadilah-seorang-seniman</link>
		<comments>http://swa.co.id/business-strategy/book-review/jadilah-seorang-seniman#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 04:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambi Dwi Indrio M</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[cogs]]></category>
		<category><![CDATA[linchpin]]></category>
		<category><![CDATA[Richard Branson]]></category>
		<category><![CDATA[Seth Godin]]></category>
		<category><![CDATA[Virgin Air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://swa.co.id/?p=13555</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Linchpin: Are You Indispensable? Penulis : Seth Godin Penerbit : Piatkus, London, Inggris, Januari 2010 Tebal : x  <a href="http://swa.co.id/business-strategy/book-review/jadilah-seorang-seniman">...More&#187;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Judul		:   Linchpin: Are You Indispensable?<br />
Penulis		:    Seth Godin<br />
Penerbit	:    Piatkus, London, Inggris, Januari 2010</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Tebal		:    x + 244 halaman</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Apa yang akan Anda lakukan jika penerbangan Anda secara mendadak dibatalkan, padahal Anda sudah berada di bandara dan tidak ada penerbangan lain menuju ke kota tujuan Anda pada hari itu?<br />
Mungkin, setelah marah-marah kepada staf maskapai penerbangan yang bersangkutan, Anda akan langsung pulang ke rumah atau menginap di hotel untuk menunggu penerbangan pada hari berikutnya. Anda juga akan menelepon keluarga atau sejawat di kota tujuan, memberitahukan bahwa kedatangan Anda tertunda selama satu hari. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Namun, bukan itu yang dilakukan seorang Richard Branson muda. Empat puluh tahun lalu, Branson pernah mengalami kejadian serupa. Ia sudah berada di bandara Puerto Rico, hendak menuju ke Virgin Islands. Tiba-tiba, ada pemberitahuan bahwa penerbangan tersebut dibatalkan. Padahal, penerbangan itu adalah penerbangan satu-satunya menuju Virgin Islands pada hari tersebut. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;"><br />
Bukannya marah-marah, Branson malah segera menuju ke tempat penyewaan pesawat yang ada di dekat situ dan menanyakan biayanya. Setelah itu, ia menghitung sebentar, lalu meminjam papan tulis dan menuliskan â€œKursi ke Virgin Islands, $39â€. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Dengan membawa papan tulis tersebut, Branson kembali ke tempat tunggu para penumpang yang sama-sama dibatalkan penerbangannya tadi. Tak pelak, tawaran dari Branson ini pun menarik minat banyak orang. Akhirnya, biaya penyewaan pesawat bisa tertutupi, dan Branson pun bisa berada di Virgin Islands tepat pada waktunya. Pengalaman ini pulalah yang di kemudian hari menginspirasi Branson untuk mendirikan maskapai penerbangan Virgin Air.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Inilah salah satu kisah inspiratif yang ada dalam buku Linchpin: Are You Indispensable? karya Seth Godin, penulis dan pembicara terkemuka dalam dunia bisnis. Secara garis besar, Godin memang menggugah pembaca buku ini untuk menjadi seniman: seseorang yang berpikir dan bertindak orisinal, kreatif, memiliki gairah yang kuat (passionate), berani mengambil risiko, mampu menyelesaikan persoalan, serta mampu menggugah atau memengaruhi orang lain.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Makna seniman di sini bukan hanya mengacu kepada pelukis, pematung, musisi, penulis atau sutradara film. Seorang pengusaha seperti kisah Richard Branson di atas, insinyur, bankir, pramugari, pelayan kedai kopi atau pembuat kue juga bisa disebut seniman jika ia punya karakter seperti disebut di atas.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Karena itulah, bagi Godin, para pelukis yang mampu membuat lukisan yang sangat indah belum bisa disebut seniman jika karya mereka tidak orisinal atau malah mengerjakan karya reproduksi, serta juga tidak mampu menggugah hati orang yang melihatnya. Walaupun sangat tekun, terampil dan berbakat, mereka bukanlah seniman. Mereka hanyalah â€œcogsâ€.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Istilah cogs mengacu kepada mereka yang bekerja secara rutin, hanya mengikuti prosedur dan perintah, serta tidak berani mengambil inisiatif. Walaupun sebenarnya merasa tidak nyaman &#8212; karena itulah ada istilah Thank God It&#8217;s Friday  &#8212; karyawan seperti ini sudah merasa pasrah terhadap situasi yang ada. Orang-orang seperti ini setiap saat bisa digantikan oleh orang lain (dispensable).</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;"><br />
Sebaliknya, ada pula orang-orang yang memiliki karakter seniman yang mampu mengubah masa depan sebuah perusahaan atau organisasi. Para seniman ini juga mampu menyatukan organisasi tersebut. Mereka termasuk orang-orang yang langka: sangat sulit atau bahkan tidak bisa digantikan oleh orang lain (indispensable). Mereka inilah yang disebut â€œlinchpinâ€.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Sayangnya, saat ini cogs jauh lebih banyak daripada linchpins. Godin menguraikan bahwa situasi yang ada di dunia kerja saat ini berawal lebih dari dua ratus tahun lalu, saat Adam Smith menulis karya klasiknya Wealth of Nations yang memperkenalkan sistem produksi barang yang efisien. Pada awal abad ke-20, pendekatan efisiensi ini semakin diperkuat oleh Henry Ford yang memperkenalkan sistem produksi massal pada pabrik pembuatan mobilnya. Kehadiran pabrik ini membutuhkan pekerja yang tidak terlalu terampil dan berpendidikan tidak terlalu tinggi, sehingga lebih mudah diatur dan diupah dengan gaji yang rendah.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Hal ini terus terjadi sampai saat ini. Menurut Godin, apa yang disebut pabrik bukan sekadar tempat perakitan mobil dengan seperangkat mesin dan karyawan kerah birunya. Pabrik adalah sebuah organisasi yang pekerjaannya bisa direncanakan, dikendalikan dan diukur. Orang yang ada di dalamnya cukup melakukan apa yang diperintahkan, dan sebagai imbalannya mereka akan menerima gaji. Karyawan sudah tahu apa yang akan mereka lakukan sepanjang hari itu, walaupun saat itu masih pagi hari. Karena itulah, yang disebut pabrik juga bisa berwujud kantor bank, kedai makanan siap saji ataupun hotel. Pabrik seperti inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian dunia selama lebih dari satu abad terakhir.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Dalam sistem ini, tujuan utamanya adalah membuat angka percentage of easily replaced laborers (PERL) setinggi mungkin. Tentu saja jika PERL-nya tinggi, pengusaha bisa membayar karyawannya dengan lebih murah. Jika bayarannya murah, tentu saja keuntungan keuangan yang didapat bisa lebih besar. Inilah yang terjadi di hampir semua perusahaan saat ini.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Namun, sekarang situasinya sudah berubah. Godin menjelaskan bahwa dunia kerja tidak lagi terdiri dari kalangan pemilik modal dan kaum buruh semata. Saat ini sudah ada kelompok ketiga, yaitu linchpin tadi. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Berkat kehadiran teknologi Internet dan telekomunikasi bergerak, akses ke modal keuangan dan kemampuan menjalin jejaring tidak lagi hanya dimiliki para pemilik modal besar. Apa yang disebut sebagai alat produksi bukan lagi hanya pabrik dan mesin, tetapi juga komputer jinjing dengan koneksi Internetnya. Para linchpin memiliki kekuasaan dan kendali yang tidak kalah dibandingkan para pemilik modal.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Selain itu, para pengusaha juga semakin menyadari bahwa untuk keberlangsungan hidupnya mereka membutuhkan orang-orang yang benar-benar bernilai (valuable), bukan lagi sekadar orang yang bisa diperintah dan dibayar murah. Hanya para linchpin-lah yang mampu menyelamatkan perusahaan ketika sedang mengalami krisis.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Maka, dengan adanya kombinasi antara peluang dan kebutuhan inilah peran para linchpin akan semakin penting dalam dunia bisnis di masa depan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;"><br />
Para linchpin ini akan mampu bertindak kreatif dan tetap gigih untuk menyelesaikan sebuah permasalahan ketika orang lain sudah menyerah. Mereka tidak sekadar berbeda, tetapi tetap berpijak pada kenyataan. Karena itulah, Godin tidak sependapat dengan istilah â€œberpikir di luar kotakâ€. â€œDi luar kotakâ€ hanya ada ruang kosong, tidak ada kenyataan, tidak ada interaksi. Menurut Godin, istilah yang lebih tepat adalah â€œberpikir di sepanjang garis batas kotakâ€ (think along the edges of the box), tempat kita bisa menuangkan kreativitas semaksimal mungkin dengan tetap melihat kenyataan yang ada.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Selain itu, Godin juga menekankan bahwa kreativitas yang dimaksudnya bukanlah sekadar berbusana warna merah jambu di sebuah tempat kerja yang busana standarnya berwarna biru dan putih. Ini bukan kreativitas. Ini hanyalah â€œwindow dressingâ€.</span></span></p>
<p>Lebih jauh lagi, Godin mengemukakan bahwa seorang linchpin bahkan mungkin tidak perlu mengirimkan ringkasan latar-belakang pendidikan dan pengalaman kerja (resume) sama sekali jika ia tertarik bergabung ke sebuah organisasi. Resume malah bisa menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Seorang linchpin cukup menunjukkan hasil karyanya yang benar-benar bisa dilihat, memperlihatkan rekomendasi dari orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, atau meminta organisasi yang bersangkutan untuk meng-googling namanya dan melihat apa saja yang telah dikerjakannya selama ini. Semua ini akan lebih jujur daripada sebuah resume.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Memang, dalam bukunya ini Godin cukup provokatif. Ia menggugah pembacanya untuk memikirkan ulang semua hal yang ada dalam dunia kerja saat ini. Membaca buku ini mau tidak mau akan membuat kita teringat kepada buku Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire pada 1970-an, film Dead Poets Society dari Hollywood pada awal 1990-an, dan film 3 Idiots dari Bollywood yang sekarang masih ditayangkan di salah satu jaringan bioskop. Semuanya sama-sama mempertanyakan paradigma yang sekarang ada dan menawarkan paradigma baru. Bedanya, ketiga karya tersebut berlatar belakang dunia pendidikan, sedangkan buku Godin ini berlatar belakang dunia kerja.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Pemikiran Godin ini memang cukup mendasar dan serius. Walaupun demikian, Godin mampu meramunya dengan bahasa dan alur yang cukup sederhana sehingga mudah dimengerti oleh siapa pun. Godin juga melengkapi tulisannya ini dengan beragam kisah pendek dan ilustrasi. Selain kisah Richard Branson, ada juga kisah keberhasilan Alan Mulally yang mampu menyelamatkan Ford, kisah kegagalan Rick Wagoner menyelamatkan General Motor (GM), kisah Mechanical Turk dari Amazon.com, kisah surat kabar The Huffington Post, kisah Jean-Baptiste Colbert yang hidup pada masa pemerintahan Raja Louis XIV di Prancis tahun 1600-an yang berperan menjadikan produk-produk mewah dari Prancis dikenal luas, dan masih banyak lagi. Semua ini membuat kita semakin mudah memahami pemikiran-pemikiran Godin.<br />
</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">Mudah-mudahan akan semakin banyak orang yang menjadi seniman, menjadi linchpin. Seperti kata Godin sendiri, â€œNow, success means being an artist.â€</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: small;">*) Peresensi adalah peminat buku, sedang bertempat tinggal di Bali.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://swa.co.id/business-strategy/book-review/jadilah-seorang-seniman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

