Home » Technology » Antrean dan Klaim Lancar, Pasien pun Senang

Antrean dan Klaim Lancar, Pasien pun Senang

Share :

    Guna meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan dalam antrean dan penagihan klaim bagi peserta program Askes (asuransi kesehatan) dan rumah sakit mitranya, PT Askes mengembangkan layanan berbasis teknologi Web services. Seperti apa proses dan manfaatnya?

    Seorang pria tambun setengah baya tampak tergopoh-gopoh mendatangi meja administrasi RS Hasan Sadikin, Bandung. Tujuannya bisa diduga: mengurus proses pengobatan. “Untuk pembayarannya, saya menggunakan kartu Askes,” ucapnya. Setelah melakukan pendataan, pegawai administrasi rumah sakit itu berkata, “Untuk mengurus proses selanjutnya, bapak mesti ke loket Askes dan loket medical record.”

    Pindah dari satu loket layanan ke loket layanan lain tampaknya telah menjadi tahap baku yang mesti dilalui para peserta Askes ketika akan berobat di rumah sakit (RS) rujukannya. Tak mengherankan, proses itu memakan waktu cukup lama. Apalagi, peserta Askes harus antre. “Tetapi, itu cerita masa lalu lho,” kata Kemal Imam Santoso, Wakil Dirut dan CIO PT Askes (Persero). “Sekarang, prosesnya hanya butuh waktu dua menit, karena SIM (Sistem Informasi Manajemen) PT Askes dan SIM RS sudah terintegrasi secara real-time dengan mamanfaatkan teknologi Web services,” lanjutnya dengan bersemangat.

    Menurut Kemal, sebagai upaya meningkatkan kecepatan dan ketepatan layanan — baik kepada peserta Askes maupun provider layanan kesehatan (RS) — pihaknya mengembangkan layanan online dengan memanfaatkan aplikasi Web-based di atas platform Java. “Proyek integrasi sistem itu dinamakan Bridging System, dengan tujuan menjalankan electronic data processing antara PT Askes dan RS mitranya,” ujarnya menjelaskan.

    Pengembangan aplikasi Bridging System dilakukan secara in-house. “Pemilihan jenis teknologi Java, karena kemampuannya berinteraksi dengan platform lain atau bersifat multi-platform. Teknologi Java ini mampu mendukung pengembangan sistem secara lebih terstruktur dengan biaya pengembangan jauh lebih murah, karena tidak terikat dengan lisensi produk software,” papar Yaddy Mulyadi, Kepala Divisi Informasi PT Askes. Untuk pengembangan aplikasi yang sangat fungsional ini, PT Askes hanya mengeluarkan dana Rp 750 juta. Dana itu digunakan untuk melengkapi sarana dan prasarana, seperti komputer, printer, TV LCD, pemasangan jaringan virtual private network (VPN), pemasangan infrastruktur pendukung jaringan komunikasi data, server dan bimbingan teknis.

    Dijelaskan Yaddy, aplikasi Bridging System terdiri dari dua bagian utama. Pertama, Sistem Antrean Terpadu, yakni sistem informasi terintegrasi yang diarahkan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sistem antrean bagi peserta Askes. Caranya dengan otomasi alur proses dan penyajian informasi strategis yang dibutuhkan peserta pada saat berobat. Dengan begitu, kenyamanan peserta dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan dapat meningkat secara signifikan. Kedua, Sistem Penagihan Klaim Terpadu, yakni sistem informasi yang terintegrasi dengan konsep end-to-end dalam proses adminitrasi pelayanan kesehatan bagi peserta Askes. Ini mencakup mulai dari proses pendaftaran, pencatatan transaksi pelayanan kesehatan, sampai dengan pembayaran klaim pelayanan kesehatan bagi peserta Askes.

    Aplikasi Bridging System, menurut Yaddy, terdiri dari beberapa modul. Pertama, modul pendaftaran peserta/pasien, yang berfungsi memasilitasi validasi data peserta Askes secara online ke database terpusat (selanjutnya, identitas peserta dikirim ke SIM RS dengan teknologi Web services untuk dipergunakan dalam proses pencatatan pelayanan kesehatan dan klaim secara individual). Kedua, modul administrasi pelayanan kesehatan di poliklinik dan fasilitas penunjang medis (laboratorium, radiologi, tindakan medis, dan sebagainya) pada SIM RS, buat mengirimkan data individual secara online ke SIM Askes untuk setiap detail data pelayanan yang dicatat. Ketiga, modul verifikasi klaim, yang menyediakan fasilitas verifikasi secara online berdasarkan data yang dikirim dari SIM RS.

    Keempat, modul penagihan klaim, dengan cara pengiriman data tagihan secara batch dari RS ke pusat data PT Askes berdasarkan data hasil verifikasi yang telah disetujui RS dan PT Askes. Kelima, modul Decision Support System dan sistem antrean, yang berfungsi memfasilitasi proses monitoring pelayanan kesehatan di RS secara online yang mampu menyediakan informasi terkait dinamika kunjungan dan traffic tujuan perawatan. Dan, keenam, modul administrasi pembayaran klaim di kantor cabang PT Askes, untuk memfasilitasi administrasi pencatatan keuangan dan pembayaran klaim ke rekening RS.

    Implementasi teknologi berbasis Web Services ini dilakukan pada pertengahan 2008. RS yang sudah menjalin kerja sama dengan Askes untuk mengimplementasikan layanan Web Services ini adalah RS Sanglah, RS Hasan Sadikin dan RS Wahidin Makassar.

    Pengembangannya dilaksanakan dengan pola/konsep Joint Application Development antara PT Askes dan Unit Teknologi Informasi tiap RS mitra. Stakeholders pengembangan sistem yang terlibat meliputi manajemen PT Askes kantor pusat, kantor regional, kantor cabang, plus manajemen RS mitra PT Askes.

    Tahapan implementasi dimulai dengan integrasi data Surat Jaminan Pelayanan (melalui kesepakatan parameter Web services, pengembangan aplikasi Web services, desain integrasi, coding dan uji coba), integrasi pelayanan kesehatan (melalui mapping jenis pelayanan/tindakan hingga uji coba aplikasi Web services terhadap hasil mapping jenis pelayanan/tindakan) serta implementasi. “Monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan pekerjaan dilaksanakan secara bersama-sama antara seluruh stakeholder yang terlibat dan dilaksanakan secara periodik,” ujar Yaddy.

    Bagaimana alur kerjanya? Dijelaskan Yaddy, ketika peserta Askes datang ke RS, kartu Askesnya akan diidentifikasi (dientri) secara online, sehingga keluar datanya. Proses itu terjadi dalam satu interface yang dipakai bersama. Sebelumnya, peserta Askes mesti mendatangi tiga loket: loket RS, loket PT Askes dan loket Rekam Medis (Medical Record). Sekarang cukup datang ke satu loket. Data yang dientri tadi langsung dikirim ke SIM RS untuk keperluan RS. Lalu, RS akan mengirimkan rekam medis peserta tersebut ke PT Askes. Jadi Web service-nya berjalan dalam pola request-response, tanpa saling mengganggu. Pihak PT Askes memberikan nomor kartu ke RS, lalu sistem Web services RS memberikan informasi rekam medis, sehingga database pasien ter-update. Setelah itu, peserta akan masuk ke poliklinik — yang merupakan ranahnya SIM RS. Ketika peserta datang ke poliklinik, datanya sudah bisa langsung diakses di poliklinik tersebut, karena data itu sudah masuk ke database RS . Ketika peserta di poliklinik mendapat pelayanan dari dokter, aplikasi RS mengirimkan kembali data itu melalui sistem Web services ke SIM PT Askes.

    Ketika dientri, data di poliklinik akan langsung dikirim ke PT Askes dan disimpan di sistem database-nya. Dengan begitu, ketika terjadi pelayanan di poliklinik, Askes bisa langsung melakukan proses verifikasi klaim. Sebelumnya, proses verifikasi klaim ini dilakukan sebulan sekali. Ketika peserta Askes datang ke poliklinik, berkasnya dikumpulkan dari semua poliklinik, dan pada akhir bulan dikirim ke Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit. Sekarang verifikasi klaim bisa dilakukan di RS yang bersangkutan. “Itu yang mendongkrak nilai tambah dari mutu layanan PT Askes di RS. Dari sisi antrean bisa lebih cepat, dan dari sisi klaim juga bisa lebih akurat,” kata Yaddy bangga.

    Kemal pun mengklaim pemanfaatan aplikasi Web Service ini telah berdampak positif terhadap kinerja bisnis perusahaan. Terutama, dalam hal peningkatan produktivitas dan perbaikan efisiensi. Kemal berharap, RS yang lain bisa mengimplementasikan layanan ini. Sebanyak 425 RS — dari total 600 RS — kini sudah terkoneksi secara real-time dengan teknologi VPN-IP MPLS. Menurutnya, RS yang ingin menerapkan layanan Web services dari PT Askes tidak harus memiliki platform Java, yang penting punya database dengan format WXDL (bukan SQL). “Sistem yang kami kembangkan memiliki kemampuan mengintegrasikan sistem RS dengan PT Askes secara independen, tidak saling memengaruhi,” katanya. Teknologi Web services, menurut dia, mampu memfasilitasi pertukaran data antara dua mesin yang berbeda secara online, sehingga mampu mendukung monitoring pelayanan kesehatan secara rinci per individu, jenis pelayanan medis, lokasi pelayanan dan tindakan medis.

    RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung merupakan salah satu rumah sakit yang telah menerapkan layanan Web services PT Askes sejak tahun lalu. Menurut David Darmin, Kepala Bagian TI Sistem Informasi RSHS, untuk mengembangkan layanan itu pihaknya mempersiapkan fikasi aplikasi berbasis Web, infrastruktur jaringan dan hardware LAN yang mendukung aplikasi Web, kesepakatan dan kesetaraan coding, (dengan unit TI PT Askes) dan pelatihan penggunaan aplikasi baru. “Sistem dibuat berdasarkan teknologi Web services dan infrastruktur VPN disediakan Askes. Sementara internal untuk akses ke Web service tersendiri oleh pihak RSHS. Adapun pembiayaan ditanggung bersama,” David memaparkan.

    Menurut David, banyak keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan sistem tersebut. Antara lain, kecepatan proses entri, kecepatan proses klaim, dan efisiensi dalam proses (waktu, tenaga, sumber daya lain). Juga, adanya kepastian kesamaan data transaksi, transparansi dan akuntabilitas. “Keuntungan lainnya, kami tidak saling intervensi, serta terjaganya keamanan transaksi dan data dalam server masing-masing,” ujarnya. “Namun, kedua pihak memang mesti berkomitmen pemeliharaan hasil Bridging Systemagar diperoleh manfaat optimal,” tambah David.***

    Tabel:

    Perbedaan Proses Pelayanan Kesehatan Sebelum dan Sesudah Implementasi Aplikasi Bridging System yang Berbasis Web services

    Proses Sebelum Sesudah Benefit

    Pendaftaran Peserta dan Validasinya

    Pemeriksaan dokumen secara manual meliputi kartu Askes, fotokopi kartu Askes, surat rujukan, fotokopi surat rujukan.

    Pemeriksaan keabsahan peserta secara online dan real-time berdasarkan nomor kartu Askes/NIP, dan tidak diperlukan lagi fotokopi dokumen kartu Askes dan surat rujukan.

    Peningkatan kecepatan dan akurasi pelayanan administrasi penerbitan surat jaminan pelayanan kesehatan dari 10 menit menjadi 2 menit.

    Penerbitan Surat Jaminan Pelayanan Kesehatan (SJP) dan Administrasi Pendaftaran RS

    Penerbitan SJP secara manual terpisah dari administrasi pendaftaran di loket RS. Pasien mengunjungi dua loket pendaftaran.

    Penerbitan SJP secara elektronik dan terintegrasi dengan pencatatan rekam medis pasien, dan pasien cukup mengunjungi satu loket pendaftaran

    Penyederhanaan prosedur administrasi pelayanan.

    Penagihan Klaim

    - Entri data transaksional dilakukan dua kali: untuk kepentingan RS dan keperluan penagihan klaim pelayanan kepada PT Askes.

    - Pengumpulan bukti tagihan klaim dilaksanakan setiap bulan.

    - Dokumen penagihan klaim manual, dokumen tagihan terdiri dari surat rujukan, fotokopi surat rujukan, fotokopi kartu Askes, SJP, bukti pelayanan dan tindakan medis, formulir pengajuan klaim, rekapitulasi klaim dan kuitansi.

    - Pencatatan data transaksi secara online dari unit pemberi pelayanan (poliklinik, lab radiologi, dll.)

    - Pengumpulan dokumen bukti pelayanan dilaksanakan dalam waktu seminggu.

    - Dokumen penagihan ecara elektronik dilengkapi dengan formulir pengajuan klaim dan rekapitulasi pelayanan.

    - Proses penagihan klaim lebih cepat, tepat dan akurat.

    - Biaya operasional administrasi klaim berkurang karena tidak diperlukan pencatatan data klaim dua kali (SIM Askes dan SIM RS)

    Verifikasi Klaim

    Secara manual terhadap berkas dokumen penagihan klaim, dilaksanakan di Kantor Cabang PT Askes (Persero)

    Secara elektronik, dilaksanakan di RS (Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu RS)

    Proses lebih cepat dan akurat.

    Pembayaran Klaim

    Pembayaran klaim dilaksanakan di kancab setelah seluruh proses diselesaikan.

    Standar pelayanan nonmedis untuk RS Tipe A (35 hari).

    Proses pembayaran klaim secara elektronik, data terintegrasi end-to- end.

    Standar pelayanan nonmedis untuk RS Tipe A (14 hari).

    Proses pembayaran klaim lebih sederhana.

    Data rekam individual tersedia untuk audit trail.

    Tingkat kerincian data yang terintegrasi dapat digunakan untuk Decision Support System dan penyajian Executive Information System.

    Legalisasi Pelayanan Suplemen dan Khusus

    Secara manual mengacu kepada kartu kendali/buku register pelayanan suplemen (kacamata, prothese, dll.)

    Dilaksanakan secara elektronik berdasarkan data transaksi individual.

    Proses pelayanan administrasi lebih cepat, tepat dan akurat.

    Pengendalian biaya pelayanan kesehatan melalui pencegahan fraud and abuse.

    Penyedehanaan prosedur administrasi pelayanan kesehatan di RS.

    Customer Service

    Keterbatasan data/informasi yang diberikan kepada peserta.

    Data terintegrasi, informasi dapat diakses secara fleksibel mendukung penyampaian informasi kepada peserta secara lebih cepat, tepat dan akurat.

    Peningkatan mutu pelayanan kepada peserta Askes di RS.

    Riset: Rachmanto Aris D.

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      RELATED POSTS

      Sorry, no related post.

      2 Comments

      1. Candra says:

        Rumah Sakit kami sudah mengimplementasikan SIMRS dan berencana akan mengintegrasikan dengan layanan Askes, seperti yang dijelaskan diatas.

        1. Bagaimana prosedur yg harus kami jalankan agar dapat menjalankan system bridging dari Askes? Jika harus menghubungi Askes, mohon disediakan no. telp atau emailnya.

        2. Apa saja yang harus kami persiapkan, menyangkut infrastruktur, legalitas, dll ?

        3. Berapa biaya yang harus dibelanjakan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem Bridging ini?

        Terima Kasih atas perhatiannya.

        Salam,
        S. Erwin Candra

      2. Aksan says:

        Awalnya Bridging system ini dikembangkan dengan konsep mengintegrasikan semua subsystem yang ada di Rumah sakit (termasuk sistem informasi PT Askes di rumah sakit) menjadi suatu system Informasi Rumah Sakit yang handal yang dapat mengantisipasi setiap perubahan dan memudahkan pelayanan di RS serta pelaksanaan bisnis proses RS dan pihak terkait agar lebih optimal dan efisien. tapi sayang dalam pelaksanaannya sangat banyak kendala baik dari pihak manajemen RS, Pengembang SIRS, maupun pihak terkait, sehingga pelaksanaan bridging system ini belum maksimal..saya kagum pada Pak Kemal Imam Santoso yang menyatakan Aplikasi Bridging system ini adalah aplikasi yang paling bagus pada abad ini..

      LEAVE A REPLY


      + seven = 10