Menanam Teknologi di Lahan Pertanian

Menanam Teknologi di Lahan Pertanian

Pasang-surut zaman telah menghiasi seabad lebih usia bisnis Monsanto Company, termasuk kontroversi yang ditimbulkan oleh produk-produk rekayasa genetiknya. Dalam mengarungi bisnis inovatif ini, penerapan bioteknologi nan canggih dipadankan Monsanto dengan pemanfaatan TI mutakhir.

Monsanto. Nama perusahaan ini dikenal khalayak Indonesia lantaran produk pertanian transgeniknya — baik kapas, kedelai, maupun jagung — dari beberapa tahun lalu hingga kini masih menimbulkan kontroversi. Kontroversi seperti ini juga sudah lama berlangsung di Eropa. Yang pasti, benih hasil rekayasa genetik (genetically modified) inovasi Monsanto ini secara umum lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, dan mampu memberikan hasil panen berlipat dibandingkan benih biasa. Namun, kekhawatiran masih menghantui apakah produk hasil rekayasa genetik ini aman terhadap kesehatan manusia yang mengonsumsinya dalam jangka panjang.

Meski demikian, kontroversi tak mematikan Monsanto. Sama halnya dengan terjangan dan tantangan keras yang dihadapinya — mulai dari resesi ekonomi hingga gugatan hukum — yang tak mampu menghentikannya. Perusahaan ini sekarang malah termasuk salah satu living legend bisnis dari Amerika Serikat. Usianya kini mencapai 110 tahun. Perusahaan yang berawal dari bisnis bahan kimia ini sekarang lebih dikenal sebagai perusahaan pertanian berbasis teknologi canggih (dalam hal ini bioteknologi) dengan omset sekitar US$ 12 miliar.

Sejarah Monsanto dirintis pada 1901 oleh John Francisco Queeny, seorang staf pembelian di toko obat grosiran, yang mendirikan Monsanto Chemical Works di St. Louis, Missouri. Perusahaan ini menghasilkan pemanis buatan sakarin, dan selanjutnya kafein dan vanilin yang membuatnya mampu menuai untung. Queeny pun mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai komandan Monsanto. Pada 1915, untuk pertama kalinya perusahaan ini mencapai omset lebih dari US$ 1 juta.

Monsanto tumbuh bersama berkembangnya sejarah AS. Sebelum Perang Dunia I, AS sangat tergantung pada suplai bahan kimia dari luar negeri, terutama Eropa. Dipimpin Monsanto, ketika AS memasuki Perang Dunia II, industri kimia AS telah benar-benar tak tergantung pada Eropa.

Pada 1964, perusahaan ini mengubah lagi namanya menjadi Monsanto Company, dengan delapan divisi, termasuk agrokimia, minyak, fiber, material bangunan, dan pengemasan.

Pada 1970-1980-an, Monsanto banyak menghadapi tekanan publik dan tuntutan hukum. Aktivitas yang digalang Ralph Nader dan buku The Silent Spring karya Rachel Carson meningkatkan kesadaran publik AS untuk mewaspadai industri kimia. Di antara tantangan yang cukup keras menyangkut kasus produk Agent Orange (yang ditengarai membuat cacat ratusan veteran perang Vietnam); tuntutan antitrust senilai US$ 10 juta yang dimenangi Spray-Rite, mantan distributor produk pertaniannya; dan kontroversi produk IUD (pengontrol kelahiran) bernama Copper-7.

Pada pertengahan 1980-an Monsanto telah menginvestasikan dana US$ 150 juta untuk membangun lab genetic engineering di Chesterfield, Missouri. Pada 1993, sukses besar berhasil diraihnya dengan disahkannya produk bovine somatotropin (BST, produk kimia untuk meningkatkan produksi susu pada sapi) oleh FDA untuk bisa dijual secara komersial. Meski telah disahkan FDA, produk ini hingga sekarang masih dinilai kontroversial, terutama soal dampak konsumsi susunya terhadap kesehatan. Antara pertengahan 1980-an dan pertengahan 1990-an diperkirakan Monsanto menghabiskan investasi sekitar US$ 1 miliar utuk mengembangkan bisnis biotek.

Pada 1996, Robert Shapiro, CEO Monsanto saat itu, punya gagagan mendivestasi bisnis kimia perusahaan (yang menyumbang US$ 3 miliar dari total omset Monsanto kala itu yang sekitar US$ 8 miliar) dalam rencana besar menjadikan Monsanto sebagai sebuah life-sciences company. Pemisahan ini terealisasi pada 1997, di mana divisi kimianya yang kemudian go public bernama Solutia Inc.

Pada 2000, terjadi reorganisasi cukup besar. Dua bisnis tersisa Monsanto, pertanian dan farmasi, dipisahkan, setelah Monsanto merger dengan Pharmacia & Upjohn Inc., menciptakan perusahaan dengan market cap saat itu lebih dari US$ 50 miliar. Divisi produk pertanian disatukan di bawah Monsanto Ag Company, sebagai salah satu anak usaha Monsanto Company. Adapun Pharmacia & Upjohn menjadi anak usaha lainnya, yang kemudian mengubah namanya menjadi Pharmacia Corporation. Pharmacia kemudian diakuisisi Pfizer Inc. pada April 2003. Sementara Solutia, divisi kimianya, akhirnya bangkrut setelah dibebani biaya settlement terkait produk lamanya, PCB. Divisi pertanian, Monsanto Ag Company, kemudian menjadi Monsanto Company yang baru.

Pada 2002, penjualan anjlok hingga 14% menjadi US$ 4,7 miliar, lantaran merugi besar hingga US$ 1,7 miliar. Padahal, tahun sebelumnya mampu mencatat laba US$ 295 juta. CEO Hendrik Verfaille, yang mengambil alih posisi Shapiro setelah merger dengan Pharmacia, undur diri pada Desember 2002. Hugh Grant, eksekutif yang sebelumnya duduk sebagai COO, kemudian mengisi posisi CEO pada Mei 2003 dan chairman pada Oktober 2003.

Di bawah komando Grant, fokus Monsanto bergeser dari bisnis agrokimia ke bisnis perbenihan, baik jenis konvensional maupun benih GM (genetically modified atau rekayasa genetik). Pada 2004, Monsanto membentuk anak usaha American Seeds Inc., yang dipakai untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan benih regional. Yang dibeli mencakup Channel Bio Corp (asal Indiana), NC Hybrids (Nebraska), keduanya produsen benih jagung; Emergent Genetics (produsen benih kapas); serta Seminis (produsen benih buah-buahan dan sayuran).

Sekitar 3.500 jenis benih produksi Seminis telah didistribusikan ke 150 negara. Benih-benih GM produksi Monsanto saat ini ditanam di area seluas hampir 200 juta acre, kebanyakan di AS dan Argentina. Lahan untuk benih ini juga ada di Kanada dan Cina. Namun, di Eropa benih GM masih menjadi isu kontroversial.

Perjalanan bisnisnya yang panjang dan naik-turun, dan sekian lama menjalani bisnis dengan teknologi canggih (yakni bioteknologi), membuat Monsanto juga tak gamang bersentuhan dengan teknologi informasi (TI) mutakhir. Apalagi, cakupan bisnisnya amat kompleks. “Kami memang perusahaan yang fokus pada pertanian, tetapi kami juga perusahaan yang bertopang pada inovasi teknologi,” kata Mark Showers, CIO Monsanto sebelum era Shirley Cunningham.

Bagaimana biotek yang canggih dipadankan dengan TI mutakhir? Buat puluhan ribu ilmuwan dan pegawainya yang tersebar di lebih dari 60 negara, kata kunci bagi bisnis Monsanto adalah kolaborasi. Sebab, untuk bisa menghasilkan produk biotek dibutuhkan banyak keahlian lintasfungsional. Eksekutif puncak Monsanto tampaknya telah menyadari pentingnya masalah hubungan dan jaringan.

Sasaran ide yang mendasarinya adalah membangun budaya perusahaan yang kaya dengan hubungan dan memperkuatnya dengan bantuan teknologi. Dan, proyek ini harus bisa menghubungkan orang-orang itu secara digital, bahkan memungkinkan mereka bekerja secara telecommuting dari rumah masing-masing.

Ide tersebut kemudian dijadikan inisiatif formal dan dibentuklah strategy group yang dipimpin oleh para manajer TI yang bertanggung jawab pada berbagai bidang yang berbeda-beda; mulai dari bidang arsitektur hingga dukungan aplikasi (apps support). Tim kolaborasi dibentuk di bawah grup tersebut, yang terdiri dari beberapa pemimpin proyek yang berbeda seperti Proyek VoIP dan Proyek Implementasi SharePoint. Anggota tim ini bertemu seminggu sekali untuk berbagi informasi kemajuan lebih dari 12 proyek tersebut.

Hasilnya, dengan menggunakan SharePoint, Monsanto mampu mengonsolidasikan ratusan database dokumen seraya mengimplementasikan kontrol akses dan retensi baru serta mengintegrasikan dengan aplikasi Office.

Pada sisi pemanfaatan teknologi UC, Monsanto mulai dengan menjalankan proses implementasi VoIP, yang mencakup fitur unified messaging; MeetingPlace yang menyediakan fasilitas Web teleconference (mengubah pola telekonferensi tradisional) dan fitur instant mesanging (IM) menggunakan Microsoft Office Communicator. Ketika baru terpasang saja (pada November 2008), fitur IM sudah menampung 400 pesan setiap hari di antara 16 ribu lebih pegawai Monsanto di seluruh dunia

Perkembangan teknologi jejaring sosial tak diabaikan Monsanto. Pada akhir 2008 itu saja, satu grup riset Monsanto bahkan telah memiliki 800 orang yang menggunakan blog dan wiki. “Kami terus mempelajari bagaimana bisa menggunakannya secara efektif,” kata Lou Clark, Master Architect Monsanto.

Monsanto juga bahkan sampai merasa perlu menyewa keahlian seorang profesor ahli jejaring sosial dari University of Virginia, Rob Cross. Cross, yang juga pernah disewa Microsoft dan P&G, membantu mengidentifikasi para influencer kunci, mengetahui hambatan komunikasi, menganalisis bagaimana orang-orang di lokasi yang berbeda bisa berkomunikasi, dan membuka jaringan hubungan karyawan Monsanto.

Dalam proses bisnis yang lebih konkret, peran penting Unit TI begitu terlihat. Secara berturut-turut, pada 2009 dan 2010, Monsanto terpilih sebagai salah satu pemenang CIO 100 yang diselenggarakan CIO Magazine. Pada 2009, Monsanto mengedepankan tipe proyek Business Process Management (BPM), Collaboration dan Databases. Unit yang disorot adalah Divisi Riset & Pengembangan. Adapun pada 2010, tipe proyek yang dikedepankan Monsanto adalah BPM, CRM dan e-Commerce; dengan fungsi bisnis yang disorot mencakup Manufacturing, Order Processing dan Customer Service. Deskripsi proyeknya, Monsanto mengembangkan benih berlapis zat bernama Acceleron untuk meningkatkan hasil usaha tani, dan membutuhkan sistem TI untuk mendukung produk baru ini.

Mari kita simak dukungan penting TI pada proses peluncuran produk baru andalan Monsanto, Acceleron. Pada akhir 2008, Monsanto melisensikan pelapis benih yang bisa membantu benih jagung, kedelai dan aneka benih lainnya tahan terhadap serangan serangga ataupun penyakit selama masa perkecambahan. Pada awal 2009, para ilmuwan Monsanto berhasil menyelesaikan pekerjaan pembuatan bahan yang berasal dari campuran fungisida dan insektisida itu, yang kemudian dinamakan Acceleron. Manajemen kemudian menginginkan produk itu bisa terdistribusi ke pasar untuk musim tanam 2010. “Kami ingin menangkap peluang itu secepat mungkin. Kalau telat, kesempatannya baru datang 12 bulan lagi,” ungkap Shirley Cunningham, CIO Monsanto saat ini.

Artinya, Monsanto hanya punya waktu sekitar enam bulan untuk mempersiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan. Padahal, aktivitas penanganan awal benih untuk dijual ke petani merupakan hal baru bagi Monsanto. Rencananya, Acceleron ada yang dijual dalam wujud sudah terlapis pada benih, tetapi ada juga yang baru akan dilapiskan oleh para distributor ataupun spesialis yang terlatih nantinya.

Yang harus dilakukan Monsanto adalah mendefinisikan proses rantai pasok baru dan mengembangkan software yang dibutuhkan untuk proses ordering, pengiriman (shipping), kontrol mutu, pelaporan penggunaan, dan pelatihan di luar untuk para perawat benih.

Di sini berarti pimpinan TI dan unit bisnis harus bekerja sama dan berkolaborasi menyediakan prosedur dan teknologi pendukungnya. Tak tanggung-tanggung, Monsanto mengerahkan sekitar 70 orang staf TI — terdiri dari para ahli di bidang analisis bisnis, manajemen proyek, SAP dan Java programming –– untuk terlibat dalam proyek dukungan peluncuran Acceleron ini.

Tim ini kemudian menggunakan Java untuk membuat komponen tambahan (add-ons) pada sistem SAP Monsanto. Pasalnya, Monsanto memerlukan fitur untuk memonitor seberapa banyak Acceleron yang ada dalam inventory dan memantau benih pesanan mana yang mesti dilapis dengan Acceleron. Sistem pricing baru untuk pilihan layanan pun harus dibuat. Tim ini kemudian juga mengembangkan portal Web untuk kebutuhan informasi dan pelatihan mengenai Acceleron bagi sekitar 500 perawat benih.

Dukungan TI terhadap peluncuran produk baru ini menuai sukses. Monsanto membukukan lebih dari empat juta order untuk pelapis benih itu dalam dua bulan pertama sejak diluncurkan. Produk ini bahkan diproyeksikan mampu memberi sumbangan gross profit secara signifikan. “Kami punya posisi yang bagus untuk membantu mendorong proses bisnis,” kata Cunningham. Ia pun mengaku merasa bangga karena unit-unit bisnis sering melibatkan unit TI sejak awal dalam langkah-langkah bisnis strategis perusahaan yang kini beromset sekitar US$ 12 miliar ini. (*)

Riset: Sarah Ratna

—————————————————————————————————————————-

Monsanto Company

– Tahun berdiri : 1901

– Pendiri : John Francisco Queeny

– Markas : St. Louis, Missouri, AS

– Industri : Pertanian berbasis bioteknologi

– Revenue : US$ 11,7 miliar (2009)

– Jumlah karyawan : Total 19 ribu orang; 17 ribu tersebar di lebih dari 60 negara

– Eksekutif puncak : o Hugh Grant (Chairman, Presiden dan CEO)

o Shirley Cunningham (CIO)

—————————————————————————————————————————-

—————————————————————————————————————————-

Prestasi Penting Unit TI Monsanto

Mengombinasikan teknologi Unified Communication, Instant Messaging, SharePoint, blog dan wiki, untuk kolaborasi menghasilkan produk biotek dan mendistribusikannya ke pasar; sekaligus melindungi intellectual property-nya.

Mengintegrasikan teknologi Customer Interaction Center (CIC atau dikenal umum sebagai CRM) dari SAP, dengan teknologi portal Knowledge Management (KM) dari NetWeaver, dan teknologi telefoni Cisco.

Membangun pusat data baru yang jauh lebih efisien — tercatat lebih dari 25% — dalam penggunaan energi dengan menggunakan teknologi virtualisasi dan konsolidasi server.

Mengembangkan tools Business Process Management (BPM) untuk meningkatkan pemrosesan data pengembangan produk, sehingga mampu mengurangi waktu masuk ke pasar (time-to-market) hingga 27% dan meningkatkan kapasitas jalur produksi bioteknya hingga 84%.

Mengembangkan komponen tambahan (add-ons) yang terintegrasi dengan sistem inti SAP guna mendukung proses bisnis terkait peluncuran produk baru Acceleron; serta menyediakan online tools untuk pelatihan para distributor benih, pemegang lisensi maupun para perawat benih.

———————————————————————————————————————————

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag