Credit Suisse Kuliti 3.568 Bisnis Keluarga di Asia
Tiga ribu lima ratus enam puluh delapan bisnis keluarga di Asia di kuliti oleh Credit Suisse Emerging Markets Research Institute dalam sebuah penelitian yang kemudian diturunkan dengan tajuk, Laporan Bisnis Keluarga Asia 2011: Tren Utama, Kontribusi dan Kinerja Ekonomi. Temuan terpentingnya; bisnis keluarga merupakan sumber penting bagi penciptaan kekayaan pribadi di Asia dan juga merupakan pilar penting bagi perekonomian regional.
Dalam studi ini, sebuah bisnis keluarga didefinisikan sebagai perusahaan keluarga apabila suatu keluarga (atau seseorang dari keluarga tersebut) memiliki paling sedikit 20% dari hak cash flow dalam perusahaan baik secara langsung, maupun tidak langsung, melalui kepemilikan saham baik dalam entitas publik maupun privat.
Berbeda dengan penelitian‐penelitian sebelumnya yang sebagian besar mengandalkan survei atau studi kasus dalam membuat kesimpulan, penelitian ini menganalisa perkembangan tren yang ada dan kontribusi ekonomi dari 3.568 bisnis keluarga yang terdaftar di bursa dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 50 juta serta mengevaluasi kinerja keuangan dari 1.279 bisnis keluarga terbuka di Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand dengan total kapitalisasi lebih dari US$ 500 juta.
Studi ini menyajikan penelitian sistematis dan kuantitatif pertama yang menggunakan data primer dari 3.568 bisnis keluarga yang terdaftar di bursa di 10 negara Asia untuk analisis tren perkembangan utama, kontribusi ekonomi dan kinerja pasar modal mereka. Dari keseluruhan 10 pasar Asia, bisnis keluarga menempati sekitar 50% dari seluruh perusahaan yang terdaftar, 32% dari total sumber modal pasar, serta 57% dari jumlah keseluruhan karyawan perusahaan terdaftar di Asia Selatan dan 32% di Asia Utara.
Dari penelitian tersebut ditemukan, bisnis keluarga juga mengalahkan standar patokan di tujuh dari 10 pasar Asia pada periode 20002010, memberikan total laba kumulatif sebesar 261% dan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 13,7% selama periode tersebut. Bisnis-bisnis keluarga di Cina, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan memiliki kinerja tertinggi dalam jumlah laba dibandingkan dengan patokan dalam periode tersebut, sedangkan saham bisnis-bisnis keluarga di Indonesia mempunyai kinerja terbaik dari kesepuluh negara tersebut.
Helman Sitohang, CEO Credit Suisse Asia Tenggara, mengatakan, analisis mengenai bisnis keluarga Asia ini merupakan seri terbaru dari rangkaian thought leadership Credit Suisse yang bertemakan bisnis keluarga global. “ Studi mengenai bisnis keluarga Asia yang pertama ini menjadi landasan dari apa yang kami cita‐citakan akan menjadi inisiatif bagi penelitian tematik berkala guna mengkaji tantangan dan kesempatan utama bagi perkembangan bisnis keluarga Asia di masa yang akan datang, ” ujarnya.
Helman melanjutkan, di Asia, banyak bisnis‐bisnis keluarga yang merupakan generasi pertama. Asal‐usul kewirausahaan mereka dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia II, dan dalam beberapa kasus, dimulai pada kurun waktu dua hingga tiga dekade terakhir. Dalam dekade terakhir setelah krisis keuangan Asia, banyak bisnis‐bisnis keluarga menjadi saksi perubahan‐perubahan dramatis dalam lingkungan bisnis dan pasar keuangan global. Banyak dari mereka yang harus melakukan restrukturisasi, atau dalam kasus tertentu, memulai dari awal kembali.
Bisnis keluarga Asia pada tahap awal dari siklus kehidupan – 38% dari bisnis keluarga terdaftar di bursa setelah tahun 2000. Disebutkan juga di Asia, banyak bisnis‐bisnis keluarga yang merupakan bisnis generasi pertama, dibandingkan dengan kebanyakan bisnis keluarga di Eropa dan Amerika Serikat yang sudah berjalan di tahap generasi keempat atau kelima. Tahap perkembangan siklus bisnis awal mereka memicu pertumbuhan di antara bisnis‐bisnis keluarga Asia.
Selain itu jumlah kapitalisasi pasar dari bisnis keluarga di Asia dalam studi ini telah meningkat sampai enam kali lipat antara tahun 2000 dan 2010. Hal ini mencerminkan dorongan kewirausahaan dari bisnis keluarga tahap awal untuk mencari kesempatan tumbuh melalui penggalangan dana dalam pasar modal, serta perkembangan pesat pasar modal di Asia sejak krisis keuangan yang melanda Asia pada tahun 1997‐1998.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa bisnis keluarga Asia cenderung lebih banyak bermain di sektor‐sektor tradisional, terutama sektor‐sektor keuangan (perbankan dan real estate), industri, dan sektor non‐essential dan pokok bagi konsumen, karena pengelolaan oleh keluarga secara historis terbukti konservatif dalam hal inovasi dan investasi pada bisnis‐bisnis baru berisiko tinggi.
Beberapa studi Credit Suisse sebelumnya juga menunjukkan bahwa pengelolaan oleh keluarga sebagai suatu bentuk organisasi, paling cocok untuk sektor‐sektor industri tradisional dengan biaya-biaya tetap yang tinggi dan kegiatan operasional yang membutuhkan pemikiran investasi jangka panjang serta kurang banyak ditemukan dalam industri yang tinggi inovasi dan intensif dalam hal teknologi. Hanya Korea Selatan, Taiwan dan India yang mempunyai lebih banyak bisnis keluarga yang berkaitan dengan teknologi dikarenakan teknologi lah yang menjadi pendorong struktur industri dalam perekonomian negara‐negara tersebut.
Bisnis keluarga Asia memiliki ekposur yang sangat terbatas terhadap sektor energi, jasa telekomunikasi dan kebutuhan umum yang padat modal. Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya akses yang dimiliki bisnis keluarga Asia untuk memperoleh kontrol atas industri‐industri yang memiliki banyak regulasi dan biasanya dimonopoli oleh negara. Semakin besarnya resiko yang menghambat strategi investasi perusahaan‐perusahaan keluarga juga berpengaruh terhadap kehati-hatian mereka dalam mempertimbangkan kesempatan berinvestasi di industri padat modal tersebut.
Dalam hal distribusi regional, studi ini menemukan jumlah bisnis keluarga lebih tinggi di Asia Selatan yaitu sebesar 65% dari total perusahaan‐perusahaan terdaftar, dibandingkan dengan 37% di Asia Utara. India merupakan negara dengan jumlah bisnis keluarga terbanyak dalam lingkup penelitian ini, terhitung sebesar 67% dari keseluruhan perusahaan‐perusahaan terdaftar, sedangkan bisnis keluarga Cina menempati persentase terendah (13%) karena struktur perekonomiannya yang dimiliki oleh negara.
Walaupun jumlahnya yang lebih banyak daripada bisnis non‐keluarga, bisnis keluarga hanya mewakili 32% dari keseluruhan jumlah kapitalisasi pasar dalam ruang lingkup studi ini. Bisnis keluarga di Asia Selatan berkontribusi 49% terhadap total kapitalisasi pasar dalam lingkup studi sedangkan bisnis keluarga di Asia Utara berkontribusi terhadap 25% total kapitalisasi pasar.
Kapitalisasi pasar dari bisnis‐bisnis keluarga setara dengan 34% dari total nilai GDP Asia. Permodalan pasar bisnis‐bisnis keluarga setara dengan 50% nilai GDP Asia Selatan dan 27% nilai GDP Asia Utara. Di Hong Kong, walaupun bisnis keluarga hanya mewakili 26% dari total kapitalisasi tetapi kombinasi nilai pasar dari bisnis‐bisnis keluarga adalah 291% dari nominal GDP, sedangkan kombinasi nilai pasar bisnis keluarga di Singapura adalah 140% dari nominal GDP. Terlepas dari lebih banyak terkumpulnya bisnis keluarga di Asia Selatan dibandingkan di Asia Utara dalam hal jumlah perusahaan, studi ini menunjukkan bahwa bisnis keluarga berskala besar lebih terkonsentrasikan di Asia Utara dibandingkan di Asia Selatan.
Di antara 1.279 bisnis keluarga terdaftar dengan permodalan pasar lebih dari USD 500 juta yang dianalisa dalam studi ini, mereka yang berada di pasar Asia Utara adalah sejumlah 59%, termasuk Hong Kong (25%), Korea Selatan (13%), Taiwan (12%) dan Cina (9%).
Sebagai wirausahawan, karyawan bisnis keluarga mencakup 57% dari keseluruhan karyawan yang dipekerjakan oleh perusahaan‐perusahaan terdaftar di Asia Selatan dan 32% di Asia Utara. Namun demikian, dalam persentase jumlah total tenaga kerja, masing‐masing mereka hanya menyumbang 0,7% dan 1,0%, sebuah cerminan dari fakta bahwa sebagian besar penyerapan tenaga kerja di Asia berasal dari sektor publik, perusahaan‐perusahaan tak terdaftar dan wirausaha.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.