Ada Lho, Pasar Sekunder Reksa Dana
Pada tahap awal, dana kelolaan R-LQF45 ditargetkan Rp 1 triliun atau 1 miliar unit penyertaan. Jumlah itu bakal terus ditambah (open ended) sesuai dengan daya serap pasar. Meski demikian, untuk membeli R-LQF45 investor tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cukup dengan dana minimal Rp 500 ribu, investor ritel bisa membeli produk ETF yang pertama di Indonesia itu. Harga 1 unit penyertaan Rp 1.000, sedangkan minimal pembelian 500 unit. PT Treasure Fund Investama (TFI) bertindak sebagai manajer investasi yang didukung tiga dealer partisipan: PT Universal Broker Indonesia, PT Henan Putihrai dan PT Danatama Makmur.
Abraham Lembang, Komite Investasi TFI, mengungkapkan, pada prinsipnya kesamaan R-LQF45 dengan reksa dana konvensional terletak pada konsep diversifikasi. Artinya, membeli R-LQF45 sama saja dengan membeli sekeranjang saham sebagai underlying utama portofolionya. Adapun kebijakan investasi R-LQF45 adalah sebesar 80%-100% dana ditempatkan ke efek dalam indeks LQ45 dan sebesar 0-20% di efek pasar uang.
Guna memaksimalkan return — meski saham-saham LQ45 sudah unggulan — dalam pengelolaan reksa dana ini saham-saham yang masuk dalam LQ45 disaring lagi menjadi 20 saham saja yang performanya terbaik. “Pemilihannya berdasarkan metode sampel representatif dengan melakukan seleksi kuantitatif dan kualitatif terhadap saham-saham anggota LQ45,†kata Abraham.
Beberapa kriteria yang mesti dipenuhi saham-saham pilihan R-LQF45, antara lain, sahamnya likuid di pasar, nilai kapitalisasi pasarnya besar (kini total kapitalisasi pasar BEJ senilai Rp 900-1.000 triliun), berpengaruh signifikan terhadap fluktuasi indeks harga saham gabungan. Nah, untuk mengantisipasi menurunnya performa 20 saham pilihan LQ45, manajer investasi akan mengganti jenis sahamnya 6 bulan sekali: awal Februari dan Agustus.
Manajer investasi akan mengubah portofolio dengan mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, terjadi perubahan keanggotaan saham-saham LQ45. Kedua, terjadi perubahan pembobotan saham-saham LQ45 yang biasanya disebabkan corporate action emiten saham bersangkutan. Ketiga, kinerja portofolio menyimpang lebih dari 1% selama lima hari berturut-turut. Keempat, salah satu saham portofolio mengalami delisting. “Tapi, jangan khawatir. Jika terjadi perubahan portofolio, kami akan melakukan optimalisasi kembali untuk menekan penyimpangan sekecil mungkin,†demikian janji Abraham untuk meredam kecemasan investor.
Lantas, apa saja perbedaan mendasar R-LQF45 dengan reksa dana konvensional? Menurut Abraham, ETF yang mengacu indeks LQ45 diperdagangkan di BEJ sepanjang jam bursa hari kerja, sedangkan reksa dana konvensional dijual lewat manajer investasi atau agen pemasaran. Untuk harga, ETF ditentukan permintaan pasar, sedangkan reksa dana konvensional dipengaruhi nilai aktiva bersih. Pun, hampir semua ETF punya market maker, sebaliknya reksa dana biasa tidak ada. Menariknya lagi, setahun ke depan akan dikembangkan opsi ETF, sementara di reksa dana biasa tidak ada produk derivatifnya.
Return yang diberikan R-LQF45 tergantung pada permintaan dan penawaran di pasar serta fluktuasi indeks LQ45. Artinya, jika investor membeli ETF di pagi hari, lalu siang hari harganya naik, mereka mendapatkan capital gains jika menjualnya.
Selain menjanjikan untung, R-LQF45 juga tak luput dari risiko. Menurut Abraham, kinerja ETF ini terhadap indeks LQ45 memungkinkan terjadinya deviasi akibat adanya beban biaya transaksi, manajer investasi, biaya kustodian, serta perbedaan pembobotan pada portofolio LQ45 ETF dengan indeks LQ45. “Tapi total biaya investasi R-LQF45 lebih kecil dari reksa dana biasa,†ujarnya. Ia menerangkan. TFI tidak akan memungut subscription fee dan redemption fee. Nasabah cuma dikenakan broker fee atas jual-beli saham ETF di BEJ sesuai dengan standar masing-masing broker. Toh, di mata Hendra Bujang, rendahnya fee manajer investasi ETF itu sesuai dengan tingkat return yang lebih rendah dibanding reksa dana konvensional. “Manajer investasi reksa dana konvensional berpikir keras untuk mengelola dananya agar keuntungan maksimal, sedangkan R-LQF45 bersifat reksa dana pasif yang melakukan tracking ke indeks LQ45,†kata Manajer Investasi PT Corfina Capital itu.
Kehadiran R-LQF45 tentu saja memberikan alternatif baru membiakkan duit bagi investor. Muhammad Rizal termasuk calon investor yang tergiur. Meski ia sudah investasi di beberapa reksa dana konvensional, kehadiran ETF berbasis indeks LQ45 ini cukup menggodanya. “Hitung-hitung untuk penyebaran risiko. Apalagi, setahun terakhir kondisi bursa saham sangat bagus,†ujarnya. Baginya, daya tarik lain R-LQF45 adalah cukup sekali fee diberikan ke manajer investasi, yaitu 0,5-1,5% dari total nilai investasi. Jadi, kapan pun ia mau jual atau beli, biayanya tidak berkali-kali dibebankan.
Terlepas dari kelebihan dan kelemahan R-LQF45, baik Abraham, Hendra maupun Rizal sepakat bahwa prospek ETF cerah. Sebab, bukan hanya investor canggih, tetapi yang awam pun gampang memahaminya, termasuk ibu-ibu rumah tangga. “Yang penting, uang jangan ditaruh di bawah bantal. Apalagi, penjaminan deposito sekarang maksimal hanya Rp 100 juta,†ungkap Abraham.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.