Akhirnya, Roy Marten Nyemplung ke Oli
Sebagai artis, ia melihat beberapa seniman Indonesia, ketika sudah tersingkir dari panggung hiburan, mengalami kesulitan ekonomi karena tidak adanya investasi. ?Ada masa panen, puso, surut berkepanjangan, tidak ada kontrak dan tersingkir, sedangkan kami tidak ada yang menggaji,? kata pria bernama asli Roy Wijaksono Abdul Salam ini. Maka, dicobalah berbagai usaha sampingan. Salah satunya, bisnis besi tua dan garmen. Mencoba berbisnis memberi pelajaran padanya bagaimana berusaha. ?Sempat gagal sih, tapi saya tidak kapok,? katanya. Seperti layaknya keluarga Jawa, berbeda dari keluarga keturunan, ia merasa tidak diasah jiwa kewirausahaannya sejak kecil. ?Sense of business-nya kurang, ya, mencoba sekarang bukan berarti terlambat,? ujar pria kelahiran Salatiga, 1 Maret 1952 ini.
Tahun 1978, Roy yang waktu itu berada di puncak kejayaan berkenalan dengan Edi (ia mengaku lupa nama lengkapnya) di Bangka dan mengajaknya berbisnis bersama. Waktu itu Edi baru memiliki usaha bengkel. Hanya, ketika itu, keinginan berbisnis belum dirasakan Roy. Seiring berjalannya waktu, usaha Edi berkembang hingga bisa memiliki izin membuat pabrik oli pertama di Indonesia (selain Pertamina), bermerek GGI. Pada 1982, berdirilah PT Trihasta Perkasa. Kembali, Edi dan anaknya Yohannes menawari Roy ikut andil dalam usaha tersebut pada 1995. ?Saya tetap belum menerima tawarannya,? ujarnya mengenang. Awal tahun ini, Roy mulai melihat dengan cermat bisnis pelumas, ternyata bisnis ini peluangnya besar.
?Saya menganalisis angka-angkanya, ternyata memang menarik dan peluangnya bagus,? katanya sambil tersenyum. Peluang ini dinilai Roy besar, mengingat potensi jumlah penduduk di sini, pertumbuhan jumlah mobil dan kebutuhan PLN akan pelumas juga besar. ?Mesin lain pun membutuhkan pelumas,? imbuhnya. Banyaknya merek pelumas yang sudah lama eksis, baik lokal maupun asing, tidak membuatnya ciut terjun di bisnis ini. Suami Ana Maria Sofyana ini melihat tidak adanya perbedaan kualitas antara merek-merek itu dan GGI. ?Bisnis oli di sini paling besar masih dikuasai Pertamina,? katanya. Menurut angka yang diketahuinya, pangsa pasar Pertamina 50%-60%. Adapun Top1, merek lokal lain, menguasai 25% pangsa pasar.
?Artinya, peluangnya masih besar,? ujarnya. Itulah yang membuat Roy akhirnya menerima tawaran rekannya duduk sebagai komisaris Trihasta. ?Saya baru tiga bulan kok menerima tawaran itu,? ungkapnya. Sayangnya, ia enggan menyebutkan jumlah saham dan nilai uang yang dibenamkan dalam perusahaan itu. ?Cuma sedikit kok,? elaknya. Namun, ia berani mengungkapkan bahwa investasi pabrik pelumasnya di Tangerang yang seluas 2.000 m2 sekitar Rp 200 miliar. Ia juga menolak dikatakan bahwa keberadaannya sebagai komisaris Trihasta untuk mendongkrak merek GGI. ?Saya kan sudah kenal lama dengan Edy,? katanya. Jadi, ia sudah memperhatikan dengan baik perjalanan Trihasta sejak awal.
Kesibukannya di dunia sinetron membuatnya memilih duduk sebagai komisaris dan tidak terlibat langsung dalam bisnis. ?Seminggu atau dua minggu sekali saya ikut rapat,? tuturnya. Meski begitu, Roy memiliki banyak program baru agar GGI bisa merebut pasar lebih besar di tahun mendatang. Ia melihat faktor pemasaran dan iklan yang membuat GGI kalah pamor dibanding pendatang baru lainnya. ?Kami selalu jaga kualitas dengan menggunakan teknologi Jerman. Tenaga ahli kami juga dididik di Jerman. Selain itu, tiap 6 bulan, produk kami diuji oleh Departemen Pertambangan dan Energi,? ujarnya. ?Harga (produk) kami juga kompetitif,? tambahnya meyakinkan.
Disadarinya, masyarakat masih terpesona oleh merek-merek pelumas luar. Di sinilah ia harus melakukan perbaikan. Program edukasi dan iklan, baik below the line maupun above the line, sudah disiapkan. Tanpa menyebutkan anggaran iklannya, ia yakin, dengan beriklan gencar, pamor GGI akan terangkat. Ia melihat potensi pasar anak muda menarik digarap. ?Kami akan membuat event anak muda yang sesuai dengan produk pelumas,? katanya tanpa merinci seperti apa event-nya.
Selain itu, Roy mulai gencar mendekati bengkel-bengkel untuk membangun awareness merek GGI di benak konsumen, serta mulai memosisikan produknya untuk segala segmen konsumen. Ia berencana melakukan safari pemasaran ke seluruh Indonesia tahun depan, untuk meningkatkan awareness merek GGI di benak konsumen. ?Awalnya, oli ini kan khusus untuk motor dan sasaran pasarnya kelas bawah,? tuturnya. Kini, pelumas merek GGI juga tersedia untuk mobil dan mesin pabrik.
Dengan total 200-an karyawan dan kapasitas produksi 3-4 ribu drum/bulan, Roy yakin, GGI bisa meningkat pangsa pasarnya hingga 10%-20% tahun depan. ?Sekarang kan masih belasan.?
Keseriusan menekuni bisnis memang harus dimulai Roy sekarang. Di usianya yang menginjak 51 tahun, ia menyadari, masa pensiunnya di dunia hiburan sudah dekat. ?Saya ingin lebih dekat dengan keluarga dan terjun di kegiatan sosial,? kata pria yang berprinsip ?Jangan pernah berhenti pada kesulitan? ini.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.