Aviliani: Melek Investasi, Tapi Risk Averse
Saat ditemui di kantornya, Gedung BRI I Lantai 16, penampilan Aviliani jauh dari gambaran ekonom umumnya yang berwajah serius dan konservatif. Tak mengurangi cara berpikirnya yang smart, Aviliani menunjukkan penampilan yang chic dan modis. Busana kerjanya sack dress tanpa lengan dipadukan dengan blus panjang bermotif, menambah cantik wanita yang rambutnya dicat kecokelatan itu. Apalagi, lehernya dihiasi kalung dari batu-batuan dan jari-jemarinya dilingkari beberapa cincin berlian.
Berlian baru dipakai Aviliani belakangan. Ini pun, ia mengungkapkan, atas pengaruh teman-temannya. Maklumlah, seiring dengan meningkatnya taraf hidup, pergaulan Avialiani pun merambah ke kalangan atas. Menurutnya, berlian bermanfaat ganda: untuk menghias diri sekaligus investasi. Sayang, hingga kini ia belum pernah menikmati return yang signifikan. Ia sulit mencari orang-orang yang gemar berlian untuk membeli koleksinya. Biasanya, jika ia sudah bosan memakai, perhiasan berlian akan dilego ke toko. Konsekuensinya, harga dipotong 30% dari nilai pasaran.
Dulu berlian belum masuk bayangan investasi Aviliani. “Awal saya bekerja, masih jadi dosen, dan dosen itu kan nggak punya duit banyak,†tutur Aviliani yang mengawali karier di STIE Perbanas Jakarta (1989-2002), lalu pindah ke Universitas Paramadina (2002-05), dan terakhir di STIE Nusantara (2005-sekarang). Maka, yang diprioritaskan baru investasi dalam bentuk tabungan, rumah, dan mobil sederhana.
Aviliani pertama-tama melirik investasi di properti, yakni rumah dan apartemen. Sebagai investor pemula, Komisaris Independen Bank Rakyat Indonesia ini menjajal membeli apartemen ukuran kecil di Taman Surya, Daan Mogot, Jakarta Barat. Selanjutnya, agar bisa menghemat biaya tansportasi, ia pindah ke tengah kota. Lalu dibelilah sebuah apartemen lagi, tepatnya di Apartemen Permata Eksekutif, Pos Pengumben, Jak-Bar.
Tak puas hanya punya apartemen, Aviliani juga membeli landed house. Lokasinya di Perum Permata Mediterania. Pertimbangannya waktu itu, karena punya anak kecil yang butuh ruang bermain yang agak luas. Mau tidak mau ia harus membeli rumah yang lebih besar. “Waktu itu saya nggak berpikir apakah dana saya cukup atau tidak. Yang jelas, kian lama nilai uang itu mengecil. Jadi, lebih baik diinvestasikan ke properti,†ujar ibu dari Ismi Hadiani Putri (5 tahun) ini. Maka, ia pun membeli rumah yang yang ditawarkan Grup Agung Podomoro, meski baru berupa gambar. “Beli gambar properti itu termasuk strategi investasi juga lho,†katanya. Terlebih, ia sudah tahu siapa pengembangnya dan bagaimana reputasinya. Ia telah memprediksi sedari awal bahwa rumah yang dibelinya dalam beberapa tahun akan naik berkali lipat. Ternyata benar, dalam dua tahun harga rumahnya melonjak dua kali lipat dari Rp 400 jutaan menjadi Rp 800 jutaan. Tentu saja, ia bak mendapat durian runtuh. Sebab begitu rumah diserahkan dan pembayaran belum tunai, harganya sudah naik 100%.
Dalam membeli properti, Aviliani lebih memilih cara mencicil, bukan bayar tunai. Pasalnya, tujuan transaksi itu untuk ditempati sendiri yang time horizon-nya jangka panjang. Pun, faktanya, harga properti dari tahun ke tahun meningkat karena stok terbatas, sementara peminatnya banyak. Di sisi lain, inflasi tiap tahun terus naik, sehingga menggerogoti nilai riil uang. Sebaliknya jika untuk dijual kembali, lebih baik properti dibeli dengan tunai. Alasannya, di awal-awal umumnya harga properti masih murah, sehingga lebih cepat dibayar tunai karena keburu harganya naik lagi. Dengan jangka yang pendek itu, biasanya pedagang properti berharap mendapatkan untung.
Lantaran sudah menempati rumah baru, apartemennya disewakan. Menurutnya, ada keuntungan tersendiri jika membeli apartemen yang nonmewah. Yakni, lebih gampang mencari calon penyewa, yakni dari kalangan mahasiswa dan karyawan, dengan tarif sewa Rp 1,7 juta/bulan. Lagi-lagi wanita yang sedang menyelesesaikan pendidikan S-3 manajemen bisnis di Institut Pertanian Bogor ini merasa beruntung dengan investasi apartemennya. Selain nilai aset terus naik, ia juga beroleh tambahan passive income.
Selain properti, investasi sektor keuangan yang dirambah Aviliani adalah Obligasi Negara Ritel (ORI) dan deposito. Memang, dia piawai jika bicara soal ekonomi makro, perbankan, dan investasi, tapi jenis instrumen investasi yang dipilihnya masih konservatif dan tidak terdiversifikasi dengan beragam. Ia tergiur membeli ORI karena tren bunga ke depan akan turun. Jadi, menurutnya, kalau beli obligasi dari sekarang, paling tidak dalam tiga tahun dapat bunga (kupon) tetap. Lagi pula, risiko obligasi pemerintah tidak terlalu tinggi. ORI itu dibelinya pada 2005. Peluang return? “Spread ORI dengan tabungan dan deposito sebesar 2%-3%. Jadi, sekitar itulah untungnya dan untuk jangka waktu tiga tahun masih aman,†ujarnya. Berbeda dari deposito yang begitu SBI turun, bunganya otomatis juga melorot.
Unit link adalah instrumen keuangan yang dipilih Aviliani berikutnya. Baginya, unit link memiliki daya tarik selain proteksi juga investasi. “Kalau beli asuransi saja, saya tidak tertarik,†ujar wanita kelahiran Malang, 14 Desember 1961 itu. Mengapa? Ia menilai, hingga kini pengelolaan dana perusahaan asuransi sifatnya masih jangka pendek, misalnya deposito. Alhasil, ia belum yakin adanya perusahaan asuransi yang menjamin portofolio nasabah hingga jangka panjang. “Jadi, saya berpikir belum tentu perusahaan asuransi bisa bayar klaim kita saat jatuh tempo di masa mendatang. Mendingan beli unit link karena masih ada nilai investasinya,†ujar eksekutif yang hanya memiliki produk asuransi atas fasilitas kantor.
Sektor riil juga menjadi pilihan investasi Aviliani. Bentuknya, pertama, usaha kredit barang-barang elektronik di bawah PT Artamedia Ventura Insanmadani (AVI) yang berbasis di Bogor. Kredit itu disalurkan ke kampung-kampung lewat kelompok arisan. Bunganya sekitar 30% setahun. Usaha ini dirintis sejak 2006 dengan modal patungan bersama rekannya di INDEF, Iman Sugema. Masing-masing pemodal menggelontorkan dana Rp 175 juta. Jenis barang elektroniknya berganti-ganti, umpamanya mixer dan blender. “Mereknya nggak terkenal, yang penting harga murah dan servis bagus,†ujarnya sembari menambahkan, kini yang sedang tren kompor gas. Sekarang AVI, yang berekspansi ke Kuningan dan Tangerang, memiliki empat cabang. Juga, mempekerjakan 30 karyawan di bagian pemasaran, demo cara pengoperasian alat, administrasi, dan penagihan. Menurutnya, pinjaman untuk orang kecil ini justru kredit macetnya kecil.
Aviliani tidak menyangka dalam setahun AVI sudah kembali modal. Bahkan, dikembangkan dengan pola waralaba. Biaya investasi waralabanya dibanderol Rp 200 juta, sudah termasuk biaya sewa tempat dan perlengkapan. Sistemnya bagi hasil. “Soalnya kami yang mengelola, sedangkan investor cukup taruh uang saja,†kata investor yang berencana membeli reksa dana atau saham perbankan saat penawaran perdana itu. Ia juga berbisnis penyewaan tenda pesta. Usaha yang didirikan dengan modal Rp 150 juta pada 2005 ini setiap bulan menghasilkan omset sekitar Rp 15 juta. Keuntungan usaha ini disumbangkan ke anak-anak yatim.
Aviliani berencana mengubah strategi portofolionya bila pensiun tiba. “Investasi sektor riil digedein,†ujar wanita berkacamata ini. Adapun usaha yang diincarnya ada dua: membuat sekolah khusus anak balita, yang bisa membangun generasi berkualitas, dan mendirikan lembaga pelatihan. Dengan pengalaman mengajar di perguruan tinggi selama 20 tahun lebih, ia memahami betul pendidikan sektor informal apa saja yang dibutuhkan pasar. Misalnya, pelatihan tentang mengidentifikasi produk unggulan, pembiayaan usaha kecil-menengah, serta membaca dan membuat laporan keuangan.
BOKS:
Gaya dan Strategi Investasi Aviliani
Investasi yang Dipilih:
Properti 50%, ORI dan deposito 30%, sisanya tersebar di berlian, sektor riil, plus unit link. Strategi investasi propertinya: memilih pengembang yang reputasinya baik, membeli dengan cara non cash jika untuk ditempati sendiri. Bila propertinya lebih dari satu, bisa disewakan untuk passive income. Strategi investasi sektor riil: memilih usaha yang risikonya kecil dan cepat balik modal. Kalau bisa, usaha itu mampu memberdayakan tenaga kerja.
Investasi yang Akan Dimasuki: – Reksa dana, khususnya reksa dana pendapatan tetap. Prospeknya bagus, karena membantu nasabah untuk mendiversifikasi portofolionya tanpa investasi langsung di instrumen yang dikehendaki. Saham perbankan, terutama saham yang ditawarkan di pasar perdana karena pasti memetik untung.
Investasi yang Belum Dimasuki: Saham nonbank, karena belum berani ambil risiko tinggi. Ruko. Alasannya: ke depan akan terjadi kelebihan pasokan karena mal dan pertokoan dibangun di mana-mana dan penyewanya jarang. Lahan kosong, lantaran kenaikan harganya tidak signifikan.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.