Home » Updates » Ayofoto.com: Dari Hobi Jadi Bisnis Miliaran Rupiah

Ayofoto.com: Dari Hobi Jadi Bisnis Miliaran Rupiah

“Anda tahu bagaimana membuat foto bagus? Kami tahu bagaimana mendapatkan uang dari situ.” Demikian slogan citra yang disuarakan situs Ayofoto.com (www.ayofoto.com) — situs online photo agency yang mempertemukan penjual dan pembeli foto lewat Internet. Kini, situs komunitas bagi para penggemar fotografi itu sudah memiliki 35 ribu anggota.

Ayofoto.com mulai dikembangkan Dibya Pradana pada September 2005, dengan investasi pertama Rp 125 juta. Tujuan awalnya, sekadar menjadi media komunitas bagi para penggemar fotografi, sekaligus tempat belajar mengenai bidang ini. Ini sejalan dengan hobi Dibya. “Awalnya, situs itu ditujukan untuk mengakomodasi masyarakat yang ingin mengembangkan kemampuan fotografinya dari dasar,” ujarnya.

Kini, Ayofoto.com tidak hanya menjadi media komunitas, tetapi juga agensi foto online. Di situs itu para penggemar fotografi bisa melakukan transaksi jual-beli foto hasil karyanya. Bagaimana mekanisme jual-belinya? Dijelaskan pria kelahiran Jayapura, 8 September 1975 itu, yang ingin menjual foto terlebih dulu mesti mendaftar sebagai anggota dengan tipe keanggotaan Pro-Account. Lalu, foto yang akan dijual diunggah (upload) dalam ukuran asli. Namun, hanya anggota yang membayar iuran yang bisa menjual fotonya. Besar iurannya Rp 250-300 ribu/tahun.

Selanjutnya, foto-foto yang masuk dari para anggota diseleksi menggunakan mekanisme crowd sourcing — penyaringan berdasarkan pendapat anggota Ayofoto.com lainnya. Satu foto untuk bisa masuk dalam galeri wallpaper telepon seluler, misalnya, harus melalui tahapan kurasi, yakni dikomentari minimal 40 orang. “Tidak perlu kita kurasi secara mendalam. Logikanya kalau ada satu foto yang membuat orang sebanyak itu berkomentar, pasti menarik,” ucap Dibya.

Setelah syarat terpenuhi, nanti akan ada konfirmasi via surat elektronik ke pengirim foto untuk menanyakan dijual atau tidaknya foto tersebut. Namun, ketika foto terjual, uang tidak langsung ditransfer. Uang hasil penjualan akan ditransfer setelah jumlah foto mencapai kuota tertentu. “Pembayaran iuran ditujukan untuk membedakan antara anggota yang hanya berbagi foto dan yang sudah mulai serius menjualnya. Jadi, yang tidak mengikuti program keanggotaan berbayar tidak bisa menjual fotonya,” Dibya menjelaskan.

Adapun calon pembeli terlebih dulu harus membeli “credit” sesuai dengan kebutuhan. Jumlah credit akan berkurang sebanyak harga credit foto yang dibeli. Selanjutnya, foto yang dibeli dapat langsung diunduh (download). Pada 2006 hanya ada 300 pengunduhan foto wallpaper per bulan, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya jumlah pengunduhan mengalami lonjakan luar biasa. Pada 2007, jumlahnya 1.500 pengunduhan/bulan, meningkat menjadi 3.000 pengunduhan/bulan pada 2008, dan 5.000 pengunduhan/bulan pada 2009. “Tahun 2010 ditargetkan bisa 20 ribu pengunduhan/bulan. Karena tahun ini kami membuka layanan application programming interface (API), orang bisa terkoneksi B2B secara otomatis ke Ayofoto.com untuk melakukan penjualan,” kata Dibya.

Ya, sejak tahun lalu, lulusan Teknik Sipil Universitas Trisakti itu memperluas jualan fotonya ke kalangan industri dan korporasi. Dengan menerapkan konsep dagang seperti yang dilakukan situs-situs jual-beli foto di luar negeri seperti Micro Stock Photo, Dibya memperkenalkan layanan Stock Photo Agency. Target pasarnya kalangan korporasi dan industri. Mengingat masih baru, sejauh ini rate pengunduhan di layanan korporat masih di bawah 100 per bulan (dengan pola beli putus). Ayofoto sudah bekerja sama dengan empat content provider (CP) yang terkoneksi dengan seluruh operator GSM dan CDMA, dan ditargetkan jumlah mitra CP naik tiga kali lipat dengan adanya API. “Kami ingin membuat kalangan industri melihat bahwa apa pun yang berhubungan dengan foto identik dengan Ayofoto.com ,” ujar mantan Manajer Teknologi Informasi PT Arita Mobile Internasional itu.

Harga foto yang dijual di Ayofoto.com bervariasi. Harga wallpaper ponsel mulai dari Rp 5 ribu per foto. Untuk kepentingan promo digital (seperti presentasi atau website), harganya mulai dari Rp 40 ribu per foto. Adapun untuk keperluan cetak korporasi, harganya Rp 3-4 juta per foto, dengan ketentuan jual-beli putus.

Berapa persen margin hasil penjualan dari tiap foto yang diambil Ayofoto.com? Menurut Dibya, berbeda-beda, tergantung pada apa yang dijual. Marginnya 10%-60%. Ia mengaku pada 2009 total omset Ayofoto.com — dari semua revenue stream, termasuk iklan dan berbagai layanan korporasi — mencapai Rp 2,5 miliar. “Untuk tahun 2010 kami targetkan bisa naik minimal dua kali,” katanya optimistis.

Selain mampu menghimpun puluhan ribu anggota dan pengunduh, kreasi Dibya melalui Ayofoto.com pun diapresiasi berbagai kalangan. Misalnya, Yabud Setiabudi yang sudah tiga tahun menjadi anggotanya. “Ayofoto itu kreatif, seperti game. Itu yang membuat saya dan teman-teman terpacu meng-upload foto banyak-banyak,” ujar lelaki yang sehari-hari menjabat Manajer Bagian Pengembangan Dealer PT Suzuki Indomobil Sales itu.

Foto-foto Yabud paling banyak diunduh untuk wallpaper ponsel. Total pengunduhan fotonya mencapai 1.222. “Kalau diuangkan mencapai Rp 684 ribu. Uang itu akan cair jika mencapai dua ribu download,” ia menjelaskan. Anggota lain yang karyanya paling banyak dibeli, terutama oleh kalangan industri, adalah Antonyus Bunjamin. Manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi itu sudah tiga tahun menjadi anggota Ayofoto.com, dan telah mengunggah lebih dari 100 foto. “Saya masuk menjadi anggota komunitas Ayofoto.com, karena ingin mendapatkan saran dan kritik atas foto-foto yang saya buat. Kalau ada yang memberikan komentar, kita bisa tahu kekurangannya,” ujar Anton.

Di samping mendapatkan apresiasi dari anggotanya, Ayofoto.com pernah memenangi dua ajang penghargaan berturut-turut, yaitu Indonesia ICT Awards 2009 kategori e-Business-KUKM dan Bubu Awards V.06 kategori Corporate Indonesia Social Media Web. Dalam ajang Indigo Fellowship 2009 yang diadakan Telkom, Ayofoto.com juga menjadi pemenang untuk kategori Karya Cipta Kreatif. Situs ini pun memperoleh penghargaan Layanan Promo Perangkat Bergerak Terbaik Ericsson 2009. Dan, yang terbaru, menjadi finalis Asia Pacific ICT Awards di Australia tahun lalu.

Ya, Ayofoto.com kini bukan cuma media penyaluran hobi sang pendiri.


Reportase: Rias Andriati

SHARE SOCIAL MEDIA


RELATED POSTS

Sorry, no related post.
Tags: ,
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

One Comment

  1. Unji says:

    salamualaiqum sy jg punya account di Ayofoto cuma yg free, utk belajar saja. Cuman yg mjd uneg2 sy stelah bc artikel d atas adlh ketika foto2 anggota yg free ada yg ingin mendowload apakah jg d hargai oleh Ayofoto soalnya kita sdh ada kesepakatan d depan yg intinya kita tdk bs menuntut apa2. Trimakasih

LEAVE A REPLY


+ 7 = nine