Azrul Ananda, Bos Baru Jawa Pos?

Azrul Ananda, Bos Baru Jawa Pos?

Setahun belakangan, ia mereposisi dan memutasi beberapa wartawan senior. “Saya ingin jajaran redaksi GJP dipimpin oleh anak muda di bawah usia 35 tahun,” tandas Ulik, demikian Azrul akrab disapa.

Ulik bukan komandan di perusahaan yang beraset Rp 1,2 triliun itu. Pada susunan redaksi Jawa Pos (JP), namanya tercantum dalam jajaran redaktur. Namun, putra sulung CEO GJP Dahlan Iskan ini, telah diberi kepercayaan dan wewenang besar. Sejak September lalu, ia ditahbiskan memimpin pertemuan rutin yang diadakan saban Kamis. “Kami sering disebut dengan Majelis Kemisan (MK),” kata Ulik.

MK berstatus semiformal dan tidak tercatat dalam buku putih struktur organisasi GJP. Namun, ?cengkeramannya? telah melahirkan sepasukan barisan sakit hati. Sumber SWA yang tidak bersedia disebut jati dirinya mengungkapkan, keputusan Ulik mereposisi jajaran direksi menjadi lebih muda dan memasukkan beberapa awak rubrik Deteksi ke rubrik-rubrik lain, dianggap memorak-porandakan kesolidan GJP.

Mereka tidak yakin, keputusan tersebut akan berdampak positif bagi pertumbuhan GJP di masa mendatang. Anak muda dinilai lebih labil, terlalu berani, kurang memperhatikan tata krama kesantunan dan kearifan yang sudah lama hidup dan terpatri di dada para awak GJP. “Mari kita buktikan, apakah keputusan saya meremajakan jajaran redaksi GJP itu salah ataukah benar. Kalau salah, saya akan terima dengan lapang dada,” tantang Ulik mengomentari tudingan ke arahnya.

Menurutnya, majelis yang dipimpinnya justru menjadi kawah candradimuka bagi upaya teknis dalam hal evaluasi dan penumbuhkembangan kinerja GJP supaya lebih mantap ke depan. Anggota MK, sebanyak 10 orang, berasal dari perwakilan seluruh unsur yang ada di dalam tubuh GJP. Posisi MK dalam struktur organisasi perusahaan tidak di bawah garis lurus divisi pengembangan usaha, tapi justru langsung di bawah komando direksi dengan kewenangan merekomendasikan apa pun dengan tujuan akhir kemajuan perusahaan. “Selama tidak di-voting oleh direksi, rekomendasi hasil MK berarti bisa dijalankan,” tegas penggemar balap mobil F-1 ini. Menurut Pemimpin Redaksi JP, Arief Afandi, “MK agak mirip lembaga think tank GJP,” katanya.

Tak hanya mereposisi jajaran redaksi, dalam dua bulan terakhir, MK pun melahirkan beberapa produk untuk konsumsi eksternal dan internal. Untuk konsumsi eksternal, semisal Program Lajur Kiri Berhadiah, Ramai-Ramai Bersih Pantai, Stren Kali, dan Lomba Mading Tingkat Pelajar. Adapun yang internal, antara lain penambahan halaman olah raga tanpa diikuti perekrutan wartawan baru. “Optimalisasi produktivitas wartawan,” ungkap Ulik.

Masih menurut sumber SWA, kewenangan besar yang digenggam Ulik tak hanya mendapat resistensi dari dalam. Para mitra GJP pun sepertinya masih memandang sebelah mata kepada anak muda ini. “Kalau rapat membicarakan kerja sama, klien maunya bertemu Dahlan Iskan langsung. Kalau disodori Azrul, sepertinya mereka kecewa,” papar sumber tadi.

Dalam pandangan Arief, akar persoalan dampak masuknya Ulik ke dalam jajaran manajemen GJP — meski secara de jure belum — terletak pada gaya komunikasinya. Ia menilai Ulik jarang melihat manusia dalam satu kesatuan utuh, yang tidak hanya bekerja semata. Namun, juga memiliki keluarga, harga diri serta kesopanan dan kesantunan atau unggah-ungguh. “Di dalam MK, sebenarnya kepribadian Ulik ditempa agar sesuai harapan banyak orang. Kami berharap kemampuan manajerialnya akan lebih terasah sehingga menjadi lebih arif dan santun dalam mengambil keputusan,” harap Arief. Toh, Arief meyakini, putra sulung Dahkan ini ke depan laksana air yang mampu meliukkan tubuhnya, menyesuaikan diri dengan lekuk-lekuk lingkungan di mana dia berada.

Bak anjing menggonggong, kafilah berlalu, Ulik bergeming. Tatkala pertama kali bergabung dengan JP dan dipercaya memimpin rubrik Deteksi, reaksi penentangan datang silih berganti dari berbagai sudut. Menurutnya, terbukti Deteksi direspons pasar dan mempunyai segmen pasar masa depan (remaja) tersendiri. Bahkan, dituturkan Ulik, riset AC Nielsen malah menyimpulkan, Deteksi merupakan bagian tak terpisahkan dari JP. “Itu kan bukti kongkret bahwa gagasan saya tidak salah,” kata Ulik yang memilih celana pendek selutut sebagai pakaian kantornya.

Meski kasak-kusuk di GJP menyebut Ulik secara de facto adalah komandan baru GJP, ia tak mau sesumbar memproklamasikan diri. “Abah (maksudnya, Dahlan Iskan ? Red.), mempunyai alat ukur sendiri, yang saya sendiri tidak tahu. Abah cuma bilang begini, kalau nilaimu cuma 7, kamu tidak bisa memimpin GJP. Saya punya calon yang nilainya 8,” tutur Ulik menirukan pesan Dahlan.

Ulik mengaku jika secara de jure ia memimpin GJP, bayang-bayang kebesaran Dahlan tak bisa begitu saja lepas dari dirinya. Yang pasti, ia menargetkan akan memperbesar gelembung prestasi yang telah ditorehkan sang ayah. Menurutnya, orang akan angkat topi tinggi-tinggi jika ia mampu mengembangkan GJP menjadi jauh lebih besar lagi. “Mereka akan mengakui, di bawah pimpinan generasi kedua, GJP makin kokoh,” ujarnya. Ya, kita tunggu saja.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag