Bagi-bagi Ilmu ala Bogasari

Bagi-bagi Ilmu ala Bogasari

Yang jelas, ratusan pengusaha bakeri itu bukan hendak berdemo, melainkan datang atas undangan manajemen PT ISM Bogasari Flour Mills. Mau ada rapat besar antara produsen tepung dan para pebisnis UKM itu? Ternyata, mereka diundang untuk menyaksikan demo pembuatan Taiwannese Bread & Mooncake. Bekerja sama dengan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dan Asosiasi Gandum Amerika Serikat (US Wheat), Bogasari mendatangkan Zhang Hong Bin, yang dikenal sebagai master bakeri dari Taiwan.

Kehadiran Zhang yang berpengalaman 30 tahun di dunia bakeri ternyata mampu menjadi magnet bagi para pengusaha bakeri lokal. Lihat saja, jumlah peminat yang mendaftar untuk melihat demo itu mencapai 1.500 orang.

Menurut Philip S. Purnama, Chief Commercial Officer Bogasari, angka peminat sebanyak itu tersebar di tiga kota: Jakarta (16/7), Medan (18/7) dan Surabaya (21/7). Di Jakarta, acara demo ini digelar di ruang Diamond, Hotel Nikko. Meskipun panitia menyediakan sekitar 400 kursi, yang hadir ternyata lebih banyak, sehingga beberapa peserta harus rela berdiri.

Bukan pertama kalinya Bogasari mengundang master di bidang masak-memasak — sebab sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Seperti dituturkan Philip, dalam setahun pihaknya mengagendakan mengundang 6 master dari mancanegara. Master yang telah melakukan demo masak, antara lain: Jacques Paillard dari Prancis (menampilkan roti dan kue berbahan dasar buah durian), Manfred Lange dari Jerman (mendemokan resep dari negara-negara Eropa), David Brenan dari Prancis (memberikan tip tentang variasi produk roti-rotian), dan Darry Spooner dari Australia (memperkenalkan teknik baru membuat cokelat kering).

Untuk event ini, kata Philip, Bogasari menganggarkan biaya sekitar US$ 25 ribu. Menurutnya, dengan kehadiran Zhang diharapkan para pengusaha bakeri lokal dapat menggali lebih banyak lagi tren baru di bisnis bakeri, sehingga bisa membantu mereka meningkatkan omset usaha. “Kami hanya memberi kail, bukan ikannya,” ujar Philip. Yakni, merangsang pengusaha bakeri berinovasi membuat produk baru, ketimbang Bogasari memberikan diskon ataupun melakukan cara-cara promosi lainnya.

Alasan lain menghadirkan Zhang, menurut Philip, sebagai salah satu upaya Bogasari mengantar industri bakeri di Indonesia menuju ke taraf internasional. Apalagi, katanya, saat ini produk roti kontinental telah tergeser dengan hadirnya produk oriental (roti asal Jepang dan Taiwan) yang dianggap lebih pas dengan selera masyarakat Indonesia. “Kami berusaha agar pengusaha bakeri kita mampu berkreasi menghasilkan produk yang sesuai dengan citarasa Indonesia,” katanya.

Dengan menggelar acara tadi, menurut Philip, ada dua target yang ingin dicapai. Pertama, target pemasaran, yakni meningkatkan loyalitas pelanggan untuk menggunakan terigu lokal. “Kami memang menargetkan pertumbuhan pangsa pasar di industri roti 5%-10%/tahun,” tutur Philip. Kedua, target misi sosial, yakni mengembangkan usaha mereka agar lebih banyak lagi tenaga kerja yang bisa diserap. Alasan Philip, industri bakeri merupakan industri yang paling mudah dimasuki pengusaha makanan, dibanding industri mi kering ataupun mi basah. “Dengan modal sekitar Rp 50 juta, Anda sudah bisa bisnis di sini,” ia menambahkan. Selain itu, inovasi rasa lebih dimungkinkan di industri bakeri.

Philip menilai event edukasi seperti ini punya efektivitas luar biasa. Pasalnya, dari 10 ribu pengusaha bakeri 95% diperkirakan menggunakan terigu lokal. “Pemakaian terigu lokal di industri bakeri relatif lebih kuat dibanding industri mi instan,” ujar Philip. Berdasarkan catatan Bogasari, tahun lalu dari 3,2 juta ton konsumsi terigu di Indonesia, dikonsumsi oleh industri bakeri sekitar 20% (600 ribu ton/tahun), disusul mi basah 30%, mi kering dan instan 30%, sisanya dikonsumsi rumah tangga. Di Indonesia, diperkirakan pangsa pasar Bogasari di pasar terigu sekitar 70%.

Philip menyebutkan, untuk meningkatkan omset agar bisa tumbuh sekitar 10% dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 6 triliun, acara tersebut hanyalah salah satu upaya pemasaran Bogasari. Aktivitas lain, misalnya Bogasari Expo 2003, Bogasari Baking Center, Road Show bersama Ike Nurjanah dan co–branding dengan beberapa merek roti ternama (seperti Sari Roti, Holland Bakery dan lain-lain). “Hingga akhir tahun, kami akan co-branding dengan 40-50 mitra,” kata Philip.

Rita Sadrach, Pemilik Anfer Cake, salah seorang peserta yang menyaksikan demo, mengakui event seperti ini sangat berguna menambah pengetahuannya dalam pembuatan roti. “Apalagi disajikan oleh master bakeri,” kata Rita.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag