Balada Para Pecinta Batik Tulis
Batik kaya nilai filosofis. Tak heranlah, man behind the batik selalu menggelitik para penggemarnya untuk menggali ilmunya lebih dalam. Masing-masing motif mencerminkan filosofi dan kondisi ketika proses pembatikan berlangsung. Itulah sebabnya, batik juga menunjukkan sense of art pembatiknya.
“Begitu saya mengetahui bagaimana sulitnya cara pembuatan batik, saya sangat menghargainya,†ujar Inti Nusantari Subagio, kolektor batik tulis. Di mata Inti, batik tulis menggambarkan sejarah dan karakter kehidupan si pembatik. Kesulitan pembuatannya membuat dia sangat terharu. Sembari meraba-raba kain batik tulis miliknya, jarinya ikut menelusuri alur guratan kain batik itu. “Lihat deh, ini kan sulit sekali membuatnya. Mereka (pembatik) membatik bolak-balik, persis sama motif dan warnanya, depan dan belakang,†ujar pengurus Yayasan Pesona Kain Indonesia itu dengan rasa kagum.
Batik juga menunjukkan kapan momen untuk mengenakannya. “Ada motif batik yang digunakan pada acara pernikahan dan kematian,†tutur Krisnina Akbar Tanjung, yang mulai serius mendalami filosofi batik ketika kuliah program Pascasarjana Kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia, tahun 1990.
Sementara kesukaan Aswin Wirjadi pada batik dimulai 5-6 tahun lalu. “Ketika melihat proses pembuatannya, saya luar biasa kagum. Dari satu warna ke warna lain dan bagaimana menutup satu motif untuk membuat motif lainnya itu luar biasa sulitnya,†ungkap mantan Wapresdir BCA, yang kecintaannya pada batik berlanjut hingga kini.
Setelah itu, kegandrungannya pada batik meningkat ke keunikan filosofi yang tertuang di atas selembar kain. Pria yang kini Preskom Majalah Financial Wealth itu mengatakan, “Ternyata mendesain itu tidak sekadar menggabungkan motif, tapi masing-masing mempunyai filosofi.†Keseriusan Aswin mengoleksi batik berlangsung dua tahun terakhir. Kebetulan, saat itu dia sudah pensiun, sehingga memiliki banyak waktu luang untuk memperhatikan dunia batik.
Lain lagi dengan cerita Inti ihwal dia tertarik batik. Dia mengaku tergiur batik sejak awal menikah dengan Subagio, pengusaha telekomunikasi, pada 30 tahun silam. Apalagi, waktu itu dia secara tidak sengaja membeli batik tulis dari perancang mode Iwan Tirta yang rumahnya sama-sama di Menteng, Jakarta Pusat.
Untuk asal daerah pembuatan, rata-rata penggemar batik menyukai batik Pekalongan. Krisnina mengidolakan batik peranakan Pekalongan. Alasannya, motif dan warnanya memukau dengan corak yang cerah, lantaran sudah maju dalam teknologi pewarnaan. “Ck…ck…ck… warnanya cantik sekali,†ucapnya berdecak kagum sembari memegang lembaran kain batik berwarna kekuningan kombinasi hijau dengan motif bunga-bunga yang digelar di atas meja.
Penggerak komunitas pedagang batik di Kampung Laweyan itu mengatakan batik Oey Tjoe Soen (OTS) itu masterpiece-nya batik peranakan. Jenis batik OTS yang langka dan paling bagus bisa dihargai Rp 50 juta per lembar. Manakala jalan-jalan di Bali 10 tahun lalu, dia pernah menemukan karya OTS di sebuah toko barang antik. “Kalau yang ini namanya motif pagi sore, motif yang ada sisi kanan berbeda dari sisi kiri. Orang zaman dulu bisa menggunakannya pada pagi dan sore hari dengan motif yang berlainan,†tutur Krisnina sambil menunjuk kain batik OTS.
Menurut istri mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung itu, karya batik yang dibuat di zaman peranakan Cina paling bagus. Maka, pada perayaan Cap Go Meh 2009, dia menggelar pameran batik yang sarat motif tersebut di rumahnya dan dihadiri kalangan sosialita Jakarta. Saat itu harga per lembar batik yang dipamerkan berkisar Rp 15-50 juta.
Inti pun jatuh hati pada batik Pekalongan. “Batik Pekalongan itu bagus sekali. Ya, nggak apa-apa kalau mahal asalkan kainnya kuno. Sebab batik itu dibuat cuma satu dan saya tidak mungkin mendapatkannya di lain waktu,†paparnya tentang batik ala encim Pekalongan bermotif bunga hasil perburuannya itu. Saking sukanya pada batik, dia melakukan repro pada pembatik binaannya.
Beragam jenis batik menghiasi koleksi para penggemarnya. Coba tengok ke lemari Aswin yang khusus untuk menyimpan batik. Di sana ada batik Tiga Negeri, Empat Negeri, Hokokai. Ketiganya merupakan batik Pekalongan. Beberapa di antara batik itu adalah warisan dari ibu dan neneknya. Dia juga melengkapi koleksinya dengan karya Hardjono Go Tik Swan atau yang lebih dikenal dengan batik Go Tik Swan. Go Tik Swan adalah pelopor batik di Indonesia yang tersohor sejak zaman Presiden Soekarno dan harganya dikenal mahal. Namun, cepat-cepat Aswin meralat bahwa batik Go Tik Swan miliknya bukan dibeli sendiri, melainkan hadiah dari koleganya.
Batik OTS, Pekalongan Pagi Sore, Iwan Tirta, Baron, Obin Limaran meramaikan lemari batik Krisnina. “Ya, kebetulan saya mempunyai satu-satu (dari lima merek batik yang disebutkan) dan memiliki selendangnya juga,†ungkap Krisnina yang mengaku batik mahalnya tidak banyak, dan ogah menyebut berapa banyak koleksi batiknya.
Inti mengisi lemarinya dengan koleksi batik dari Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Limaran dan Go Tik Swan. Semua batik yang dikumpulkan itu berjumlah sekitar 100 potong. Dia tidak mematok waktu khusus kapan harus membeli batik. “Pertimbangan saya membeli batik tetap pada art-nya. Bisa saja sebulan beli 10 biji, tapi bisa juga dalam setahun nggak beli sama sekali,†tuturnya. Ya, bukan frekuensi yang dia kejar, melainkan kualitas produk dan motif batik yang eksklusif.
Banyak cerita di balik perburuan koleksi batik. Inti, umpamanya, mesti berburu hingga ke Pasar Bringharjo, Yogya, bersama teman-temannya. “Kebetulan di pasar itu saya mendapatkan kain kuno yang masih bagus,†kata wanita kelahiran Jakarta 30 September 1949 ini mengenang. Kain itu berasal dari koleksi sebuah keluarga pembatik di Yogya. Dalam perburuannya, dia tidak harus mendapatkan batik klasik saat itu juga. Kalau pun si penjual batik sedang tidak membawa cadangan batik kuno, dia bisa memesan pada kolega sesama penjual batik. “Harganya di Bringharjo masih murah. Tapi, semurah-murahnya bisa 10 kali lipat dari batik yang dijualnya sendiri,†tambah Inti sembari menyebut, harga batik kuno yang dibelinya senilai Rp 3,5 juta. Kadang kala, dia memperoleh batik kuno yang sudah robek. Lalu, bagian kain robek itu ditambalnya dengan tambalan khusus batik.
Aswin menyempatkan berburu batik di sela kesibukannya bekerja dulu. Ketika masih menjabat Wapresdir BCA, ada beberapa kesempatan meninjau cabang daerah. Jika ada waktu luang, dia menengok kampung batik di Pekalongan. “Saya sengaja minta diantar ke Pekalongan. Saya suka warna-warnanya yang ceria dan jenis batik tulis dari katun, bukan kain sutra,†paparnya. Setelah pensiun, perburuan batik dilanjutkan di sela-sela kegiatan sosialnya di Yayasan Buddha Tzu Chi. Toh, dia menegaskan, cara memperoleh batik tidak dapat dinamakan sebagai bentuk berburu. “Sekarang batik apa saja bisa diperoleh di Jakarta. Orang dari daerah banyak yang menjual di sini melalui pameran. Nah, di ajang pameran ini bisa digunakan untuk menambah koleksi,†katanya. Lama-kelamaan, dia memiliki jaringan pecinta batik yang luas. Untuk menambah koleksi, tak segan-segan dia memanfaatkan ajang komunitas itu.
Meski penggemar berat batik, bukan berarti Aswin main tabrak saja soal harga. “Tak ada anggaran khusus tiap bulan untuk beli batik,†tuturnya tandas. Kisaran harga koleksi batiknya paling mahal Rp 15 juta. Dia bukan tipikal kolektor yang mengikuti arus atau yang berani membeli batik dengan harga tidak logis. “Batik yang saya pakai sehari-hari ini paling-paling Rp 200 ribuan,†imbuh pria yang selalu membalut tubuhnya dengan batik bila menghadiri acara kegiatan sosial dan Yayasan Universitas Atma Jaya, Jakarta ini.
Krisnina setuju dengan Aswin. “Saya membeli batik tergantung pada kantong dan motifnya cocok apa nggak. Dan itu bisa menjadi pembelajaran di masa lalu. Apabila harganya tinggi sekali, saya tidak beli. Itu bukan jiwa saya,†ia menjelaskan. Ia juga tidak mengagendakan khusus untuk membeli batik saban bulan.
Bagi Inti, harga bukan persoalan besar. Dia mengungkapkan, tahun ini ia pernah membeli batik kuno Pekalongan seharga hampir Rp 40 juta. Itu adalah harga batik termahal yang pernah dimilikinya. “Saya dapatnya dari jaringan pertemanan yang mengenalkan pada sang penjual. Bentuknya kain encim Pekalongan dengan warna dasar merah muda,†ujar wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu.
Bagaimana dengan perawatannya? “Saya simpan saja di kamar tidur, karena ruangan ber-AC, maka udaranya kering,†tutur Aswin. Kain-kain batik koleksinya itu digantung di lemari dan diberi kapur barus. Baginya, sayang sekali apabila kain antik dari benang ringkih itu harus dilipat dan digulung. Dia merasa puas dengan memandangi koleksi batiknya di kamar, tidak perlu dipajang di ruang tamu atau ruang keluarga. “Cukup saya dan istri saja yang menikmati,†ucap eksekutif yang 28 tahun bergelut di dunia perbankan dan keuangan itu.
Berbeda dari Aswin yang cukup puas dengan memandangi batiknya di kamar, Krisnina mengatakan sebagian batiknya, “Digantung untuk dekorasi.†Dan perawatannya pun tak terlalu merepotkan. Menurutnya, yang penting dilipat atau digulung rapi, kemudian disimpan di lemari.
Cara Inti merawat koleksi batiknya juga sederhana. “Setahun tiga kali saya angin-anginkan. Kalau sudah kotor, saya rendam pakai lerak,†tuturnya. Bila ada kain batik yang diwiru (lipatan-lipatan kecil di tengah), dia akan memastikan bahwa kain itu telah digulung dengan baik. “Sehingga, wironan-nya nanti ada di tengah,†pemilik rumah Rehabilitasi Fun Campus, Cisarua, Jawa Barat itu menuturkan. Setelah digulung atau dilipat, lalu di sekitar batik diberi cengkeh untuk antingengat.
Kendati Aswin dan Krisnina mempunyai kain batik lumayan jumlahnya dan penggemar berat batik, mereka ogah disebut sebagai kolektor. Padahal, ketika datang ke beberapa kesempatan baik acara resmi maupun informal mereka sering mengenakan batik. Mengapa? “Koleksi saya belum sampai 100 batik. Jadi, belum pantas disebut kolektor,†kata Aswin membeberkan argumennya. Sementara itu, alasan yang dikemukakan Krisnina, “Daripada disimpan di lemari saja buat apa? Batik itu dibeli untuk dipakai. Saya bukan tipe penyimpan batik.†Selain itu, lanjutnya, “Saya jarang melihat sosok orang yang pantas disebut sebagai kolektor batik. Biasanya kolektor itu sudah sepuh, yang justru tidak memakai koleksi batik yang dibelinya.â€Â
Boleh jadi pendapat Krisnina benar. Buktinya, Inti yang sudah mengoleksi sekitar 100 batik sejak 30 tahun lalu dengan harga bervariasi (tertinggi Rp 40 juta), malah tidak pernah memakai batik pada acara resmi ataupun santai yang dia hadiri. Dia memiliki pertimbangan khusus dengan pilihannya itu. “Saya merasa perawakan saya kurang pantes memakai batik. Juga, pantang menjahitkan kain batik untuk dipotong menjadi baju. Kasihan kainnya. Paling-paling, kain batik itu saya jadikan selendang saja,†ungkap Inti yang ingin mewariskan koleksi batik kepada anak-anaknya. Sayang, buah hatinya belum ada yang tertarik menerima warisan berharga itu.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.