Â
Untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia tentang Single Presence Policy, akhirnya pemegang saham menyetujui PT Bank UOB Buana Tbk. (UOB Buana) merger dengan PT UOB Indonesia yang dijadwalkan akan dilakukan pada 30 Juni 2010. Kedua bank itu saham mayoritasnya dikuasai oleh UOB International Investment Private Limited, Singapura. Demikian hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa yang digelar pada Kamis (15/4).
Â
Bank hasil merger kedua bank itu disetujui menggunakan nama Banj UOB Buana. UOB Buana menjadi bank penerima penggabungan (surviving bank) dengan alasan, infrastruktur UOB Buana dianggap lebih baik dan lebih siap. “Cabang, sistem dan aplikasi UOB Buana lebih baik. Berdasarkan pengalaman kami merger, pemilihan ini wajar saja apalagi dalam penetrasi pasar ke depan,” ujar Direktur Utama UOB Buana, Armand B. Arief.
Â
Penggabungan kedua bank itu akan menyatukan dua segmen pasar berbeda, sehingga bank hasil merger menjadi lebih kuat. Sebelumnya UOB Buana dikenal kuat di segmen ritel, sedangkan UOB Indonesia fokus menggarapa pasar korporat. “UOB Buana yang sebelumnya terkonsentarsi pada bisnis consumer dan ritel, sedangkan UOB Indonesia lebih ke corporate banking. Dengan demikian akan terjadi sinergi yang baik, karena masing-masing akan mengisi lini bisnis yang menjadi unggulan. Setelah merger UOB Buana porsi bisnisnya 30% corporate dan 70% ritel,” ia menegaskan.
Â
Grup UOB juga telah menunjuk PT PricewaterhouseCoopers FAS sebagai penilai independen harga wajar UOB Indonesia dan UOB Buana. Harga saham UOB Buana ditetapkan sebesar Rp 637,47 per saham dan harga saham UOB Indonesia sebesar Rp 3,55 juta per saham. “Nilai harga wajar tidak berubah, tetap Rp 637,47, karena mengacu tahun buku 2009,” ia menambahkan.
Â
Sebelum merger, pemegang saham UOB Buana terdiri atas UOB International Investment Private Limited, Singapura (UOBII) sebesar 98,997%, Sukanta Tanudjaja sebanyak 1% dan PSM 0,003%. Sedangkan pemegang saham UOB Indonesia adalah UOBII sebesar 99% dan Sukanta Tanudjaja sebanyak 1%.
Â
Setelah merger, daftar pemegang saham UOB Buana akan menjadi UOBII sebanyak 68,942%, UOB 30,056%, Sukanta Tanudjaja 1% dan PSM 0,002%. “Total biaya merger diperkirakan sebesar Rp 6,928 miliar,†kata Armand.
Â
Hasil RUPST UOB Buana juga memutuskan, sepakat tidak membagikan dividen atas laba perseroan yang mencapai Rp 443,92 miliar pada tahun buku 2009. “Laba bersih yang dihasilkan telah disepakati sebagai laba ditahan dan akan digunakan sebagai tambahan struktur permodalan UOB Buana,” Armand mengungkapkan alasannya.
Â
Menurut Armnad, UOB Buana mencatatkan kenaikan tipis atas nilai kredit yang disalurkan  dari Rp 15,8 triliun menjadi Rp 15,9 triliun sepanjang triwulan I-2010. Kredit konsumer dan ritel tetap menjadi andalan perseroan pada fase ini, dan sepanjang tahun 2010.
Â
Sepanjang tiga bulan operasi tahun ini, perseroan pun mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp 186 miliar. Pada tahun 2009 sendiri UOB Buana berhasil mencatat laba Rp 443,92 miliar.
Â
Pada saat UOB Buana menggabungkan usahanya dengan UOB Indonesia di 30 Juni 2010, total aset perseroan diperkirakan mencapai Rp 38 triliun, dan terus merangkak naik hingga Rp 40-41 triliun hingga akhir tahun ini.
Â
“Dana pihak ketiga (DPK) sampai tanggal efektif merget sekitar Rp 31 triliun, dan akan menjadi Rp 33 triliun sepanjang tahun 2010,” jelasnya.
