Bernapas dan Terbebas

Bernapas dan Terbebas

Namun setelah penjajah pulang, setelah teroris menembakkan pelurunya, setelah Negara Adikuasa membumihanguskan sejumlah sarang teroris, serta setelah sejumlah sahabat kaya menikmati gunungan tabungannya, ternyata kebebasan tidak datang. Sebagian malah semakin jauh dari kebebasan. Tidak sedikit manusia kaya materi justru kehilangan seluruh kebebasannya setelah kaya. Tidak saja kebebasan besar (seperti kebebasan hidup apa adanya) yang hilang, kebebasan kecil pun (tidur nyenyak, tertawa penuh canda, makan enak) ikut-ikutan menghilang.

Amerika Serikat adalah salah satu guru dunia yang berguna. Siapa pun berempati dengan runtuhnya dua gedung kembar World Trade Center yang tragis itu. Cuplikan-cuplikan gambar tentang kejadian ini yang sempat ditayangkan di televisi membuat tidak sedikit hati ikut miris sekaligus menangis. Tidak ada negara yang berdoa agar mengalami hal seperti ini. Tidak ada orang tua yang berdoa agar anak-anaknya menjadi korban tidak berdaya sebagaimana ribuan korban nyawa di gedung ini. Namun, tindakan-tindakan yang diambil AS kemudian (sebagai reaksi) malah menghilangkan banyak empati berganti menjadi antipati. Dan sebagaimana sudah dicatat sejarah, bangsa Amerika mengalami tahap-tahap ketakutan yang mencekam setelah ini.

Sejumlah sahabat pengusaha yang menjadi saksi serupa juga bisa jadi guru dalam hal ini. Mendapatkan kekayaan yang demikian menggunung tentu bukan kerja mudah. Apa lagi, ditambah dengan decak kagum media terhadap prestasi perusahaan yang dikelola. Namun soal kebebasan, sebagian bercerita seluruh kebebasan menghilang ketika jadi kaya dan terkenal. Kebebasan besar (seperti privasi) sampai kebebasan kecil (nongkrong di warung sate) sama-sama menghilang.

Diterangi cahaya pengalaman seperti ini, banyak yang bertanya tentang letak persisnya kebebasan dalam kehidupan. Dalam kekuasaan bukan, dalam uang bukan, dalam keterkenalan juga bukan. Di tengah kebingungan sekaligus kegalauan seperti ini, tentu mengejutkan kalau ada yang menyebutnya dalam napas. Kebebasan ada dalam napas? Demikian sejumlah sahabat bertanya amat heran. Dengan tegas sejumlah guru menjawab terang: ya, kebebasan ada dalam kegiatan bernapas.

Sayangnya, tidak semua manusia bernapas terbebas. Kebanyakan adalah manusia-menusia bernapas yang tertindas. Ada yang tertindas hantu masa lalu. Ada yang takut terhadap setan masa depan. Ada yang dijajah kemarahan. Ada yang diinjak-injak rasa iri dengki. Ada yang diperkuda dendam kesumat. Ada yang dihantui kematian. Ada yang diikuti ketakutan. Dan masih ada lagi yang lain. Sehingga, jadilah manusia modern bukan manusia bernapas yang terbebas, tetapi manusia bernapas yang tertindas. Ke sana-kemari membawa beban-beban berat! Berapa pun kekuasaan yang ditumpuk, berapa pun kekayaan disimpan di gudang, berapa pun keterkenalan dikoleksi, tetap sama: manusia bernapas yang tertindas.

Bosan tertindas seperti inilah, maka pejalan-pejalan kaki di dunia nurani kemudian berlatih seserius-seriusnya untuk berhenti didikte pikiran, dan melampaui pikiran melalui kesadaran. Osho dalam Awareness, The Key to Living in Balance, bahkan menyebut kesadaran sebagai satu resep untuk semua penyakit kehidupan. Thich Nhat Hanh malah menyebutkan, bahkan kematian pun berhenti menakut-nakuti ketika manusia berada sepenuhnya dalam kesadaran. Ada yang bertanya, apa itu kesadaran? Dan seorang guru menjawab pelan meyakinkan, to be fully aware in the moment. Kalau lagi makan, seluruh kesadaran sepenuhnya ada pada kegiatan makan. Bila lagi berjalan, sepenuhnya kesadaran ada dalam berjalan. Jika sedang bekerja, sepenuhnya kesadaran ada dalam bekerja. Sesederhana itu! Makanya, di Timur disebutkan bahwa seorang yogi hanya punya satu tugas setiap hari: sadar akan apa yang terjadi di sini saat ini.

Sayangnya, terlalu banyak orang yang gagal hidup di sini saat ini. Ketika makan, pikirannya mengingat warisan dendam masa lalu. Tatkala berjalan, pikirannya takut akan masa depan. Saat bekerja, pikiran sibuk dengan iri hati. Dan seorang yogi mengakui kalau semua (positif-negatif) ada di dalam. Tatkala marah datang, ia sadar itu energi besar. Namun sebelum kemarahan berkuasa, ia bangkitkan energi kesadaran ke tempat yang lebih tinggi. Dan, kesadaran bersembunyi di tempat sederhana yang bernama bernapas. Dengan menyatukan diri ke dalam napas, manusia terhubung rapi dengan saat ini, berpelukan dengan semua perwujudan Tuhan, dan yang terpenting kembali ke resep sederhana tetapi mengagumkan: kesadaran. Siapa saja yang sampai di sini, ia menjadi manusia bernapas yang terbebas.

Soal bekerja, silakan bekerja penuh kesadaran. Soal berkeluarga, silakan berkeluarga penuh kesadaran. Dan ada yang datang secara otomatis ketika manusia bernapas dan terbebas, ia bernama kebahagiaan, keheningan, persahabatan. Tidak banyak sahabat yang berhasil memasuki wilayah bernapas dan terbebas, dan yang berhasil punya mantra sederhana. Ketika pikiran lari ke masa lalu, ia berbisik ke dirinya sendiri: sudah baik! Tatkala pikiran lari ke masa depan, ia berbisik lagi: akan baik! Adakah kebebasan yang lebih membebaskan daripada ini?

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag