BI Rate Tetap Pada Level 12,50%
Di Indonesia, perilaku asing tersebut tercermin pada terjadinya aliran modal keluar dalam jumlah yang cukup besar sehingga memberikan tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar Rupiah. Rupiah yang pada periode sebelumnya berada dalam kecenderungan menguat, pada Mei mengalami depresiasi sebesar 5,09% (mtm).
Hasil asesmen menunjukkan bahwa perkembangan tersebut belum memberikan tekanan yang besar terhadap inflasi. Peningkatan inflasi bulanan pada Mei 2006 terutama didorong oleh faktor musiman tercermin pada kenaikan inflasi kelompok volatile foods seiring berlalunya panen raya. Inflasi IHK tercatat sebesar 0,37% (mtm) atau 15,60% (yoy).
Di sisi perbankan, berbagai indikator menunjukkan bahwa kinerja perbankan nasional secara umum semakin membaik. Sampai dengan akhir Mei 2006, perbankan secara umum masih dapat mengatasi risiko usaha yang dihadapinya dengan baik, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) cenderung sudah mulai turun dan kredit yang disalurkan semakin meningkat.
Setelah mengalami peningkatan sekitar Rp 7 triliun pada Maret 2006, jumlah kredit perbankan pada April 2006 meningkat sebesar Rp 10,7 triliun. Seiring dengan peningkatan kredit tersebut, rasio NPL mengalami penurunan dari 9,4% (gross) pada bulan lalu menjadi 9,2% pada akhir April 2006.
Ke depan, jika tidak ada kejutan (shock) yang substansial, inflasi IHK 2006 dan 2007 diperkirakan dapat berada pada kisaran sasarannya yakni masing-masing sebesar 8+1% dan 6+1% (yoy). Namun demikian, terdapat sejumlah faktor risiko baik eksternal maupun internal yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi IHK baik di 2006 maupun 2007.
Dari sisi eksternal, risiko terutama terkait tingginya harga minyak, ketidakpastian arah suku bunga Fed dan pengetatan kebijakan moneter global. Sementara dari sisi internal, risiko terutama berasal dari potensi tekanan inflasi yang bersumber dari administered prices terkait rencana pemerintah menaikkan HPP gabah dan tarif angkutan terutama kereta api kelas ekonomi.
“Dengan mempertimbangkan berbagai perkembangan di atas, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan bahwa BI rate tetap dipertahankan pada level 12,50%. Ke depan, jika hasil asesmen menyeluruh terhadap prospek ekonomi menunjukkan bahwa risiko-risiko tersebut telah berkurang, maka penurunan suku bunga BI Rate lebih lanjut dapat dilakukan,†ujar Budi Mulya, Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.