Home » Updates » Bintang Kejora di Desain Interior

Bintang Kejora di Desain Interior

Untuk mewujudkan cita-citanya, Sarah tidak hanya mengandalkan darah seni yang mengalir dari ayahnya, tapi juga serius mendalami ilmu desain interior. Maka, dia terbang ke Australia untuk kuliah di RMIT International Design College. Setelah meraih gelar sarjana, dia melanjutkan studinya ke New York School of Interior, Amerika Serikat, hingga lulus menyandang titel MBA.

Teori-teori desain interior yang dikuasai Sarah langsung dipraktikkan di lapangan. Di negeri Barrack Obama itu, dia sempat bekerja di beberapa perusahaan arsitektur & desain interior, seperti The Polo, XYZ Total, serta Dunbar Architect & Interior Design. “Saya pernah mengerjakan desain apartemen Sarah Jessica Parker, pemain utama film Sex and The City, dan kantor eksklusif Majalah Forbes,” ucap istri Wiweko Adi Nugroho, pendiri perusahaan konsultan branding Link & Beyond.

Namun, kariernya di luar negeri tak bertahan lama, karena dia diminta sang ayah pulang ke Tanah Air. Lalu, dia bekerja di perusahaan konsultan desain interior di Indonesia selama tiga tahun. Lantaran ingin lebih mandiri dan menggali kemampuannya, dia memutuskan membuka usaha. Tahun 2008 dia mengibarkan bendera Kotta Interior Design (KID) sebagai bisnis perdananya.

Siapa saja kliennya? Tidak sulit bagi Sarah menjemput klien baru. Maklum, dia sudah mengantongi portofolio sejumlah proyek bergengsi saat di AS. Selain dari hasil pertemanan ketika di New York, strategi pemasaran dari mulut ke mulut cukup ampuh membuat KID menjadi buah bibir di kalangan berduit di Jakarta. Mulai dari pengusaha biasa hingga konglomerat dan korporat pernah menjajal kepiawaiannya. Untuk hunian pribadi, misalnya, Sarah pernah menggarap proyek dari Azizah Papadimitriou di Pakuwon Residence. Sementara proyek perkantoran didapat dari Bank BNI untuk pengerjaan Galeri Seni BNI dan ruang kerja Dirut BNI.

Tarifnya, menurut penggemar pematung Dolaria Sinaga itu, ditentukan luas tanah, bangunan dan kerumitan desain. Makin luas bangunannya, diperlukan kerja keras seorang desainer interior, dan ujung-ujungnya fee lebih mahal. Selama ini luas minimum tanah yang pernah ditangani 500 m2 dan maksimal 5.000 m2. “Kalau luas tanahnya mencapai 8.000 m2, bisa lebih dari Rp 1 miliar biaya jasa desain interiornya,” kata Sarah memberi contoh. Yang jelas, tarif bukan harga mati. “Ada teman saya bilang, hanya punya bujet sedikit. Akhirnya ada pengurangan kerja. I still can do it,” ujar Sarah yang menutup rapat-rapat soal tarif yang dibanderolnya.

Tingginya tarif jasa desain interior, sebagaimana dituturkan Sarah, dikarenakan pekerjaannya rumit dan prosesnya lama. Dia bercerita, ketika sudah mendapatkan nama klien yang ingin bekerja sama dengannya, sebagai formalitas dia harus mengajukan proposal desain. Isinya tentang gaya rumah, furnitur, karpet, pencahayaan, tata letak dan bahan apa saja yang ingin digunakan. Di sanalah tahap penentuan apakah desainnya diterima atau tidak. Jika diterima, Sarah harus membuat desain itu lebih detail. Setelah melewati tahap persetujuan dari klien, dia pun bisa memulai berburu mencari furnitur, benda antik dan perabotan lainnya untuk mengisi rumah tersebut. Biasanya pekerjaannya selesai bersamaan dengan pekerjaan kontraktor yang membangun rumah.

Untuk pembayaran fee, sebelum pencarian barang antik atau furnitur lain, kliennya membayar uang muka sebesar 50%. Dalam 1-2 tahun masa pengerjaan, sisa uang pembayaran diangsur secara bertahap.

Tak dinyana, kebanyakan klien ternyata melakukan repeat order. Contohnya, Azizah. Setelah apartemennya di Pakubuwono Residence dikerjakan KID, sekarang dia mempercayakan lagi penanganan desain proyek hunian seluas 1.000 m2 di kawasan Pondok Indah kepada KID. “Proses pengerjaannya memakan waktu sampai 2,5 tahun, karena kebetulan suami saya detail sekali memilih furnitur,” ujar Azizah yang mengaku sejauh ini puas dengan layanan KID yang dinilainya kreatif.

Bank BNI juga menggunakan jasa KID lebih dari sekali. Menurut Heru Yudhianto, Asisten Manajer Divisi Umum & Arsitektur Bank BNI, yang kebetulan bertugas menjadi supervisor KID untuk proyek ruang Dirut BNI tahun 2008, sebelumnya KID juga sukses mendesain Galeri BNI di Gedung BNI Pusat Lantai 33 pada 2005. “Desain KID unik. Dari hasil beauty contest, KID mempunyai nilai lebih di antara lainnya,” Heru menjelaskan.

Selera Dirut BNI dengan Sarah memang klop. “Gaya desain KID Chicago-American high class modern,” ujar pria yang sudah 11 tahun berkarier di BNI itu. “ Waktu itu Pak Gatot (Gatot M. Suwondo, Dirut BNI) berpesan untuk menambahkan patung kuda karena beliau bershio kuda dan ada satu sofa yang khusus diduduki beliau. Tapi soal desain diserahkan kepada Sarah. Total harga furnitur ruangan yang direnovasi bisa mencapai Rp 1 miliar,” Heru memaparkan.

Meski banyak klien yang berminat, ternyata Sarah membatasi diri. “Dalam setahun maksimal mengerjakan empat proyek,” ujarnya tandas. Alasannya, satu proyek saja butuh waktu pengerjaan yang lama, juga agar karyanya maksimal: lebih kreatif dan eksklusif.

Ke depan, Sarah optimistis bisnisnya bisa merekah, kendati target pasarnya sangat segmented. Mengapa? “Saya ingin bisnis ini dalam pemilihan furnitur bukan seperti supermarket, tapi lebih niche market di mana pilihan yang saya kasih menjadi masterpiece saya,” ungkapnya. Selain di Indonesia, kini Sarah dan ayahnya menggarap proyek desain interior Terarium, akuarium raksasa di Sea World, dan sebuah hotel di salah satu negara di Timur Tengah.

Sarah terus melaju karena dunianya memang desainer interior. Dan, dia kini salah satu bintang kejora di dunia ini.

Be Sociable, Share!
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


9 - four =