Bisnis Carter Burung Besi Mulai Unjuk Diri

Bisnis Carter Burung Besi Mulai Unjuk Diri

Keberanian Premiair membuka diri baru dilakukan belakangan. Meski sudah 13 tahun menjadi operator jet pribadi, kenyataannya baru pada kuartal keempat 2005 Premiair lebih agresif menggarap pasar. Padahal, dulu senjata promosi dari mulut ke mulut dirasakan paling ampuh. Mengapa? “Karena perubahan ekonomi negeri ini lebih baik, sehingga lebih banyak ekspat yang datang ke Indonesia untuk mengontrol investasinya di beberapa daerah yang sulit dijangkau pesawat komersial,” ungkap Fritz E. Simandjuntak, Direktur Pengelola Premiair.

“Pada awal berdiri Premiair hanya untuk memenuhi kebutuhan bisnis chairman perusahaan kami karena mobilitasnya sangat tinggi,” tambah Wando Suripto, GM Penjualan & Pemasaran Premiair. Namun, dalam perkembangannya tercetus ide untuk dikomersialkan lantaran tidak setiap saat pesawat itu dipakai oleh si empunya perusahaan. Manajemen Premiair berkomitmen tinggi untuk meraih pasar lebih besar dengan keyakinan bahwa pesawat yang tadinya cuma sentra biaya (cost centre) akan berbalik 180 derajat menjadi unit bisnis yang merupakan sentra laba (profit centre).

Fritz mengungkapkan, pasar jet pribadi carter sangat kecil. Jadi tantangan yang dihadapi: bagaimana mengembangkan pasar yang sudah ada dan menciptakan pasar baru di lingkungan orang-orang yang sanggup mencarter, tapi belum sadar kalau sekarang telah ada pesawat pribadi VIP yang disewakan di Bandara Halim Perdana Kusuma. Menurutnya, pengalaman naik jet pribadi beda dari pesawat komersial, sekalipun duduk di kelas satu. Alasannya, di pesawat jet pribadi sang penyewa adalah “pemilik” pesawat itu selama waktu dia menyewa. Penyewa punya kontrol terhadap siapa saja yang boleh naik pesawat, makanan apa saja yang dihidangkan, film apa yang diputar, terutama kontrol terhadap waktu dan daerah tujuan yang dikehendaki.

Ada dua jenis armada Premiair untuk melayani penerbangan rute domestik dan mancanegara. Pertama, Fokker 100 Executive Jet, berkapasitas 100 orang dengan interior konfigurasi VIP yang mewah dan eksklusif. Kedua, Embraer 120, yaitu pesawat dua mesin propeller dengan 16 tempat duduk yang cocok untuk penerbangan jarak pendek, misalnya Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Singapura. Armada Premiair juga melayani penerbangan langsung transit dari Jakarta ke Bangkok, Saigon, Kuala Lumpur, Medan, Aceh, Denpasar dan beberapa kota besar di Asia Pasifik. Ke depan, manajemen Premiair bertekad mengepakkan sayap burung besinya itu hingga ke Cina, Dubai dan negara lain. Ini didukung dengan rencana penambahan pesawat pada 2006.

Fritz menutup rapat-rapat informasi siapa saja pelanggannya. Dia hanya menyatakan Premiair pernah digunakan oleh para duta besar, Presiden RI, tokoh-tokoh politik saat kampanye atau menyumbang ke daerah bencana, serta para pebisnis nasional.

Untuk memberikan layanan prima, Premiair merekrut sebagian awaknya dari eks Singapore Airlines. Mereka ditempatkan di bagian administrasi, 6 pilot, lima pramugari dan 7 orang di tim engineering. Selain itu juga menghadirkan trainer asing, seperti mengontrak check & training pilot dari Kanada dan konsultan engineering asal Belanda.

Bicara soal strategi pemasaran Premiair, Wando menuturkan, ada bebepa aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, jet pribadi carter di Indonesia jarang sekali melakukan promosi. Namun, bila bertujuan memperbesar pasar harus membangun awareness yang lebih agresif, maka Premiair merasa perlu berpromosi lewat buklet ataupun milis. “Selama ini akibat kurangnya informasi, banyak yang tidak tahu kalau harga carter pesawat ini cukup kompetitif,” Wando mengklaim. Dia mencontohkan, biaya carter ke Singapura

pp. sektiar US$ 20 ribu per pesawat untuk jenis Fokker 100 dengan 35 kursi di dalamnya. Artinya, satu kursi hanya US$ 600. Bandingkan dengan harga first class pesawat reguler dengan rute yang sama, tarifnya sekitar US$ 700 per kursi.

Strategi kedua, Premiair mengadakan kerja sama dengan layanan private banking. Umpamanya dengan Citibank bagi nasabah pemegang kartu kredit Ultima (di atas Platinum) dan Bank Mandiri untuk pemegang kartu kredit Platinum. Ketiga, Premiair mengembangkan sebanyak mungkin channel distribution yang disebut independent agency atau air carter broker di luar negeri seperti di Singapura, Malyasia dan Jerman. “Dengan rangkaian strategi promosi itu kami targetkan penerbangan naik dari 20 jam/bulan menjadi 40 sebulan,” Wando menandaskan.

Menurut Asto Sunu Subroto, bisnis premium yang dilakukan Premiair memang sudah saatnya terbuka di Indonesia. “Selama ini sering terdengar ada bisnis private jet carteran di negeri ini, tapi hanya sebatas cerita yang kadang agak sulit dibuktikan,” cetus pengamat pemasaran dari lembaga riset MARS itu. Ia memuji langkah Premiair yang meluaskan pasarnya. “Strategi itu sudah tepat. Premiair sedang turun ke bawah. Ibaratnya kerucut, pasar yang besar kan ada di bagian paling bawah. Tapi ini bukan berarti menurunkan gengsi,” papar Asto. Ia menambahkan, yang paling penting dalam bisnis premiun adalah tetap melakukan image building dan relationship marketing.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag