Botty House, Mengkilapkan Keramik KW2

Botty House, Mengkilapkan Keramik KW2

Keberanian Botty House yang diluncurkan Sudirman Sule dan dua mitranya, Sudirman Zakaria dan Afrizal, tiga tahun lalu langsung menyedot perhatian konsumen, terutama para ibu rumah tangga. Hal itu terlihat jelas ketika gerai ini mengadakan pameran di Jakarta Convention Center (JCC). Banyak pengunjung yang terpikat mendatanginya. Desain-desain keramik yang menarik dan potongan harga hingga 50% menjadi daya pikatnya.

Diakui Sudirman Sule, pelanggannya memang makin tersebar. Tak jarang mereka dari kalangan perhotelan dan kafe, antara lain Hotel Horison di Bekasi dan sejumlah kafe di Plaza Senayan.

Ide berbisnis ini sebenarnya berawal dari jaringan pertemanan. Bersama adiknya, Afrizal, Sule berkongsi dengan Sudirman Zakaria yang bersedia meminjamkan tanahnya seluas 1 hektare di Jati Bening sebagai modal awal tempat Botty House dibangun. Sejak itu, kakak-beradik ini menjalankan operasional, sedangkan Zakaria menjadi investornya.

Dikatakan Sule, barang-barang di gerainya awalnya datang dari Heang Nam, perusahaan keramik asal Korea Selatan yang pabriknya ada di Indonesia. Pertama kali, ia memesan lima truk barang. Satu truk berisi 12-14 ribu produk. Setelah itu, ia mendatangi satu per satu pabrik Indo Keramik, Sango dan Hankook. Kini, empat merek ini menjadi merek utama yang dijual BH.

Lalu, bagaimana jika ada barang yang tak laku dijual? Sule mempunyai siasat tersendiri. “Kumpulkan, tunggu sampai jadi satu truk, lalu saya lelang semuanya,” ujarnya. Biasanya, pelelangan ini hanya untuk satu orang yang kemudian dijual lagi ke kampung-kampung di luar Jawa.

“Kami tidak pernah beriklan, ya hanya dari mulut ke mulut,” ungkap Sule yang rajin ikut pameran furnitur di JCC. Menurut pria kelahiran Padang, 56 tahun ini, mengikuti pameran tiga kali setahun sudah cukup membantu mengenalkan Botty House ke masyarakat.

Murahnya barang-barang yang dijualnya karena barang-barang tersebut merupakan kualitas kedua atau beken dengan istilah KW2. “Semua barang KW1 pasti diekspor,” kata Sule. Barang-barang KW2 ini tidak lulus kualitas ekspor karena ada sedikit cacat. “Tapi secara kasat mata tidak terlihat,” ujarnya. Karena itulah, harganya sangat murah. Harga piring makan mulai dari Rp 8 ribu. Adapan mangkuk sup untuk keluarga dipatok Rp 65 ribu, Rp 75 ribu, Rp 90-200 ribu/buah. Namun, gerainya juga menyuguhkan produk-produk yang relatif mahal, antara lain satu set peralatan minum Royal Heritage dalam kemasan boks besar dan eksklusif yang dibanderol Rp 438 ribu. Ada pula satu set peralatan makan seharga Rp 1,5 juta. Produk-produk ini sengaja ditampilkan sebagai magnet bagi pembeli.

Karena alasan harga ini pula, Botty House tidak mengambil barang di pabrik yang berada di luar Jabodetabek. Gerainya hanya mengambil barang dari agen atau distributor di kawasan Jabodetabek. Alasannya, selain risiko pecah, juga ongkos sewa truk dan akomodasinya tidak seimbang dengan harga pembelian keramik.

Menurut Sule, persaingan bisnis alat makan keramik tidak terlalu ketat. “Hanya 4-5 pemain,” ungkap dia seraya menambahkan, kebanyakan dari mereka menjual secara grosir bukan ritel. “Beberapa di antara mereka adalah bekas karyawan sini,”tutur pria yang dalam setahun rata-rata mengorder 8 truk keramik dari pabrik untuk dijual di gerainya itu.

Yanto Heripadmono, Kepala Divisi Pembelian Hanamasa Depok, mengaku puas membeli produk Botty House. “Harganya lebih murah 20%-30% dibandingkan toko lain,” katanya. Yanto menambahkan, keunikan Botty House adalah harga barang-barangnya murah dan fokus menjual peralatan makan keramik saja.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag