Â
 Corporate Secretary BRI Muhammad Ali mengatakan, selama tahun 2009 BRI Kanwil Semarang telah membuka 26 kantor baru BRI dan penambahan 122 mesin ATM BRI. “Untuk tahun 2010, kami rencanakan untuk penambahan 27 kantor baru terdiri dari 2 Kantor Cabang Pembantu dan 3 BRI Unit, 8 kantor kas, 14 Teras BRI dan 128 mesin ATM,†jelasnya.
Â
Perkembangan kredit BRI Kanwil Semarang hingga Desember juga positif, karena naik 25% menjadi sekitar Rp 10 triliun. Sedangkan, simpanan nasabah tumbuh lebih dari 16% menjadi sekitar Rp 8 triliun dan Loan to Deposit Ratio (LDR) mendekati 120%. Untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan BRI Kanwil Semarang tahun lalu mencapai lebih dari Rp 1 triliun kepada 249.572 debitur dengan tingkat tunggakan di bawah 5%.
Â
Dengan prestasinya itu Kanwil BRI Semarang mendapatkan penghargaan ‘Bank Umum Penyalur Kredit sektor Pertanian dan Pedesaan Terbaik di Jawa Tengah’ dari Bank Indonesia Semarang dan Dinas Koperasi UMKM Jateng untuk kategori Small & Medium Enterprise Banking Award 2009.
Â
Dijelaskan Ali, BRI melayani dua jenis KUR; pertama, KUR Mikro untuk kredit sampai dengan Rp 5 juta per debitur. Kedua, KUR Ritel untuk kredit hingga Rp 500 juta tiap debitur.
Â
Sekadar informasi, sampai akhir Desember 2009, BRI total telah menyalurkan KUR sebesar Rp 12,84 triliun dengan jumlah debitur 2.316.608 orang. Dibandingkan tahun 2008, pencapain KUR 2009 mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh peraturan dari komite kebijakan KUR. Kebijakan komite KUR saat ini telah diterapkan BRI dan diharapkan penyaluran KUR meningkat tahun 2010.
Â
Tingkat Non Performing Loan (NPL) KUR BRI tahun 2009 sebesar 5,97%, hal tersebut masih di bawah NPL UMKM yang menurut BI sekitarr 7-10%. Adapun pangsa pasar KUR BRI menurut jumlah yang disalurkan hingga Desember 2009 sebesar 74%. Jumlah tersebut lebih besar dari BNI dan Mandiri yang pangsa pasar KUR nya hanya 9%. Sementara market share KUR Bukopin 4%, Bank Syariah Mandiri 2% dan BTN 2%.
Â
Dalam menyalurkan KUR, BRI menghadapi beberapa masalah, yakni masih adanya anggapan masyarakat bahea KUR merupakan bantuan pemerintah. Saat ini masih kurangnya sosialisasi KUR sehingga menimbulkan persepsi masyarakat bahwa KUR mengharuskan adanya agunan. “Sebagian debitur menyalahgunakan persepsi tujuan konsumsi. Selain itu masih terdapatnya persepsi masyarakat nasabah tidak harus memiliki usaha untuk mendapatkan KUR,” ujarnya.