Credit Suisse Survey: Potret Pengeluaran di 4 Pasar Inti BRIC, Mesir, India dan Arab

Credit Suisse Survey: Potret Pengeluaran di 4 Pasar Inti BRIC, Mesir, India dan Arab

Untuk yang pertama kalinya Credit Suisse merilis Emerging Consumer Survey, sebuah penelitian yang membahas tentang profil pengeluaran di 4 pasar inti BRIC (Brazil, Rusia, India dan China), beserta Mesir, Indonesia, dan Arab Saudi. Secara keseluruhan konsumen dalam survei ini mewakili 3 miliar jiwa dari populasi dunia yang tinggal di negara-negara yang apabila digabungkan GDP mereka melebihi US$ 10 triliun.

Survei yang dilakukan oleh Credit Suisse Research Institute ini bertujuan untuk menyusun profil unik dari global. Untuk melaksanakan proyek ini, Credit Suisse bekerja sama dengan perusahaan penelitian global, AC Nielsen untuk melakukan riset primer atas namanya. Survei tersebut mencakup 120 pertanyaan, dengan lebih dari 11 subyek yang berbeda dan melibatkan 13.000 responden yang terdiri dari lokasi, gender dan tingkat pendapatan yang berbeda-beda pula.

Osama Abbasi, CEO Credit Suisse Asia Pacific, mengatakan, konsumen di pasar negara berkembang akan memiliki dampak yang semakin besar pada pasar dan perekonomian global. “Kami melakukan penelitian ini, karena memliki komitmen terhadap pasar negara berkembang¸ baik di Asia Pasifik maupun di penjuru dunia lainnya. Selain itu, kami juga berkomitmen untuk memberikan wawasanterbaik bagi para investor mengenai tren di negara-negara tersebut,” jelas Abbasi.

Survei ini memberikan perspektif bottom-up, baik bagi investor global maupun regional mengenai para penggerak dalam permasalahan konsumsi di negara-negara berkembang. Dalam memperkenalkan Credit Suisse Consumption Map, laporan ini memberikan pertimbangan dalam menetapkan apa dan di mana harus berinvestasi. Yang jelas, pengeluaran dan preferensi para konsumen merupakan inti dari pergeseran struktural permintaan.

Hasil temuan lain adalah dalam setahun ke depan, tingkat pertumbuhan absolut terlihat akan sangat didukung oleh konsumsi kebutuhan non-primer. Selain itu, barang dan layanan pokok akan relatif meraih pertumbuhan yang lebih baik di Indonesia, Cina dan Brazil, di mana pertumbuhan pendapatan riil terjadi di tingkat masyarakat berpenghasilan rendah.

Untuk survei soal brand internasional melawan brand lokal, menunjukkan adanya pola yang konsisten dan jelas pada konsumsi barang-barang bermerek seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan. Survei menemukan bahwa brand internasional diuntungkan dari tingkat eksklusivitas barang-barang mewah (contoh mobil, parfum dan fashion). Namun, bagi kebutuhan pokok (seperti air minum kemasan dan produk yang mengandung susu), minat terhadap brand internasional dibandingkan brand lokal terbilang sama untuk semua tingkat pendapatan. Karena itu, prediksi pertumbuhan barang dan jasa pokok dari brand-brand lokal setidaknya setara dengan prediksi petumbuhan brand-brand internasional. Sementara itu, konsumsi barang-barang non-primer dari brand-brand internasional memiliki peluang pertumbuhan lebih besar dibandingkan dengan brand-brand lokal.

Bagaimana dengan sigi tentang pinjaman, tabungan dan investasi? Ttingkat konsumsi tentu saja memengaruhi pada pola menabung. Survei mencatat perbedaan struktural yang substansial pada budaya menabung di seluruh negara- negara berkembang tersebut. Cina dan India, keduanya menunjukkan budaya menabung yang kuat, sementara orang-orang Brazil cenderung memilih untuk berbelanja dibandingkan menabung. Prediksi untuk pertumbuhan pinjaman terlihat kuat terutama untuk rencana pembelian properti dengan hipotek positif di seluruh negara-negara berkembang (terutama di Indonesia, Cina dan Brazil). Begitu pula rencana untuk kredit kendaraan bermotor (sangat menonjol di Arab Saudi dan Brazil.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag