Meredith Whitney adalah sebuah paradoks. Glamor dan ramah sebagai pribadi, perempuan cantik kelahiran 1970 ini diakui sebagai analis Wall Street paling tegar dan… paling pesimistis terhadap industri keuangan dan perbankan.
Whitney hanyalah analis yang kurang dikenal dari sebuah lembaga keuangan papan tengah ketika, pada 31 Oktober 2007, dengan berani menyuarakan opini bahwa Citigroup ― lembaga keuangan paling dikagumi di dunia  sedang terbelit masalah serius hingga harus meningkatkan kapital, melego aset atau memangkas dividen. Bisa ditebak, kebanyakan investor, dan tentu saja manajemen Citi, mencemoohkannya.
Bagaimana tidak. Waktu itu, nilai saham bersimbol C sedang berkibar di sekitar US$ 40. Akan tetapi, 16 bulan kemudian, setelah puluhan miliar dolar dana yang dikumpulkan Washington dari pajak gagal menghentikan perdarahan keuangan yang dialami Citi, saham yang dipercaya “the bluest among blue chips†itu dijajakan dengan harga kurang dari US$ 1. Dan berkibarlah nama Meredith Whitney.
Media menyebut seruan Whitney untuk melepas saham Citi sebagai “The Call.†Penulisan dengan huruf besar ini layak. Seruan dalam laporan yang diterbitkan Oppenheimer & Co. itu dipercaya memantik reaksi berantai yang membuat sekitar US$ 369 miliar aset menguap pada penutupan pasar modal Amerika Serikat keesokan harinya. Di London, pada hari yang sama, 1 November 2007, nilai saham perusahaan yang terdaftar di LTSE hangus US$ 67 miliar.
Empat hari kemudian, 5 November, CEO Citigroup Charles Prince mengundurkan diri. Lalu, memasuki Januari 2008, Citi betul-betul memangkas dividen dan mengupayakan dana segar guna memperkuat kapital.
Khalayak boleh kagum terhadap ketajaman analisis Whitney. Namun, ramalan tentang Citi, menurutnya, sama sekali bukan hal yang istimewa. Bahkan, itu adalah, seperti kata Whitney dalam berbagai wawancara, “The easiest call I ever made.â€Â
Selama tiga tahun sebelumnya, Citi melakukan berbagai akuisisi tanpa meningkatkan basis kapitalnya. Pada Agustus 2007, kalangan industri keuangan telah mafhum bahwa bisnis subprime mortgage tengah terpuruk. Banyaknya kredit pemilikan rumah (KPR) berbunga tinggi yang macet membuat peringkat sekuritas terkait merosot. Sebagai bank yang memegang banyak sekuritas semacam ini dan menyalurkan kredit ke sektor properti (yang terancam macet), Citi seharusnya menambah kapital sebagai back-up kalau terjadi default ― tetapi nyatanya tidak.
Cerita tentang Citi ini boleh dibilang bukan rahasia di kalangan analis keuangan. Semua tahu. Bahkan, pada 12 Oktober 2007, Dick Bove (waktu itu masih bergabung dengan Punk Ziegel & Co.), Mike Mayo (waktu itu dengan Deutsche Bank), dan Charles Peabody (Portales Partners) secara terpisah telah mengeluarkan rekomendasi jual terhadap saham C. Para analis lain tutup mata karena pasar sedang bullish dan, di tengah bisnis yang bergairah, mengeluarkan rekomendasi jual untuk saham terbiru di antara saham blue chips sama dengan mencoreng muka sendiri.
Sebagai yang pertama merekomendasi jual saham C, Bove, Mayo dan Peabody harus diacungi jempol, karena “berani malu.†Whitney, yang lalu menenggelamkan mereka, lebih hebat karena, seperti pengakuan Bove, dia berani menyatakan Citi harus memangkas dividen. “Tak ada yang punya nyali buat mengatakan itu,†katanya memuji.
Setelah ramalan beraninya tentang Citi, Whitney segera melanjutkannya dengan ramalan tentang kemungkinan rugi dan penghapusbukuan besar di bank-bank terkemuka lain  Bank of America, Lehman Brothers, UBS  serta analisis tajam tentang bagaimana ledakan bisnis obligasi yang terkait subprime mortgage akan mengancam bottom line bank-bank tersebut. Lebih dari itu, dia juga menunjukkan kemampuannya berpikir lebih jauh ketimbang manajemen lembaga keuangan bergengsi tadi.
Pada sebuah konferensi Merrill Lynch, Juli 2008, misalnya, Whitney bertanya kepada CEO John Thain mengapa perusahaan yang dia pimpin tak melego aset dan meningkatkan kapital. Thain menolak dengan sengit pandangan itu. Kenyataannya, tak sampai dua minggu kemudian Merrill Lynch meneken persetujuan buat melepas CDO (collateralized debt obligation) senilai US$ 30 miliar dengan diskon sampai 78% dan menjajakan sahamnya untuk memperoleh tambahan modal segar US$ 8,5 miliar.
Kemampuan Whitney ini membuatnya dijuluki “The Cassandra of the Wall Street.†Dalam mitologi Yunani, Cassandra adalah seorang perempuan molek yang membuat Apollo mabuk kepayang hingga menghadiahinya kemampuan meramal. Ketika ternyata sang pujaan tak membalas cintanya, Dewa Cahaya tersebut lalu mengutuk sehingga tak ada yang percaya ramalan Cassandra.
Dalam hal Whitney, sebagian khalayak tak percaya karena ramalan perempuan glamor ini kelewat buram. “Ketika para analis lain terus mencari semacam cahaya di ujung lorong,†tulis Fortune yang menempatkan sang Cassandra modern sebagai cerita sampul pada Agustus 2008, “Whitney berpikir lorong itu sudah hampir ambruk.â€Â
Dalam berbagai wawancara, Whitney memang selalu mengingatkan, para investor saham bank akan merugi karena industri perbankan sedang menghadapi rugi kredit yang lebih besar ketimbang yang mereka nyatakan dalam laporan keuangan sejauh ini. Bahkan, dia juga mewanti-wanti bahwa perekonomian (AS) sedang tenggelam ke dalam resesi “gaya-tahun-1980-an†yang akan membuat terpuruk 10% populasi yang menimbun utang terlalu banyak pada masa boom perumahan.
“Saya rasanya seperti berada di pusat krisis keuangan terbesar dalam sejarah,†ujar Whitney yang diakui sebagai salah satu dari 50 Most Powerful Women in Business (versi Fortune, pada Oktober 2008) dan 50 Most Powerful Women in NYC (versi New York Post, pada 2007).
Pernyataan ini mungkin berlebihan. Akan tetapi, banyak pula yang yakin terhadap ramalan sang Cassandra, atau setidaknya waswas terhadap ketepatannya sehingga berjaga-jaga. “Dia betul-betul menggerakkan pasar,†kata Gus Scacco, seorang institutional fund manager pada AG Asset Management, memuji. Seorang eksekutif pada sebuah hedge fund terkemuka membandingkan Whitney dengan Abby Joseph Cohen. “Keadaannya sudah sampai pada sebuah titik di mana Meredith tak bisa lagi menulis atau mengemukakan opini tanpa menggerakkan saham.â€Â
Sekadar mengingatkan, Cohen adalah mantan Chief Strategist Goldman Sach yang pada akhir 1990-an mendorong pasar jadi sangat bullish. Waktu itu, segala pernyataan perempuan eksekutif ini, baik lisan maupun tertulis, membuat khalayak menyerbu saham yang dianggap dia rekomendasi. Pernyataan Whitney sebaliknya, membuat pasar kian bearish.
Salah satu hal yang tak jemu diingatkan oleh Whitney adalah hubungan tak sehat antara kalangan perbankan dan lembaga pemeringkat pada era gelembung real estate yang akan berdampak panjang terhadap kemampuan perbankan untuk bangkit kembali. Tindakan Moody’s dan Standard & Poor’s yang mencoba “menebus dosa masa lalu†dengan terus menurunkan peringkat sekuritas terkait KPR membuat perbankan juga harus terus meningkatkan rasio modal.
Tak punya banyak pilihan, Citi, Merrill Lynch, Washington Mutual dan bank-bank lain yang kesulitan itu merespons tekanan ini dengan menerbitkan saham baru. Buntutnya, investor yang terancam saham yang mereka pegang terdilusi jadi terganggu. “Tekanan modal seperti itu akan terus ada sampai peringkat meningkat,†ujar Whitney. “Hal-hal begini tak banyak dikatakan orang.â€Â
Karena megatakan hal-hal yang tak dikatakan orang itu, Whitney pernah menerima ancaman pembunuhan. Kalau makian melalui surat elektronik dan telepon sudah tak terhitung, minimal ratusan jumlahnya. Namun akhirnya, itu tadi, khalayak mengakui kebenarannya.
Apa yang membuat Whitney demikian tegar?
Salah satunya, mungkin, perkawinannya dengan John “Bradshaw†Layfield (JBL), pemegang gelar juara terpanjang sepanjang sejarah WWE Champion SmackDown. Whitney pertama kali bertemu JBL pada 2003 ketika keduanya jadi panelis pada Bulls & Bears, sebuah cara Fox News, dan setelahnya duduk berdampingan pada acara makan malam. JBL diminta sebagai panelis karena dia punya keahlian di bidang investasi saham dan baru saja meluncurkan bukunya, Have More Money Now: A Common Sense Approach to Financial Management.
“Waktu itu, saya perempuan yang sangat independen,†tutur Whitney. “Saya sering melakukan perjalanan, tetapi sulit bertemu orang.â€Â
Ceritanya, beberapa hari sebelum Bulls & Bears tersebut, Whitney menumpang taksi di Manhattan dan ngobrol dengan supir. “Bung sopir bilang, ‘Kalau kamu ingin bertemu orang yang tepat, coba deh identifikasikan karakteristik yang kamu inginkan dari seorang lelaki’.†Mengikuti saran ini, dia lalu menyusun daftar kualitas cowok idealnya, dari karakter sampai selera musiknya. “Waktu ketemu John, saya cocokkan semua,†katanya mengenang.
Whitney merasa cocok. Juga JBL, yang empat tahun lebih tua dan sebelumnya pernah bercerai. Maka, pada Hari Valentine 2005, menikahlah mereka.
Pernikahan itu membuat Whitney tahu luar-dalam kehidupan seorang pegulat profesional  etika kerja mereka, kesediaan mereka buat melakukan apa saja sebagai performers, atlet, stuntmen. Sebab itu, apa yang tampaknya sangat riskan, misalnya membuat laporan kritis tentang sebuah lembaga keuangan yang dianggap sakral semacam Citi, tak lagi begitu berat. “Saya rasa, kalau kita bergaul dengan orang-orang seperti mereka, kita juga akan ketularan jadi pemberontak,†ujarnya.
Hal lain yang membuka mata Whitney adalah keramahan para pegulat, orang-orang kasar berbadan gede dan bertampang seram itu, setidaknya di luar sorotan kamera, dibanding orang-orang Wall Street yang sudah terpolusi budaya burung bangkai (karena terbiasa mencabik dan memangsa perusahaan yang terpuruk). Kenyataan yang tampak mengherankan ini membuat Whitney jadi lebih mantap untuk tak akan membiarkan dirinya mengikuti “arahan†orang-orang Wall Street untuk tak menerbitkan prediksi yang tak menyenangkan. “Hidup ini terlalu singkat,†katanya.
Melontarkan prediksi jelek sebenarnya sangat berisiko. Kalau salah, apalagi yang digoyang adalah perusahaan nomor wahid di bidangnya, habislah karier Whitney. Padahal, kesuksesan adalah hal penting buat perempuan yang lulus dari Brown University dengan penghargaan ini.
Sejak kecil, menurut Wendy, kakak perempuannya, Whitney sudah workaholic, di satu sisi, dan Ms. Personality, di lain sisi. Dan dia bisa menjalankan peran yang tampak kontradiktif ini dengan seimbang.
Salah satu buktinya adalah kenyataan bahwa Whitney kecil pernah jadi pengantar koran termuda sepanjang sejarah Washington Post. Pada usia 8 tahun itu, dengan memanfaatkan teman-temannya dia bisa memperoleh US$ 200/minggu. Dan caranya sangat kreatif. Untuk mengatasi beban berat mengantarkan koran Minggu yang ekstratebal, setiap Sabtu dia bikin pesta semalam suntuk sehingga, tuturnya, “Paginya ada pasukan yang membantu saya.â€Â
Pada pesta malam Minggu itu, “Kami main musik dan ibu menyediakan panekuk,†ujarnya mengenang. Whitney membayar teman-temannya yang membantu mengantar koran? “No way. Toh, mereka selalu balik minggu depannya.â€Â
Sampai saat ini Whitney tak berubah. Dia kerap kerja lembur, tetapi juga gemar menikmati pesta. Dari mana dia mendapat energi untuk melakukan semua aktivitas yang menguras tenaga itu? “Olah raga dan gaya hidup yang relatif bersih,†ujarnya. Dia sudah menghindari kopi, dan latihan fisik dua kali sehari, sering di bawah pengawasan seorang pelatih profesional.
Kendati demikian, semua ini belum menerangkan rahasia sukses Whitney. Ramalan jelek tentang Citi yang terbukti akurat itu memang satu titik balik. Namun, tetap ada faktor lingkungan yang memungkinkan seorang Whitney berkibar seperti itu.
Berkibarnya Whitney merupakan cermin dari perubahan di arena riset ekuitas. Katalis dari perubahan tersebut adalah aturan main baru di Wall Street pada 2003 yang diterbitkan Eliot Spitzer, Jaksa Agung New York waktu itu, yang melihat bahwa gurihnya fee untuk underwiriting dan M&A (merger dan akuisisi) membuat para analis enggan memberikan appraisal yang jujur terhadap perusahaan yang juga menjadi nasabah investment banking mereka.
Buat menghindari konflik kepentingan ini, Spitzer membuat aturan hukum yang melarang pengaitan kompensasi analis keuangan dengan pendapatan investment banking. Beleid baru ini ampuh. Sejak 2002, menurut data Bloomberg, persentase rekomendasi “beli†terhadap saham turun dari 75% pada 2000 menjadi 50%. Di sisi lain, persentase rekomendasi “jual†meningkat dari 1,5% jadi 6%, walau memang pada periode tersebut IPO dan penawaran saham lainnya juga turun.
“Sekarang, dengan mengeringnya corporate finance, para analis lebih bebas mengekspresikan opini mereka,†ujar Richard Bove, analis perbankan pada Ladenburg Thalmann & Co. yang telah 30 tahun malang melintang di Wall Street.
Faktor lain yang membuat para analis lebih bebas adalah pasang naik bisnis hedge fund. Tak seperti kalangan mutual fund managers, orang-orang hedge fund menginginkan info yang “actionable†― mereka tak enggan bertaruh bahwa sebuah saham akan jatuh. “Jadi,†lanjut Bove, “para analis boleh melaporkan berita bagus maupun berita jelek.â€Â
Dalam kondisi yang sudah berubah begini, adalah sangat mungkin kalau berita jelek yang dilontarkan Whitney beroleh sambutan bagus. Dan sebagai analis, Whitney sudah cukup lama skeptis terhadap keadaan pasar. Pada Oktober 2005, misalnya, dia juga menjadi analis pertama yang mengeluarkan tanda bahaya tentang subprime mortgage. Jauh sebelum para analis lain, sang Cassandra telah memperkirakan bahwa para pemberi KPR berbunga tinggi akan menanggung “rugi yang belum pernah terjadi sebelumnya†karena banyaknya kredit macet.
Akar persoalannya, demikian laporan Whitney, mengendurnya standar pemberian kredit dan menjamurnya iming-iming untuk menarik khalayak mengambil KPR sehingga pemilikan rumah di AS meningkat secara artifisial menjadi 69% dari tingkat alami 64%. Banyak di antara pengambil KPR itu tak mampu secara finansial. Mereka hanya bondo nekat karena tak harus bayar uang muka dan, karenanya, tak punya insentif (selain tak punya kemampuan) buat mempertahankan cicilan bulanan ketika harga rumah mulai jatuh dan iming-iming tak ada lagi.
“Ekuitas yag rendah atas rumah mereka, revolving-debt balances yang tinggi, dan harga komoditas yang selangit menjadi penyebab ledakan kredit, terutama pada titik siklus konsumer sekarang,†tulis Whitney. Laporan yag menggigit itu tak membuat sang analis beroleh penghargaan. Dia cuma diundang Federal Deposit Insurance Corporation buat mempresentasikan temuannya.
Pada 2005 itu, Whitney belum paham betul bahwa kelonggaran perbankan yang kelewatan ― memperbolehkan mereka hanya membayar bunga, amortisasi negatif, dan sebangsanya ― telah meningkatkan risiko prime mortgage jadi setara dengan kredit subprime. Banyak nasabah prime yang mengambil KPR dengan rasio utang-terhadap- nilai-rumah (loan-to-home-value, LTV) 90%-100% jadi berperilaku seperti nasabah subprime.
Penyebabnya: para nasabah yang nilai utangnya lebih besar ketimbang nilai rumahnya (terutama setelah harga rumah merosot) jadi mengutamakan cicilan mobil dan kartu kredit ketimbang cicilan KPR. Prioritas pembayaran cicilan jadi kacau-balau.
Di antara bank yang ada, Citi yang paling banyak terjerat kredit dengan LTV tinggi. Ketika harga rumah makin jatuh, KPR yang macet kian banyak hingga mencapai 53% pada kuartal III/2007. Dari keadaan ini saja sudah jelas bahwa Citi harus memperkuat basis kapitalnya. Sumber yang paling gampang untuk itu adalah… dana untuk pembayaran dividen tahunan yang, pada 2007, mencapai US$ 10,8 miliar.
Saat ini, yang masih menjadi kekhawatiran Whitney, kalangan perbankan tak cukup cepat memangkas biaya dan menekan kerugian dari portofolio pinjaman mereka. Dengan pasar sekuritisasi kredit yang sudah ambruk, tak ada lagi sumber dana sekunder. Seharusnya bank mencerminkan keadaan ini, antara lain dengan merumahkan lebih banyak karyawan. Selain itu, mereka juga harus mengevaluasi-ulang utang yang terkait KPR karena harga rumah terjerembab jauh lebih dalam ketimbang estimasi mereka yang cuma 20%-25%.
Faktor negatif lainnya: aturan akunting baru bernama FAS 141R. Di tengah krisis seperti sekarang, Whitney berharap Washington mendorong merger antara lembaga keuangan yang berkapital kuat dan yang sedang kesulitan. Dengan FAS 141R yang berlaku sejak Desember 2008, kemungkinan ini tertutup karena beleid baru ini mewajibkan lembaga yang mengakuisisi bukan hanya melakukan mark-to-market portofolio milik lembaga yang dicaplok, tetapi juga melakukan mark-to-market portofolionya sendiri. Bisa dipastikan, ujarnya, “Nggak akan ada yang mau melakukan itu.â€Â
Masalah lebih besar yang mengancam adalah utang kartu kredit yang akan banyak macet. Di sisi lain, aturan baru Pemerintah Washington yang, mulai 2009, melarang penerbit kartu kredit menggunakan info luar untuk menyesuaikan risiko membuat pemberi kredit sulit mendulang lebih banyak laba dari bisnis yang sebelumnya sangat gemuk ini. Dengan beleid baru ini, pemberi kredit tak boleh menaikkan tingkat bunga hanya karena nasabah tertentu terlambat bayar iuran listrik; risiko baru boleh disesuaikan kalau nasabah telat bayar cicilan kartu kredit.
Menurunnya potensi kartu kredit sebagai sapi perah, ditambah perilaku masyarakat yang menahan diri untuk tidak banyak belanja, membuat kalangan perbankan mengurangi alokasi dana untuk pinjaman melalui kartu kredit. Karena kartu kredit biasa digunakan buat menyiasati masalah arus kas, menurut Whitney, pemangkasan “unused credit card line†yang dimaksudkan oleh perbankan buat menghemat cadangan modal ini praktis mengeringkan likuiditas. “Efeknya seperti pemotongan gaji bagi rata-rata konsumer AS.â€Â
Dan secara agregat, pemotongan gaji atau daya beli itu sangat besar. “Sampai akhir 2010,†menurut perkiraan Whitney, “pemangkasan unused credit card line akan mencapai US$ 2,7 triliun.†Perkembangan seperti inilah yang membuat sang Cassandra yakin, perekonomian AS menuju resesi seperti pada 1980-an.
Satu hal yang patut diketahui, kejelian Whitney membaca keadaan tak lantas membuatnya hebat dalam memilih investasi. Berdasarkan rekomendasi “beli†dan “jual†yang dilontarkan dan dibandingkan dengan rekomendasi analis ekuitas lain, saham pilihan perempuan yang masuk ke dalam jajaran The Best Analysts: Stock Pickers versi Forbes.com ini berada di peringkat 1.205 dari 1.919 pada akhir 2007 dan peringkat 919 dari 1.917 pada akhir semester I/2008.
Tak kelewat bagus, memang. Namun, popularitas yang meroket membuat Whitney berani keluar dari Oppenheimer dan mendirikan Meredith Whitney Advisory Group LLC. Sebagai bos perusahaan konsultan keuangan milik sendiri, Whitney masih saja menunjukkan sikap skeptis terhadap kondisi pasar.
Dengan sikap bearish yang ekstrem begitu, agaknya akan sulit bagi Whitney berbalik posisi tanpa kehilangan kredibilitas. Kalau benar hal ini terjadi, bukan tak mungkin dia akan bernasib seperti Abby Joseph Cohen yang terus saja bullish ketika pasar terpuruk pada 2001-02 sehingga dia terpental dari kursinya bersama pecahnya dotcom bubble. Sebab, bagaimanapun, pasar akan bangkit kembali.
Atau Whitney sang Cassandra akan bisa meramal dengan tepat lagi kapan harus menjadi bullish? Kita lihat saja.
Riset: Ratu Nurul Hanifah
