Dari Analis Riset Jadi Pengusaha Butik Jam Mekanik
Mengapa pilih jam tangan mekanik? Menurut Sugiharto, arloji mekanik buatan Rusia secara merek dan desain belum terlalu dikenal di kalangan penggemar jam tangan. Selama ini, pasar didominasi jam tangan quartz atau digital yang berbasis baterai sebagai sumber energinya. Alasan lain, potensi jam tangan Rusia masih terbuka di tengah gempuran arloji buatan Swiss dan Jepang. Di samping itu, jam tangan Rusia bukan sekadar alat penunjuk waktu, tapi di balik itu juga tersimpan cerita sejarah lahirnya suatu merek atau desain. Umpamanya, cerita yang terkait dengan sejarah Rusia. Uniknya, tiap model cuma tersedia 2-3 unit, malah ada yang hanya satu unit. Itulah sebabnya, arloji ini jumlahnya sangat terbatas.
Pria kelahiran Desember 1977 itu mengklaim, konsep butik revolusioner yang ditawarkannya merupakan pionir di Asia Tenggara. Sebab, sebelumnya tidak ada pengusaha yang bisa menjadi pemasok langsung arloji asal Rusia di kawasan itu. Harga jual produknya pun lebih terjangkau. Lagi pula, RAW tidak hanya berjualan produk. Ia ingin konsumen memahami apa dan bagaimana jam tangan mekanik itu, cerita di balik pembuatannya, perawatannya, hingga konsepnya. “Saya lebih mengedukasi pasar. Treatment seperti ini pasti akan membuat konsumen puas dan setia. Saya percaya cara ini pengaruhnya bakal kuat di tengah situasi konsumen yang belum aware dengan arloji mekanik Rusia,†kata eksekutif lulusan program master salah satu universitas di Australia itu. Asal tahu saja, kata “Red Army†diambil dari nama Tentara Merah Rusia yang melakukan revolusi pada 1912. Semangat revolusi Tentara Merah yang membawa pembaruan di negeri itu menjadi inspirasi semangat revolusioner Sugiharto dalam mengembangkan butiknya.
Sugiharto punya alasan khusus mengapa butik arloji pertamanya justru dibuka di Singapura, bukan Indonesia sebagai negara asal-usulnya. Pria yang dilahirkan dari pasangan ayah asal Pekalongan dan ibu dari Palembang itu mengungkapkan, Singapura adalah negara yang penduduknya paling mudah beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Dan, konsep revolusioner ini sesuai dengan target pasar RAW: kalangan menengah atas usia 25-50 tahun yang berjiwa muda, berpikiran terbuka, gemar sesuatu yang baru dan unik, berjiwa petualang, serta mudah beradaptasi. Harga jual produk berkisar Rp 2,5-8 juta/unit. Bahkan, ada beberapa yang dibanderol di atas Rp 10 juta/unit.
Setelah sukses dengan butik pertama, Sugiharto mendirikan gerai RAW kedua di Wisma Atria, Orchard Road, Singapura pada September 2005. Tidak tanggung-tanggung, butik arloji ketiga pun dibuka pada Juli 2007 di Republic Plaza, Singapura juga. Ia mengaku rata-rata nilai investasi yang dibenamkan di setiap butiknya sebesar Rp 1-1,5 miliar. Sayangnya, ia enggan menyebutkan angka pertumbuhan usahanya, baik dalam persentase maupun nilainya.
Dalam perkembangannya, Sugiharto tergerak juga membuka gerai RAW di Indonesia. Tepatnya di Grand Indonesia, Jakarta, pada Maret 2008. Mengapa? “Berdasarkan hasil riset pemetaan konsumen, rupanya pembeli mayoritas jam tangan mekanik made in Rusia justru dari Indonesia,†ujarnya saat ditemui SWA di gerai RAW di Wisma Atria, Orchard Road, Singapura, beberapa waktu lalu.
Ketiga gerai RAW di Singapura milik Sugiharto, tapi butik arloji di Jakarta merupakan hasil perkongsian Sugiharto dengan ketiga relasinya: Ario Francisco (32 tahun), Rudyanto Witaria (32 tahun), dan seorang lagi yang enggan disebut namanya. Hubungan Sugiharto dengan Ario dan Rudy berawal dari kebiasaan mereka membeli arloji di toko RAW Singapura. “Saya tertarik gabung karena pasar Indonesia cukup menjanjikan,†ujar Ario yang didapuk sebagai GM RAW Indonesia. Memang, sejak RAW buka di sini, konsumen antusias merespons. Lihat saja, penjualan arloji RAW Indonesia dengan harga Sin$ 350-3.000 tidak pernah sepi. Kalau dipukul rata, nilai penjualannya lumayan, meski masih di bawah 100 unit. Rudy, Person in Charge RAW Indonesia, menimpali, meski prospeknya bagus, gerai RAW di Tanah Air akan dibatasi jumlahnya demi menjaga eksklusivitas. Itulah sebabnya, mungkin baru tiga tahun mendatang akan dibuka gerai RAW Indonesia yang kedua.
Kelebihan arloji mekanik Rusia adalah pada sisi value for money, yang menjadi daya pikat bagi konsumen. Ini dibenarkan Hendra dan Havardi. “Jam tangan Rusia itu dari sisi value for money rasionya paling bagus, tapi affordable,†kata Hendra, VP Pasar Keuangan Global Rabobank International. “Jam tangan Rusia itu tampilannya sederhana. Tapi di balik modelnya, ada kisah yang menarik,†kata Havardi, bankir sebuah perusahaan sekuritas multinasional.
Beranak-pinaknya gerai RAW, menurut Sugiharto, tak luput dari strategi pemasaran yang jitu: melakukan promosi dari mulut ke mulut, membangun jaringan milis, dan beriklan di media massa. Kini, RAW tidak hanya memasarkan arloji mekanik dari Rusia, tetapi juga buatan Jerman. Ada 11 merek yang menjadi koleksinya: Vostox Europe, Aviator, Buran, Sturmankie, Junkers, Zeppelin, Poljot International, Denissov, Soyuz Premium, Moscow Classic dan Nauticfish. “Akhir 2008 kami rencanakan buka juga di Malaysia,†tutur pria yang berambisi jadi pengusaha butik arloji mekanik terbesar di tingkat regional itu.
Eva Martha Rahayu/Tutut Handayani & Eddy Dwinanto Iskandar
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.