Survei yang dilakukan setiap dua tahun sekali ini ditujukan untuk mengetahui tentang kualitas kepemimpinan yang dapat membawa kesuksesan organisasi hingga faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab kegagalan seorang pemimpin.
Di sisi lain, survey ini juga mempertanyakan mengenai pengembangan-pengembangan yang diharapkan dapat membantu pemimpin dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan hingga efektifitas yang dirasakan setelah mereka mengikuti program pengembangan kepemimpinan.
Total partisipan survey adalah 1080 organisasi yang berasal dari 76 negara dari seluruh dunia antara lain Amerika, Kanada dan Amerika Selatan, Eropa, Cina, Australia , dan negara-negara Asean termasuk Indonesia. Sebanyak 31 organisasi berasal dari Indonesia dengan jumlah responden 722 orang. Responden survey adalah pemimpin tingkat eksekutif, senior dan madya serta pengelola SDM yang berasal dari organisasi kecil dan besar, perusahaan nasional maupun multinasional. “Hal ini dimaksudkan untuk mewakili dari masing-masing kategori organisasi/perusahaanâ€Â, jelas Ibu Vina G. Pendit, Director dan Founder DDI.
Hasil survei ini menunjukan, di Indonesia ternyata kesenioran seorang pemimpin masih mendapatkan tingkat kepercayaan dan dianggap memiliki pengalaman untuk menghadapi isu bisnis dalam organisasi sehingga dapat menentukan arah dan keputusan yang tepat. Sementara tingkat kepercayaan terhadap pemimpin madya dan lini bawah masih cukup jauh. Dalam survey diperoleh suatu pemahaman bahwa pemimpin madya adalah orang-orang yang memiliki keahlian secara teknikal, namun secara behavioral/soft skills masih harus diasah lagi.
Salah satu kesimpukan yang diperoleh dari hasil survei, 75% dari pemimpin eksekutif mengatakan bahwa pengelolaan talent merupakan prioritas bisnis utama saat ini. Terjadi penurunan secara progresif pada kepercayaan diri para pemimpin di dunia, namun angka kepercayaan terhadap pemimpin di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan hasil rata-rata global, yaitu sebesar 35% (2007).
Temuan lain dari survei ini, adanya kendala dalam mengembangkan kepemimpinan yang disebabkan antara lain karena para pemimpin tidak mendapatkan program yang tepat, pelaksanaan program pengembangan kepemimpinan yang tidak terintegrasi, adanya ketidaksesuaian dalam perencanaan suksesi kepemimpinan, serta kecenderungan untuk mengabaikan pengembangan pemimpin multinasional
