Home » Updates » Depresiasi Yuan terhadap Rupiah Rugikan Produk dalam Negeri

Depresiasi Yuan terhadap Rupiah Rugikan Produk dalam Negeri

 

Kepala Riset PT Recapital, Poltak Hotradero mengatakan bahwa dalam jangka panjang ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA) akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia namun dalam jangka pendek pemerintah harus dapat bernegosiasi ulang dengan Cina, terkait dengan nilai tukar Yuan terhadap rupiah yang mengalami depresiasi sebesar 17%. Hal tersebut dikemukakannya dalam media briefing Economic Outlook 2010 di Hotel Shangri-La Jakarta, Rabu (27/1).

 

Nilai mata uang Yuan terhadap rupiah Indonesia, rupee India dan real Brasil merupakan usaha artifisial Cina. Menurut Poltak, pemerintah Cina melemahkan nilai tukar mata uangnya untuk mendukung ekspor karena memang pertumbuhan negara tersebut bergantung pada ekspor. Poltak memberikan contoh bahwa di awal 2009, Cina kelimpungan akibat merosotnya ekspor mereka. Saat itu PHK besar-besaran pun terjadi di industri ekspor.

 

“Dengan depresiasi tersebut, maka harga barang Cina yang ditawarkan di Indonesia akan murah, dan harga barang Indonesia yang dijual di Cina akan mahal, depresiasi berkonsekuensi negatif terhadap harga jual produk dalam negeri” ujarnya. Untuk itulah Poltak menegaskan, pemerintah masih dapat melakukan negosiasi ulang dengan Cina sehingga daya saing produk dalam negeri terhadap produk Cina semakin kuat.

 

Meskipun dalam jangka panjang pemerintah akan diuntungkan dengan perkiraan Rp 10 triliun, namun dalam jangka menengah, kurangnya dukungan infrastruktur dikhawatirkan akan menyulitkan proses reindustrialisasi dalam peningkatan nilai tambah atas produk-produk ekspor Indonesia. “Oleh karena itu, dibutuhkan kerja keras pemerintah dalam membangun infrastruktur dalam 5-10 tahun guna meningkatkan daya saing di kawasan regional,” ujarnya.

Be Sociable, Share!
Tags: , ,
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


seven * = 42