DHL Makin Agresif

DHL Makin Agresif

Fast Forward dilengkapi TAS (trade automated services) — situs online yang membantu konsumen menyelesaikan urusan kepabeanan. Situs itu menyediakan informasi komplet mengenai perdagangan dan kepabeanan di 50 negara, serta memperkirakan seluruh biaya pengiriman (termasuk duty, pajak dan biaya lain yang terkait dengan kepabeanan). TAS juga membuat dokumentasi ekspor-impor, memeriksa pengirim dan penerima — kalau-kalau termasuk daftar larangan.

Kelebihan lain Fast Forward, fleksibel terhadap waktu dan lokasi serta layanan penyimpanan untuk pengiriman inbound. Sistem penagihannya menggabungkan semua biaya transportasi dalam satu mata uang, sistem kredit untuk pembayaran pajak impor, serta sistem pelacakan track and trace. “Dengan Fast Forward pengiriman bisa lebih efisien, transparan, aman dan cepat, sekaligus membebaskan konsumen dari keruwetan dalam pengiriman barang. Dengan begitu, konsumen bisa fokus pada bisnis utamanya,” ujar John Mullen bersemangat.

Fast Forward yang diluncurkan akhir Oktober 2003, nampaknya dimaksudkan untuk menutup ceruk kecil yang selama ini masih terbuka dalam urusan bisnis ekspres internasional. Layanan itu sekaligus melengkapi dominasi DHL di bisnis ini setelah Deutsche Post World Net mengintegrasikan ketiga anak perusahaannya dalam satu merek DHL pada April 2003.

Kini, di bawah induk baru itu DHL memiliki tiga divisi: DHL Express, DHL Danzas Air & Ocean (DDAO) dan DHL Solution. Ketiga divisi itu memang menangani jasa di wilayah berbeda. DHL Express menangani pengiriman ekspres internasional lewat udara dengan berat maksimal 250 kg. Sementara itu, DDAO mewakili bisnis Danzas terdahulu, membidik pengiriman freight dan kontainer melalui laut dan udara berbobot di atas 250 kg. Lalu, DHL Solution menyatukan kekuatan bisnis solusi DHL dan Danzas Solution, termasuk jasa logistik, warehousing dan distribusi. Dengan terintegrasinya ketiga anak perusahaan tadi, DHL langsung menjelma menjadi perusahaan penyedia solusi ekspres dan logistik terbesar di dunia.

Di Indonesia, DHL beroperasi sejak 1973, dan telah memiliki 88 outlet, tersebar di seluruh Tanah Air. Armadanya meliputi 169 kendaraan, dilengkapi alat komunikasi radio. Sementara itu, 680 karyawan pendukungnya.

Soal penguasaan pasar, perusahaan yang memiliki kantor representatif (PT Birotika Semesta) sejak 1982 itu, telah lama menjadi penguasa pasar ekspres internasional di Indonesia. Menurut John Mullen, tahun 2002 DHL mengantongi hampir 50% pangsa pasar ekspres internasional via udara di Tanah Air yang bernilai US$ 90-100 juta. Sisanya diperebutkan FedEx, UPS dan TNT. Perusahaan ekspres domestik, semacam Tiki, tidak dihitung karena cuma melayani lokal.

Di kawasan Asia Pasifik, dominasi DHL juga tak tergoyahkan. Tahun 2002 perusahaan ini mengantongi 40% pangsa pasar, menyalip FedEx yang cuma 29%, UPS 19% dan TNT 12%. Tahun lalu, DHL membukukan revenue untuk Asia Pasifik sebesar 2 miliar euro.

Dapat dipastikan, seiring masuknya negara-negara Asia Pasifik dalam era perdagangan bebas, peranan DHL di bisnis ekspres akan semakin besar. Apalagi, setelah beberapa waktu lalu DHL mengakuisisi 5% saham Sinotrans Ltd. senilai US$ 57 juta dan membeli 10% saham Air Hongkong dari Cathay Pacific. Kini 40% saham perusahaan penerbangan itu dikantongi DHL.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag