Di Tangannya Dexa Kian Berkibar

Di Tangannya Dexa Kian Berkibar

Lahir di tengah keluarga apoteker, tanpa diplot orang tuanya, Ferry A. Sutikno sejak kecil tertarik pada bidang farmasi dan obat-obatan. Toh, itu tak membuat putra pemilik PT Dexa Medika (Dexa) Rudy Sutikno itu otomatis mendapat posisi empuk di perusahaan ini. Untuk bisa mencapai posisi sekarang, yakni Direktur Pengelola Dexa, kelahiran Palembang, 22 Juni 1961, ini harus menempuh jalan berliku. Sebelum sampai ke posisi itu, ia membekali diri dengan pengetahuan yang cukup. Selesai menamatkan kuliahnya di Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung pada 1984, Ferry melanglang ke Negeri Paman Sam untuk berburu gelar Master Teknik Kimia di Universitas Washington, Amerika Serikat (1989). Tak berhenti sampai di situ. Setahun kemudian putra mahkota Dexa ini memperoleh gelar MBA bidang bisnis dari Universitas Pitsburg, Pitsburg, AS.

Ketika kuliah di AS pun dia sempat bekerja sekaligus menjajal kemampuan profesionalnya di perusahaan farmasi. Ferry pernah bekerja di KC Pharmaceutical Inc. Itu dilakoninya selama 1987-93. Posisi yang sempat didudukinya, antara lain Manajer Administrasi dan Keuangan (1987-88), Manajer Pabrik (1989-91) dan VP Pemasaran (1991-93). Ferry nampaknya bukan orang yang suka berleha-leha. Dia lebih tepat disebut gila kerja (workaholic). Dan, pengalamannya di perusahaan asing yang berkantor di Pomona CA, AS selama 6 tahun itulah yang dijadikannya bekal untuk mengembangkan Dexa.

Pada 1993, ketika kembali ke kerajaan bisnis yang didirikan ayahnya pada 1969 itu, sulung dari tiga bersaudara ini ditempatkan di divisi pemasaran. Pengalamannya yang panjang sebagai profesional di luar negeri dan kepiawaiannya dalam berkomunikasi berdampak positif bagi Dexa. Ini kemudian membuka jalan baginya untuk dipromosikan sang ayah menjadi Manajer Pengembangan Dexa setahun kemudian. Jabatan ini dilakoninya sampai 1995. Kepiawaiannya dalam mengembangkan perusahaan mulai terlihat menonjol pada 1995, ketika dia diangkat menjadi Direktur Pemasaran Grup Dexa Medica. Waktu itu Ferry mulai membangun jaringan distribusi Dexa melalui PT Anugrah Argon Medica (AAM). Lewat perusahaan distribusi ini, ia berhasil melebarkan sayap Dexa ke beberapa negara ASEAN. Tak cuma itu, ia juga melengkapi Dexa dengan 700 medical representative untuk memasarkan produk obatnya secara langsung. Tahun 2002 Ferry menjabat Presdir AAM tanpa melepaskan jabatannya di holding company.

Tak dapat dipungkiri, kehadiran generasi kedua ini telah mengantarkan Dexa menjadi pemain yang perlu diperhitungkan di industri obat ethical (dengan resep dokter). Lihat saja, misalnya, pada 1993, ketika Ferry belum lagi tune in, penguasaan pasar Dexa cuma berada di peringkat ke-25 di antara 160 perusahaan farmasi (40 asing, 4 BUMN, dan 116 swasta nasional). Setelah mendapat sentuhan tangan dingin Ferry, lima tahun kemudian (1998), Dexa telah masuk dalam deretan 10 besar. Tahun 2001 Dexa naik peringkat lagi dan bertengger di deretan 5 besar produsen farmasi dan obat-obatan ethical.

Keberhasilan Dexa masuk dalam peringkat 5 besar lantaran perusahaan ini mampu menguasai 7% pangsa pasar farmasi dari total pangsa pasar senilai Rp 15-17 triliun. Hebatnya lagi, di bawah kendali Ferry, Dexa mencatat pertumbuhan bisnis sangat signifikan: 25%-30% per tahun, jauh di atas angka pertumbuhan industri farmasi dan obat-obatan yang cuma 15%. Produknya kini mencapai 100 item lebih, antara lain Rhinos yang sangat efektif mengatasi hipertensi, diabetes dan kolesterol.

Paparan di atas langsung ataupun tak langsung menunjukkan keberhasilan Ferry membawa Dexa menjadi pemain yang patut diperhitungkan di industri obat ethical. Padahal awalnya, perusahaan yang didirikan di bekas Ibukota Kerajaan Sriwijaya (Palembang) itu cuma untuk memenuhi kebutuhan obat di Sumatra Selatan. “Kini produk ethical Dexa bisa ditemukan di seluruh pelosok Tanah Air. Bahkan, sejak 1993 produk kami sudah menembus berbagai negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Kamboja, Vietnam dan Myanmar. Bahkan sampai ke Pakistan, Yaman dan Nigeria,” tutur Ferry. “Target kami, mengembangkan Dexa menjadi perusahaan farmasi ternama di ASEAN,” tambahnya bersungguh-sungguh.

Setidaknya ada empat faktor yang membawa Dexa berjaya di industri farmasi. Pertama, di bawah kendali Ferry, Dexa sangat peduli pada riset dan pengembangan, serta mutu. Tak mengherankan, perusahaan ini memperoleh sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Kedua, Dexa memiliki manajemen yang solid dan modern dengan menerapkan prinsip good corporate governance. Ketiga, perusahaan ini memiliki diferensiasi produk yang beragam. Keempat, Dexa tetap fokus memproduksi obat-obat ethical. Bahkan untuk yang terakhir itu, Ferry membangun pabrik baru, yaitu PT Ferron Pharmaceutical. Pabrik ini diarahkan untuk memproduksi obat-obatan ethical buat segmen menengah-bawah. Akan tetapi, Dexa tetap memproduksi obat-obatan serupa buat golongan menengah-atas. “Ini untuk memperluas penetrasi kami di pasar obat-obatan domestik dan luar negeri,” jelas Ferry. “Kami akan berusaha terus tumbuh dengan membuat range produk lebih banyak. Juga lebih agresif menghadapi pasar yang persaingannya kian ketat,” imbuhnya.

Ferry, menurut Erwin, seorang eksekutif AAM, merupakan sosok pemimpin yang visioner. “Dia selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Dan yang terpenting, Ferry sangat terbuka kepada semua karyawan. Ia selalu membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki ide bagus dan bisa dijalankan,” papar Erwin bersemangat. Selain itu, ia melanjutkan, Ferry juga memiliki mobilitas yang tinggi dan ingin menjadikan Dexa terdepan di bisnis farmasi. Hanya saja, terkadang cara kerjanya yang serba cepat itu menimbulkan kesan bahwa dia terlalu ambisius. Namun, harus diakui, perhitungannya matang. Sebagai bukti, Erwin menyebutkan, di tangan Ferry Dexa kini menjadi trend setter produk farmasi. “Ferry bukan hanya owner, tapi juga eksekutif yang memiliki skill manajerial dan track record yang bagus dalam berorganisasi,” Erwin menegaskan.

Pernyataan Erwin dibenarkan Sekjen Gabungan Pedagang Besar (GP) Farmasi Sofiarman Tarmizi. Ferry, menurut Sofiarman, adalah seorang visioner dan mempunyai wawasan luas tentang dunia farmasi baik. Dia juga dinilai mumpuni dalam bidang manajerial dan dapat berkomunikasi dengan baik. ?Saya tidak heran dia diangkat menjadi Ketua Bidang Industri GP Farmasi,” ujarnya lugas. Ferry memang memegang jabatan itu sejak tiga tahun lalu. Kini Ferry masuk bursa calon Ketua GP Farmasi, bersaing ketat dengan para seniornya, antara lain Gunawan Pranoto, Syamsul Arifin dan Sofiarman.

Sofiarman menyebut saingannya itu sebagai generasi penerus yang unggul di antara para pengusaha industri farmasi. “Ia memiliki kemampuan leadership tinggi. Tak seperti orang-orang muda pada umumnya, Ferry cenderung lebih cool dalam menangani setiap masalah. Cara berkomunikasinya sangat sistematis dan mudah ditangkap,” ungkap Direktur Pemasaran PT Kimia Farma Tbk. ini. Selain itu, Sofiarman menambahkan, Ferry di-back up oleh knowledge yang bagus. “Ferrylah yang menyosialiasi penerapan teknologi informasi di industri farmasi. Contohnya di AAM,” ungkapnya. Menurut dia, pemanfaatan TI di perusahaan distribusi milik Dexa ini sudah cukup baik. Sementara itu, Ferron merupakan salah satu terobosan baru yang dibuat Ferry untuk pengembangan Dexa ke depan. “Industri farmasi bisa berharap banyak dari dia,” ujar Sofiarman.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag