Willem Lucas Timmermans berpendapat bahwa tidak ada peran yang khas dari Chief Financial Officer (CFO). Ini tergantung pada masing-masing individu, peran apa yang ingin diambilnya. Ke mana CFO dapat memberikan kontribusi, itu juga tergantung pada apa kebutuhan perusahaan dan peran eksekutif lainnya di perusahaan tersebut. “Yang jelas, satu hal adalah seorang CFO yang tidak dapat bertindak sebagai bagian dari tim, maka tidak dapat menjadikan segalanya efektif dan mungkin akan menjadi hambatan untuk pertumbuhan perusahaan,†kata CFO PT XL Axiata Tbk., itu.
Â
Ia melihat ada dua peran utama dari seorang CFO. Pertama, untuk menjalankan sebuah organisasi keuangan yang ketat dan disiplin, seperti pendanaan, manajemen treasury, akuntansi, manajemen perpajakan, dan lainnya dilaksanakan secara efektif dan cepat. Meskipun hal ini tidak selalu menciptakan nilai, tapi ini sangat relevan untuk dapat memberikan informasi yang konsisten dan transparan kepada para pemegang saham. Dan yang lebih penting, mencegah terjadinya hal-hal yang mengejutkan.
Â
Peran kedua CFO, jauh lebih relevan terkait dengan penciptaan nilai.  Untuk itu, CFO harus banyak terlibat dalam mendefinisikan strategi. Guna menciptakan shareholder velue, perusahaan memerlukan strategi yang dirancang untuk penciptaan nilai. Ada banyak contoh di mana strategi yang terlihat menarik sebenarnya tidak menciptakan nilai bagi pemegang saham, oleh karena itu penciptaan nilai harus menjadi unsur utama dari strategi itu sendiri. Selain itu, ada peran CFO dalam hal pengelolaan kinerja. CFO dapat melihat organisasi sebagai mesin dengan banyak bagian yang bergerak.  Selama bagian-bagian itu tidak bergerak dengan cara yang sinkron maka sangat tidak mungkin nilai apapun akan dapat diproduksi. Itulah sebabnya, CFO harus memastikan bahwa saat mengimplementasikan strategi, kinerja juga dikelola.Â
Â
Oleh karena itu, CFO harus melihat strategi dan kinerja melalui tiga prinsip penciptaan nilai: topline pertumbuhan, efisiensi operasional dan produktifitas aset. Setiap inisiatif strategis dan operasional perlu diuji terhadap prinsip-prinsip tersebut. Dengan prinsip-prinsip itu, CFO dapat membantu organisasi untuk mengubah input dan effort menjadi hasil yang akan meningkatkan nilai. “Setiap inisiatif yang tidak bisa secara jelas dihubungkan dengan satu atau lebih dari tiga prinsip tadi, dalam pandangan saya bakal menjadi inisiatif yang sangat dipertanyakan,†jelasnya. Tentu saja peran kedua itu bukanlah sesuatu yang dilakukan sendiri oleh CFO. Oleh karena itu CFO harus memastikan bahwa prinsip-prinsip ini dipahami dengan baik di seluruh organisasi.
Â
Untuk penciptaan nilai, kata Willem, jelas pola pikir dan budaya organisasi harus selaras. Alhasil, organisasi perlu memiliki strategi yang jelas dan dirancang untuk menciptakan nilai. Tidak kalah pentingnya adalah bahwa seluruh tim manajemen benar-benar sejalan dengan strategi itu, mengarahkan organisasi berdasarkan prinsip itu dan memastikan bahwa inisiatif yang tidak sesuai di bawah strategi tidak dilaksanakan.Â
Â
Dalam kasus XL Axiata, Willem memncontohkan pihaknya menjalankan bisnis model berbiaya rendah, di mana elemen model seperti seperti skala, kecepatan, standardisasi dan volume adalah penting. Oleh karena itu, setiap inisiatif yang akan membuat subskala atau akan membutuhkan solusi yang dibuat khusus akan mendilusi nilai, karena tidak sesuai dengan strategi. (EVA)
