Farida, Ratu Properti Andalan Grup Podomoro

Farida, Ratu Properti Andalan Grup Podomoro

Selepas meraih gelar sarjana dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta tahun 1991, keinginan merentas karier di dunia properti pun tercapai, tapi di bidang pemasaran. PT Duta Pertiwi Tbk. menjadi pijakan awal, sebagai Manajer Penjualan proyek ITC Roxy Mas dan Apartemen Roxy Mas.

Dua tahun berselang, Farida dipercaya menangani pemasaran proyek Karawang Golf Hills. Lalu, setahun kemudian, ia didapuk menangani proyek apartemen dan rukan Cempaka Mas. Di proyek ketiga inilah Farida mengalami masa keemasan. “Saya bisa menjual 1.050 unit/minggu,” ujarnya mengenang.

Sukses di Duta Pertiwi, wanita berkulit putih ini ditarik Lippo Development Group menduduki jabatan Manajer Pemasaran. Ia pun terlibat aktif dalam proyek Aston Sudirman Condominium (dulu bernama Sudirman Tower Condominium).

Tahun 1997, PT Modernland Realty Tbk. menjadi persinggahan Farida berikutnya. Sebagai Manajer Pemasaran Senior, ia membawahkan Proyek Kota Modern, Bukit Modern dan Taman Modern. Hantaman badai krisis moneter membuat MR berjaga-jaga dengan membentuk divisi pemasaran sekunder agar perusahaan bisa bertahan. Farida pun dipercaya memimpin divisi sekunder itu. “Walau sedang diterjang gemuruh krisis, peluang properti masih terbuka lebar,” ujarnya. Maka, ia tetap serius menggarap proyek di atas lahan seluas 400 hektare itu.

Surabaya menjadi pelabuhan selanjutnya. Tahun 2002 ia dipercaya menjadi Manajer Pemasaran Senior Grup Pakuwon, khususnya untuk proyek landed-house Pakuwon Indah, Surabaya. Sayang, ia merasa kurang cocok dengan pasar Surabaya. “Style dan karakter (bisnis properti) Surabaya berbeda dari Jakarta,” kata Farida. Saat itu ia hanya mampu menjual 80-100 unit/minggu.

Sederet prestasi yang dibukukannya membuat Agung Podomoro Group (APG) tak ragu lagi meminang Farida sebagai General Manager Pemasaran. Di perusahaan inilah bintangnya kian bersinar. Dalam dua tahun ia berhasil menjual 2.380 unit salah satu proyek prestisius APG, Apartemen Sudirman Park. “Dalam bulan pertama saya masuk di APG, saya berhasil menjual 375 unit,” ujarnya. Prestasi tersebut membuat kariernya kian melesat. Saat ini ia menduduki jabatan GM Pemasaran (Mixed-Use, Holding Company) dan GM Pemasaran Operasional yang membawahkan Sudirman Park, Permata Mediteranean (Landed House) dan The Lavande — ia berwenang memantau seluruh pemasaran APG.

Apa resep yang membuatnya bisa mengukir alur panjang kesuksesan? Menurut Farida, seseorang yang terjun di bidang ini harus tahu betul konsep yang akan diolah. Kemauan berkreasi dan berinovati juga menjadi faktor pendukung. Setiap orang yang ingin berhasil mesti bisa memotivasi diri sendiri dan orang lain. “Dulu Sudirman Park banyak yang bilang dekat kuburan. Para sales (-person) sempat down. Tapi, saya memotivasi mereka supaya tetap pede,” ucapnya.

Farida menyebutkan, setelah belasan tahun bergelut di dunia properti, naluri dan kepekaannya kian terasah. Dari penawaran pertama yang diajukan konsumen, dia bisa memperkirakan apakah konsumen tersebut serius atau tidak membeli apartemen. “Bahkan, pada hubungan pertama lewat telepon pun saya sudah tahu pasti apakah orang tersebut serius atau hanya main-main,” ungkapnya. “Dulu saya juga berusaha mendampingi sales (-person). Saya jadi tahu banyak hal.”

Kini, Farida tengah sibuk mengelola proyek apartemen baru APG di Tebet, Jakarta Selatan, The Lavande. “Dari akhir Mei lalu hingga akhir Juni 2007, The Lavande sudah terjual 20%,” ungkapnya.

Roy Gosjen, CEO PT Istana Makmur Sejati, angkat topi atas prestasi yang dibukukan Farida. Keberhasilan penjualan Apartemen Sudirman Park salah satunya juga karena faktor Farida. “Itu merupakan hasil ketekunannya. Tapi sebenarnya hal itu lebih banyak karena konsep, produk dan lokasinya yang sudah bagus, ditambah lagi dia (Farida) bisa mengelola dengan baik, sehingga itu sukses,” ujar pria yang sebelumnya menjabat sebagai Penasihat Pemasaran APG ini.

Roy menyebutkan, keberhasilan Farida dalam memasarkan Apartemen Sudirman Park juga ditunjang kondisi pasar yang bagus. “Konsep dasar apartemen di mana-mana sama, yaitu menuju ke harga,” ujarnya. Tantangan berat, menurut dia, ada pada proyek The Lavande. “Kalau dilihat, pasar properti yang paling kuat adalah daerah selatan. Untuk daerah timur, saya agak sedikit khawatir kalau harga dia tidak terlalu begitu bagus,” ucapnya. Untuk menyikapi itu, menurut Roy, Farida perlu menyajikan harga yang sesuai dengan kelas ekonomi masyarakat sekitar.

Taufik Hidayat dan Rias Andriati

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag