Di BSD City, peluang ini ditangkap PT Wifend Darma Persada (WDP). Operator bus yang memosisikan diri sebagai feeder (pengumpan) bus TransJakarta ini melayani dua rute: BSD City-Pondok Indah-Ratu Plaza-Plaza Senayan dan BSD City-Kota-Mangga Dua. Rute pertama dimulai 15 Desember 2004, sedangkan rute kedua baru dioperasikan 11 Januari 2005.
Menurut Direktur WDP Ikmal Jaya, kebutuhan masyarakat perumahan pinggiran kota terhadap bus yang dapat mengantar mereka hingga ke halte-halte bus TransJakarta sangat tinggi. Karena itu, bus trans (feeder)-nya hanya menurunkan penumpang di halte-halte bus TransJakarta yang telah ditentukan. Demikian pula ketika sampai di BSD City, bus-bus tersebut hanya berhenti di tempat-tempat tertentu, yaitu halte Kolam Renang, Al Azhar dan Swiss German University.
Bukan hanya tempat pemberhentian yang diatur. Jadwal pemberangkatan pun disesuaikan dengan kesibukan orang berangkat ke kantor dan pulang ke rumah. Sejauh ini, Ikmal menjelaskan, pihaknya memberangkatkan bus di BSD City dalam tiga shift: pagi, siang dan sore.
Keberadaan bus milik WPD, seperti dituturkan Ikmal, disambut warga dengan antusias. Maklum, layanannya istimewa. “Bus kami dilengkapi dengan AC, TV, VCD dan radio tape,” ujarnya. Di samping itu, “Kami juga mengutamakan keamanan. Misalnya, pengamen dilarang masuk ke bus,” katanya menjelaskan.
Kendati jarak tempuhnya relatif dekat, Ikmal mengaku tetap harus mengurus izin trayek untuk rute antarkota antarprovinsi. Pasalnya, bus ini beroperasi melintasi dua provinsi: Banten dan DKI Jakarta. Selain itu, ia juga menjalin koordinasi dengan Badan Pengelola Trans Jakarta. Setelah izin dikantongi, WDP juga harus bekerja sama dengan pengembang BSD. Bentuk kerja sama yang ditawarkan pengembang adalah menyediakan halte bus, ditambah subsidi biaya operasional bus selama 5 tahun kontrak berjalan.
Dhony Raharjo, GM Layanan Publik PT BSD, membenarkan pihaknya memberi subsidi operasional kepada WDP dengan masa kontrak 5 tahun. Nilainya, Rp 1,4 miliar. Di lain pihak, BSD memperoleh kompensasi berupa pemasangan iklan BSD City di setiap badan bus. Yang pasti, ia melanjutkan, “Kompensasi utamanya adalah membuat warga BSD City menjadi lebih nyaman dan makin mudah menempuh perjalanan ke Jakarta.” Saat ini, Dhony memperkirakan 3%-5% warga BSD City menggunakan transportasi ini sebagai sarana angkutan. Berarti, setiap hari 3.000-5.000 orang memanfaatkan angkutan ini.
Dilihat dari sisi bisnis, Ikmal mengakui, usaha yang dijalankan kelompok bisnis otobus Dewi Sri di BSD City ini cukup menguntungkan. Asal tahu saja, Dewi Sri merupakan salah satu operator bus yang cukup besar dari Tegal, Jawa Tengah. Induk perusahaan, Dewi Sri, dipimpin ibunda Ikmal, Hj. Rokayah. “Saat ini Dewi Sri memiliki lebih dari 100 unit bus,” ujar anak keempat dari 6 bersaudara yang dipercaya ibunya memimpin WDP ini.
Berdasarkan perhitungan kasar, bus yang mematok tarif Rp 8 ribu ini meraup pendapatan Rp 960 ribu/hari. Laba kotornya Rp 17,8 juta sebulan setelah dikurangi biaya operasional. Atau, Rp 178, 2 juta dari 10 bus yang beroperasi di BSD City.
Kendati demikian, Ikmal buru-buru menambahkan, bukan berarti uang sebanyak itu masuk ke kantong perusahaan. Sebab, selama tiga tahun berjalan, WDP harus membayar biaya leasing senilai Rp 16-18 juta/bulan/unit. Otomatis, keuntungan operasional yang diperoleh saat ini belum bisa dinikmati karena masih harus menutupi biaya tersebut. “Jadi, saat ini kami hanya sekadar impas,” ujarnya blak-blakan. Perusahaan yang berdiri pada November 2003 ini ditargetkan baru mencapai breakeven point setelah empat tahun beroperasi.
Selain di BSD City, WDP juga menjadi operator bus di perumahan-perumahan lain di pinggiran Jakarta. Di antaranya, Bintaro Jaya, beroperasi sejak Juni 2004 dengan 7 bus. Lalu, Citra Indah Cibubur sejak Maret 2005 (4 bus). Perumahan Citra Raya Cikupa Tangerang pun dirambahnya dengan meluncurkan 6 unit bus feeder. Lalu, Juni lalu masuk ke perumahan Kemang Pratama Bekasi dengan empat unit bus. Seluruh rute di atas, tarifnya Rp 7 ribu. Menurut Ikmal, pola kerja sama yang diterapkan di perumahan-perumahan tersebut tidak ada bedanya dengan di BSD.
Ke depan, Ikmal bakal menambah 10 unit bus lagi untuk memperkuat armadanya di BSD City. “Rencananya, bus kami akan menggunakan pintu tengah seperti busway (bus TransJakarta – Red.) Demikian pula dengan sistem ticketing-nya, kami akan meniru busway,” ujarnya bersemangat. Sejauh ini, WDP masih menggunakan sistem karcis yang dibeli penumpang di loket sebelum naik bus.
Mengenai cita-citanya itu, Ikmal tak main-main. “Saat ini kami tinggal menunggu realisasi halte feeder yang akan dibuat Pemda DKI,” katanya. Terlebih, izin dari Gubernur DKI Jakarta untuk menyediakan 100 unit bus feeder pun sudah dikantonginya. Rencana Ikmal juga didukung pihak pengembang. Seperti diungkapkan Dhony, saat ini BSD masih terus membangun wilayahnya. “Luas BSD 6.000 hektare. Saat ini pengembangannya baru mencapai 25%,” ujarnya. Dhony berharap layanan transportasi bus trans tak hanya sebatas antarkota antarprovinsi, melainkan juga menjangkau seluruh kawasan internal BSD yang luasnya tiga kali kota Bogor. Kalau terealisasi, mantap juga langkah yang diayun pengusaha dari Tegal ini!***
