Â
Beragam pendapat dilontarkan berbagai kalangan terkait besarnya dana kredit perbankan yang belum dicairkan (undisbursed loan) yang pada bulan Oktober 2009 sudah mencapai Rp 279 triliun. Sigit Pramono, Komisaris Independen Bank BCA sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Swasta Nasional (Perbanas) misalnya, dirinya mengklaim kalangan perbankan sudah mempersiapkan dana kredit untuk disalurkan tapi belum di manfaatkan oleh nasabah. “ Jadi tidak semua kesalahan di limpahkan ke pihak bank,†ujarnya dalam konferensi pers Asia Pacific Conference and Exhibition di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Sigit, suku bunga kredit modal kerja yang masih berada di kisaran angka 12 % -16% bukan merupakan halangan bagi pengusaha untuk menyerap kredit perbankan. Pengusaha, ia menambahkan, lebih membutuhkan dukungan infrastruktur seperti kelancaran pasokan listrik dan juga faktor lainnya, seperti politik yang stabil.
Ia menunjukkan beberapa buktinya. “Ternyata sektor riil di 2009 lebih meminimalkan produksinya. Misalnya dari 4 lini menjadi 3 lini produksi. Jam kerjanya juga dikurangi hanya 70% saja. Karena kemarin banyak factor yang membuat bisnis tidak berjalan baik seperti krisis dan Pemilu,†ujarnya.
Sementara Philip Purnama, Direktur Spinaker, sebuah perusahaan manajemen investasi menganggap, mengungkapkan, salah satu faktor besarnya undisbursed loan adalah pihak perbankan saat ini lebih berhati-hati dalam memberikan kredit karena bisa terkena sanksi pidana jika ‘salah’ mengucurkan kredit. Selain itu, besarnya dana kredit menganggur yang belum dicairkan, juga lantaran pengusaha lebih hati-hati berinvestasi karena sudah berlakunya masa free trade agreement (FTA) dengan Cina. “Terutama bagi para perusahaan manufaktur,†ujarnya. Dengan FTA perusahaan jadi lebih berhati-hati dalam membeli mesin-mesin baru.
Philip menilai, pengusaha tidak bisa bisa dipaksakan dalam menyerap kredit. “ Harus ada dorongan natural untuk berinvestasi,†ia menerangkan. Adapun Sandiaga S. Uno, Managing Director Saratoga Capital, mengatakan, kendala bagi kalangan usaha kecil dan menengah untuk mengambil kredit perbankan ada pada aspek kemampuan mereka mengakses perbankan, bukan suku bunga.
Ungkapan Sandi, sapaan akrab Sandiaga memang tidak salah. Aksesibilitas terhadap dana kredit perbankan memang menjadi salah satu kendala bagi UKM. Sampai-sampai Ayi Solihin, seorang pengusaha ikan balita asal Cianjur yang beromset puluhan juta rupiah per bulan menyebut lintah darat sebagai pahlawan. Hal itu karena begitu mudahnya dirinya memperoleh pinjaman kepada mereka ketimbang dari bank.
“Pinjam ke bank itu sudah rumit, prosesnya lama, lagi pula belum tentu dananya turun,†ujarnya ketika di temui SWA di rumahnya yang merangkap ‘kantor’ di kawasan Cianjur, Jawa Barat. Ayi sendiri tidak merasakan manfaat kredit perbankan ketika dirinya membutuhkan sumber dana cepat. Barulah setelah sekarang usahanya mulai membesar, kalangan perbankan mulai meliriknya.
Karena itulah Sandi menyarankan perbankan agar memudahkan kalangan UKM mengakses kredit modal kerja. Sementara Philip Purnama justru menyarankan pemerintah untuk membenahi sector transportasi seperti memperbanyak pelabuhan dan meningkatkan efisiensinya agar roda bisnis semakin kencang berputar sehingga kredit modal kerja dari perbankan semakin banyak terserap.