Gadai Saham, Yuk!

Gadai Saham, Yuk!

Ya, inilah terobosan Pegadaian, yang sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan yang tahun lalu beromset Rp 18 triliun itu tak lagi melayani kaum papa, melainkan juga warga menengah-atas. Pada produk Gadai Efek (GE) bernama Investa ini, sejatinya bukan hanya saham yang bisa diagunkan, tapi juga instrumen efek lainya seperti obligasi, Surat Utang Negara dan Obligasi Ritel Indonesia. “Untuk tahap awal, baru saham yang bisa diagunkan,” ungkap Deddy Kusdedi, Direktur Utama Pegadaian.

Produk ini dihadirkan karena selain industri pasar modal tengah boom, permintaan pasarnya pun sudah ada. Apalagi, sebelumnya telah meluncur produk yang hampir mirip GE — walau perbedaannya sangat banyak — yaitu repo (repurchase agreement) dan margin trading. Inilah yang membuat Pegadaian optimistis potensi pasar GE sangat besar. Deddy memperkirakan, kapitalisasi saham-saham pilihan yang tergabung dalam LQ 45 (45 saham terlikuid yang ditetapkan Bursa Efek Jakarta) — biasa disebut blue chips — sekitar Rp 60 triliun, atau malah bisa lebih besar lagi. Lho, apa hubungan LQ 45 dengan GE?

Keduanya terkait erat. Pegadaian menetapkan saham-saham yang bisa digadaikan adalah yang masuk kategori LQ 45. Hanya saja, dilakukan seleksi. Dari 45 saham, cuma 20 teratas yang dipilih, yang setiap periode tentunya berubah-ubah. Seperti saat ini, saham incaran Pegadaian di antaranya saham Telkom, BCA, BRI, Bukit Asam dan Bank Mandiri. Tertarik mengagunkan?

Bagi yang ingin (individu atau korporasi) menggadaikan sahamnya, tinggal menghubungi lima perusahan sekuritas mitra Pegadaian: Securinvest Central Gani, Optima Kharya Capital Securities (OKCS), Erdikha Elit Securities, Andalan Artha Advisindo Securities, UOB Kay Hian Securities dan Bank Niaga sebagai bank kustodiannya. “Kami sebagai perantara mendapat fee marketing sekitar 0,2% dari total nilai pinjaman nasabah,” kata Antonius T.P. Siahaan, Direktur Pengelola OKCS.

Permohonan nasabah akan diklarifikasi keabsahannya oleh Pegadaian sebagai kreditor setelah dilakukan analisis (valuasi). Nantinya, pinjaman yang dikucurkan hanya 50% dari total nilai saham dengan aturan: besar pinjaman Rp 50 juta-50 miliar, tenor pinjaman selama 90 hari, dan bunga 14%-15%/tahun. Lebih jelasnya, simak ilustrasi berikut: misalnya harga saham Telkom yang akan digadaikan adalah Rp 9.500 x 20 lot = Rp 95 juta. Maka, Pegadaian akan menghitung nilai saham hanya 50% (Rp 47,5 juta). Kalau kucuran dana disetujui, saham akan diblokir Kustodian Sentral Efek Indonesia, selaku lembaga tempat penyimpanan efek. Dengan demikian, saham yang sudah digadaikan tidak bisa diutak-atik nasabah.

Nah, karena harga saham turun-naik, bila nilai saham yang bersangkutan juga turun, otomatis nilai agunan sahamnya juga merosot. Andai seperti ini, nasabah harus menutupi kekurangan itu agar nilai sahamnya bisa seperti nilai yang telah diagunkan semula. Caranya? Menambah dengan saham baru, atau membayar tunai. Jika tak bisa menambah nilai sahamnya, saham itu akan dijual Pegadaian untuk melunasi pokok dan bunga pinjaman. Jika saat dijual ada kelebihan dana, akan dikembalikan kepada nasabah. “Jadi, hak nasabah itu sangat dilindungi betul,“ tutur Bernhard Simanjuntak, Manajer Unit GE Pegadaian.

Purwadi Andandianto, Dirut Dana Pensiun PT Jasa Marga yang memiliki portofolio berbagai saham blue chips, mengakui GE merupakan terobosan baru. Hanya saja, saham itu likuiditasnya tinggi. Maka ia berpendapat, ketika seseorang butuh dana, bisa saja dicairkan dengan cara menjual langsung sahamnya di bursa. “Artinya, Gadai Efek merupakan alternatif bagi nasabah untuk mendapat dana tunai selain lewat bursa,” ujar Purwadi sambil mengungkapkan, saat ini perusahaannya belum tertarik mencoba produk baru ini.

Pendapat Purwadi masuk akal. LQ 45 amat dinamis dan likuid. Kalau butuh uang, mengapa tak langsung dijual saja ke pasar?

Itu artinya, Pegadaian perlu kerja ekstra untuk menyukseskan programnya. Faktanya, BUMN ini juga tak mau grusa-grusu. Layanan GE baru ada di Kantor Pusat Pegadaian, Jakarta. Namun ke depan, kalau pasarnya bagus, akan merambah kota-kota besar lain yang diyakini banyak investor di dalamnya, seperti Medan, Semarang, Surabaya, Makassar dan Denpasar. Kepada mereka, promonya cuma satu: “Gadai saham, yuk!”

Dede Suryadi

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag