Home » Headline » Gerilya Dani Wanandi dan Feller Lokanata di Bisnis F&B

Gerilya Dani Wanandi dan Feller Lokanata di Bisnis F&B


“Ini adalah baju kekaisaran dari salah satu dinasti di Cina, dimiliki keluarga besar Wanandi, Pak Sofyan dan Pak Yusuf Wanandi. Sengaja dipamerkan di sini karena kami ingin restoran ini memiliki atmosfer yang sesuai dengan konsepnya, makanan Sichuan dan Kanton,” ujar Feller Lokanata dalam acara media food testing di resto South Beauty yang berlokasi di di ANZ Square, Thamrin Nine Podium (UOB Building), Thamrin, Jakarta.

South Beauty (SB) merupakan bisnis terbaru besutan Grup Jaddi, kelompok usaha di bidang food and beverages (F&B) yang tengah naik daun di Jakarta. Salah satu pemodalnya adalah Dani Wanandi, yang menjabat CEO SB. Dani adalah putra Jusuf Wanandi, kakak pengusaha nasional Sofjan Wanandi. Selain Dani, terdapat banyak anak muda lainnya yang berkongsi dalam grup yang tidak diketahui tahun berdirinya itu. Di antaranya Doni Wanandi, saudara kandung Dani, Feller Lokanata dan Lowrenz Tanuwijaja. Grup Jaddi kini memiliki kurang lebih 10 merek resto dengan sekitar 100 gerai. Yang terkenal selain South Beauty, misalnya, D’ Crepes, Vin+ (wine lounge), Sushi Tei Bandung, Pepper Lunch Bandung, Mix Grill dan Cork & Screw.

Feller, sebagai komisaris SB, menggambarkan kelompok tersebut sebagai konsorsium investor. “Jadi kami, para anggotanya, juga memiliki bisnis F&B masing-masing yang tidak menggunakan grup itu. Jaddi hanya dipakai kalau ada usaha patungan yang kami buat, seperti resto South Beauty ini. Posisi saya sendiri di Jaddi sebagai teman,” ujarnya sambil tersenyum.

Feller, contohnya. Anak pengusaha garmen dari Bandung kelahiran 1976 ini adalah salah satu pemilik dari Sushi Tei Bandung, Pepper Lunch Bandung, Vin+ Arcadia, dan beberapa bisnis F&B lagi yang sedang dalam pengembangan di Bandung.

Meski jenis restonya sangat beragam, bukan berarti Grup Jaddi reaktif. “Kami berbisnis restoran kalau memang kami pandang berprospek bagus  dan berjangka panjang. Resto yoghurt dingin, misalnya, tidak akan saya masuki karena longevity-nya menurut kami kurang panjang. Bagi perintisnya mungkin baik masa depannya, tapi bagi pengikutnya saya tidak tahu,” papar Feller.

Karena itulah, mereka kini kembali mendirikan resto baru karena dirasakan memiliki konsep dan peluang yang kuat. Mereka berempat mendirikan SB dengan bendera PT Maharajadi Oriental yang beralamat di Jalan Kelapa Gading. SB sendiri merupakan sebuah franchise asing milik Grup South Beauty yang berkantor pusat di Beijing, Cina.

Ide mendirikan SB berawal ketika Feller dan ketiga kawannya yang memang hobi kuliner makan di resto SB di Cina. Dari situlah mereka tertarik membawanya ke Indonesia. Tak lama mereka pun mendekati Madame Zhang Lan, pemilik Grup SB yang punya lebih dari 50 gerai di Cina.

Ternyata, prosesnya tidak mudah. Butuh 2,5 tahun bagi keempat anak muda itu untuk merayu Madame Zhang Lan. Selain itu, mereka harus berkompetisi dengan berbagai pihak yang juga menaruh hati. Sebut saja, LV MX, grup Luis Vuitton di Paris, yang ingin mendirikan SB di sana. Tak sedikit pula pengusaha dari Jepang, Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia yang tertarik.

Akhirnya, setelah intens merayu dengan beberapa kali terbang langsung ke kantor pusat SB di Beijing, keempat anak muda itu memenangi hak untuk membawa SB ke luar Cina pertama kalinya. Setahun lalu, Juli 2009, dimulailah pembangunan SB yang memiliki luas 1.400 m2 dan bisa menampung hingga 270 orang di lokasi yang sekarang. Sayang, Feller enggan memaparkan investasinya.

Proses pembangunannya memang memakan waktu cukup lama, 6 bulan. Namun, hasilnya sepadan. Resto ini mengusung konsep desain yang terinspirasi dari peti harta karun serta menggunakan berbagai artefak berharga seperti snuff bottle, lentera, mutiara, dan partisi kayu khas Cina untuk membentuk suasana ala Cina kuno. Penggunaan simbol-simbol Cina kuno yang legendaris — seperti gambar naga terbang di langit-langit area utama dan unsur kayu — disajikan untuk menonjolkan tema desain resto ini.

Resto ini dibagi menjadi 7 zona: lobi masuk, lobi penerima tamu, ruang makan privat, ruang VIP, ruang VIP kecil, ruang makan utama dan board room (ideal untuk jamuan bisnis, dilengkapi proyektor dan fasilitas audio, dapat mengakomodasi 14 orang).

Untuk urusan makanan, Grup Jaddi tidak main-main. Sebelas chef didatangkan khusus dari Cina dengan dibantu 30 koki Indonesia untuk menyajikan rasa yang sesuai dengan citarasa aslinya. “Sulit memenuhi keinginan para chef itu. Kalau minta bahan ayam, harus yang beratnya sekian, sayuran yang kesegarannya sekian. Kalau tidak, bakal ditolak. Penuh tantangan, memang,” ujar Feller, sarjana bisnis dari University of Wisconsin, AS, itu, sambil tertawa kecil.

Demi menjaga kualitas makanan itu pula, Jaddi mengimpor dua kontainer bumbu dan bahan makanan dari Cina per semester. Hal tersebut juga lantaran beberapa bumbu tidak tersedia di Indonesia, seperti mala, biji-bijian kecil dengan rasa pedas menyengat.

Menawarkan 170-an jenis masakan dengan sajian andalan seperti Rock Salad, Beggar’s Chicken dan Fried Sliced Superior Beef Tender with Stones in Hot Oil, resto ini mampu menarik rata-rata 150 pengunjung per hari. Nama-nama beken pun kerap mampir di sini seperti mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan mantan Wapres Jusuf Kalla.

SHARE SOCIAL MEDIA


RELATED POSTS

Sorry, no related post.

LEAVE A REPLY


* nine = 54