Home » Updates » Harumkan Nama Bangsa Lewat Prestasi Bisnis Internasional

Harumkan Nama Bangsa Lewat Prestasi Bisnis Internasional

Perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN yang mampu bersaing di tingkat regional atau global juga merupakan aset kebanggaan nasional. Jadi, tidak hanya kekayaan sumber daya alam, panorama wisata, seni dan budaya, atau SDM saja yang bisa unjuk gigi untuk mengharumkan nama bangsa di forum internasional. Prestasi yang diukir sejumlah perusahaan kita bisa mengangkat martabat bangsa, meningkatkan citra, bahkan membantu memulihkan kepercayaan asing.

Kendati Indonesia kaya sumber daya alam, perusahaan nasional yang mampu berkiprah di panggung bisnis dunia tidak cuma berkutat di sektor itu. Lihatlah beberapa perusahaan kita diperhitungkan pula dalam bisnis telekomunikasi, makanan, komponen elektronik, pulp & paper, sepatu, tekstil, bahan kimia, dan lainnya.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk., misalnya. Produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia itu menjadi satu-satunya representatif perusahaan nasional yang masuk daftar BCG Global Challengers 2008 – yang belum lama ini dirilis. Nilai omsetnya tahun 2007 sekitar Rp 27,86 triliun.

Di industri tekstil, PT Apac Inti Corpora patut diperhitungkan. Sebagai pemain kuat pakaian berbahan denim atau jins, Apac mengekspor sebagian besar produknya ke 70 negara di lima benua; sedangkan 10% untuk pasar domestik. Perusahaan dengan 11.723 karyawan ini masuk dalam the big five di segmen kain denim dunia; dan di Asia terbesar kedua dengan kapasitas produksi kain denimnya 60 juta yard per tahun.

Untuk sektor kimia, PT Polychem Indonesia Tbk., produsen bahan kimia ethylene glycol, monoethylene glycol, ethoxylate dan polyester masuk dalam jajaran 10 besar dunia. Ekspor tahunan Polychem (termasuk benang polyester untuk tekstil) ditaksir mencapai US$ 170 juta atau setara Rp 1,5 triliun.

Bisnis resleting (zipper) dunia pun dikejutkan dengan dominasi pasokan dari produsen Indonesia. Siapa pun mafhum, 80% pasar resleting dunia dikuasai Grup YKK dari Jepang. Namun, 68% produksi YKK itu ternyata disuplai dari Indonesia sebagai mitra melalui PT YKK Zipper Indonesia, PT Adityawarman, PT YKK Zipco Indonesia, dan PT YKK Fasco Indonesia. Jumlah pabriknya di Jabotabek sekitar 10 unit. Produk YKK mencakup semua jenis resleting untuk pakaian, kopor, tas, alat olah raga, perlengkapan bertenda, benda-benda dari tekstil, kulit, sintetis dan sebagainya.

Di industri komponen dan barang jadi elektronik, nama PT Sat Nusa Persada Tbk. juga masuk 10 besar dunia. Hampir 100% produksi pabrik dari Batam itu untuk memenuhi pasar ekspor dengan penjualan tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp 2 triliun. Paling tidak 23 merek elektronik dunia menjadi kliennya, seperti Kenwood, Nokia, Sanyo, Epson, Sony, Panasonic dan Allied Telysin.

Kiprah Grup Ceres di bisnis makanan olahan pun tak bisa dianggap enteng. Perusahaan asal Bandung ini cukup mendominasi bisnis cokelat olahan dunia, karena menjadi pemain terbesar ketiga, hanya kalah dari M&M dan Hershey. Ceres mengibarkan merek Silverqueen dan Delfi. Delfi awalnya merupakan merek produk cokelat asal Swiss yang diakuisisi Ceres tahun 1987. Di bisnis cokelat branded, Ceres bahkan sudah mengalahkan pemain top dunia seperti Nestle, Cadbury, Mars Group dan Arnotts. Hebatnya, Ceres menguasai pula bisnis chocolate ingredient. Untuk itu grup ini punya 6 pabrik yang tersebar di Malaysia, Filipina, Thailand, Brasil, Meksiko dan Indonesia. Dari pabrik-pabrik inilah Ceres mengekspor produknya ke 30 negara. Akan tetapi, baru-baru ini pemilik Ceres memindahkan kantor pusatnya ke Singapura, dan membuat holding company di sana bernama Petrafood Pte. Ltd., yang sudah dicatatkan di Singapore Stock Exchange. Besarnya gurita bisnis Grup Ceres tercermin dari omset Petrafood yang hingga kuartal ketiga tahun 2007 telah mencapai US$ 599,8 juta atau sekitar Rp 5,5 triliun.

Nama PT Ecogreen Oleochemical juga menambah deretan perusahaan kebanggaan nasional. Produsen fatty alcohol natural terbesar di dunia ini memiliki kapasitas produksi 110 ribu metrik ton/tahun. Fatty alcohol merupakan bahan baku industri perawatan tubuh, sabun mandi, sampo, kondisioner, detergen, makanan, plastik, farmasi, pelumas dan berbagai produk industri lain. Selain fatty alcohol, perusahaan ini juga memproduksi fatty acid, methylester dan glycerin. Perusahaan patungan Grup Wings, Grup Lautan Luas dan Grup Djarum ini memusatkan produksinya di dua pabrik, yakni di Belawan, Medan (30 ribu ton/tahun), dan Batam (80 ribu ton/tahun). Dari kedua pabrik ini, 95% produknya diekspor. Adapun total omsetnya setahun kurang-lebih US$ 200 juta.

Untuk perusahaan-perusahaan berbasis sumber daya alam tak diragukan lagi sepak terjangnya di kancah bisnis internasional. Di bisnis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), Indonesia punya Grup Musim Mas (GMM) yang membeli CPO hampir dari semua perkebunan sawit besar. Sebut saja dari Grup Salim, Astra Agro Lestari, Grup Sinar Mas, PTPN dan London Sumatra Plantations. Dalam hal ini, GMM masuk melalui dua entitas utama: PT Intibenua Perkasatama dan PT Musim Mas, dengan nilai pasar global total sekitar Rp 8 triliun.

Di bidang agrobisnis, nama PT Great Giant Pineapple (GGP) mencuat sebagai produsen makanan olahan dari nanas terbesar ketiga di dunia. Perusahaan yang tergabung dalam Grup Gunung Sewu ini hanya kalah dari Del Monte dan Dole (keduanya dari benua Amerika).

Malahan, dari luas perkebunan nanas 28 ribu hektare yang dimiliki, GGP merupakan yang terbesar kedua dunia, hanya kalah dari sebuah perusahaan Brasil. Tahun 2006 nilai ekspor bersih GGP sudah berkisar Rp 1 triliun.

Untuk industri pertambangan, perusahaan Indonesia juga unggul. Umpamanya di bisnis timah, Indonesia layak bangga dengan debut PT Timah Tbk. Maklumlah, Timah termasuk pemain nomor satu dunia dengan total produksi 60 ribu ton. Hingga kuartal ketiga 2007 penjualan bersihnya tercatat Rp 6,58 triliun.

Tentu saja selain nama-nama yang dipaparkan di atas, masih banyak perusahaan nasional lain yang berprestasi di ranah bisnis internasional. Sebab, Indonesia masih potensial melahirkan para global challenger. Seperti yang diungkapkan sejumlah pakar bahwa Indonesia punya potensi melahirkan pemain bisnis baik regional maupun global. “Hanya saja, ini akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat,” kata Djoko Wintoro, Direktur Riset Prasetiya Mulya Business School. Himawan Wijanarko, GM Partner Strategis The Jakarta Consulting Group, menambahkan, ada dua langkah penting untuk menjadi global challenger. Pertama, membangun merek global. Kedua, membangun inovasi.

Peran pemerintah tak kalah penting dalam mencetak para global challenger. Menurut Rhenald Kasali, peran pemerintah dalam konteks ini tidak perlu maksimal, tapi juga jangan terlalu minim. “Sebab kasus ini berdasarkan mekanisme pasar, bukan dari perencanaan pusat. Contohnya dengan membangun infrastruktur yang baik guna memfasilitasi perusahaan-perusahaan kakap nasional agar lebih kompetitif,” penulis buku Powerhouse, Pertamina on the Move (2008) itu menjelaskan.

Be Sociable, Share!
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


five - 2 =