Humpuss di Tangan Anton

Humpuss di Tangan Anton

Ada bebarapa cara yang dilakukan pemilik HIT untuk meningkatkan kinerja bisnis. Pertama, menunjuk kapten baru guna mengomandani proses turnarround. Untuk itu, sejak 16 Februari 2009 tampuk tertinggi sudah dipegang bos baru, Antonius Widyatma Sumarlin. Anton, begitu dia disapa, tak lain adalah putra mantan Menko Ekuin, J.B. Sumarlin. Selain telah malang-melintang di berbagai perusahaan — tak terkecuali di luar negeri — Anton yang kelahiran Pittsburg, Amerika Serikat, 22 Juni 1967 ini juga aktif mengajar di Prasetiya Mulya.

Anton dan timnya merencanakan berbagai strategi untuk membuat rapor kembali biru, sebagian program bahkan telah dijalankan. “Kami akan negosiasi ulang dengan pihak-pihak yang terkait bisnis drybulk untuk menekan rugi selisih kurs,” dia menjelaskan prioritas strateginya. Sekadar info, hingga Juli 2008 pendapatan tiap kapal drybulk masih bisa menyentuh US$ 65 ribu per hari. Namun, sejak Agustus 2008 angkanya turun drastis hingga US$ 15 ribu per hari. Gambaran lagi, pendapatan kapal Mahakam dan Barito masing-masing US$ 13.500 per hari sedangkan beban bunga yang harus dibayar HST sekitar US$ 38.000. Cukup memilukan sehingga harus segera dinegosiasi. “Saat itu HIT lemah di risk management,” ungkap Anton.

Manajemen baru juga merencanakan multicapability solutions strategy dalam rangka merestruksturisasi keuangan. Di antara cara yang ditempuh, memperbaiki portofolio HST dengan menjadikan PT Humpuss Transportasi Curah (HTC) Tbk. berada di bawah HST. Sebelumnya HST dan HTC sejajar, sama-sama langsung berada di bawah HIT. Cara itu akan membantu mempercantik rapor keuangan HST.

Lalu, pasar HST dicoba diperluas, termasuk di jasa crewing (pengiriman kru). Bulan April 2009, misalnya, HST menandatangani MOU dengan BFI (pelaku usaha kapal ikan) untuk pengadaan kru. HST menyuplai 400 kru bagi BFI — HST sendiri memiliki 1.111 kru di luar yang 400 orang tersebut. Menariknya, order dari jasa crewing tersebut memberi efek positif karena HIT kemudian juga memperoleh order untuk bunkering, yaitu suplai bahan bakar minyak untuk kapal-kapal ikan. Nantinya, HIT akan mengangkut BBM menggunakan kapal Nawa Samudra sebagai floating storage bagi BBM tersebut. “Ini merupakan strategi bisnis yang bersinergi,” ujar Anton.

Guna mengembangkan bisnis crewing pula, HIT menandatangani kontrak kerja sama di bidang pendidikan dengan Singapore Maritime Academy dan membentuk Humpuss Maritime Academy untuk meng-upgrade kemampuan dan level kru HST. Selain itu, juga meningkatkan kompetensi karyawan, termasuk perbaikan cara kerja dan kedisiplinan melalui berbagai pogram pelatihan.

Perluasan pasar pun dilakukan pada jasa tongkang, dan sejauh ini telah menunjukkan tanda-tanda peningkatan. HTC yang memiliki 15 kapal tongkang mengadakan MOU dengan PT DOK Perkapalan Air Kantung — anak perusahaan PT Timah Tbk. — untuk pembangunan 7 kapal tongkang. Maklum, selama ini armada tongkang HTC dirasa masih kurang. Budi Haryono, Direktur Keuangan HTC, mengatakan bahwa pendapatan dari 15 tongkang perusahaannya bisa di atas Rp 100 miliar/tahun. Dan kecenderungannya, bisnis ini terus berkembang walau sektor lain sedikit lesu. “Kami optimistis, makanya akan menambah 7 set kapal tongkang itu,” ujar Budi.

Target Anton dan timnya, tahun 2009 ini bisa menciptakan arus kas positif. HIT diperkirakan mencapai break even point dalam jangka 1 tahun 8 bulan terhitung sejak dia mulai bekerja di HIT. “Target kami konservatif saja karena yang kami hadapi pasar internasional,” ujarnya. Sejauh ini direksi sudah bisa menunjukkan rapor biru dengan membaiknya bisnis di anak usaha HTC. Khususnya, di bisnis tongkang. “Kami baru bekerja 8 minggu. Ternyata dalam 8 minggu para direksi HTC berhasil membuat rapor biru,” ujarnya lega. Diakui Anton, HIT punya posisi penting di Grup Humpuss dan sejauh ini memberikan kontribusi paling besar ke grup. Tahun 2008 revenue HIT mencapai Rp 900 miliar.

Soegihartono, Direktur Utama HTC, punya pandangan setali tiga uang. Dia sangat optimistis dengan kepemimpinan Anton di HIT. Anton dianggap akan mampu menjadikan HIT lebih baik. “Jelas, saya pribadi sangat percaya dengan beliau. Saya dan beliau kan memang bekerja sama untuk memperbaiki kondisi di HIT dan anak-anak usahanya,” kata Soegihartono yang mengenal Anton saat masih menjadi Direktur Keuangan HST Singapura.

Pemerhati bidang manajemen yang juga founder Quantum Consulting Nur Kuncoro melihat tantangan yang dihadapi Anton di HIT luar biasa berat. Namun, Kuncoro yakin Anton akan mampu mengatasi segala tantangan berbekal kegigihan, pengetahuan dan gaya manajemen yang dimilikinya. Meskipun anak mantan menteri, dia memulai karier dari bawah. Ketika kuliah di AS, Anton bahkan pernah bekerja sebagai satpam untuk mencari tambahan biaya kuliah. Dia menapaki tangga karier di AS dan akhirnya kembali ke Indonesia. Jadi, dia sudah merasakan bagaimana bekerja dari tingkat terbawah. “Biasanya orang-orang seperti Anton itulah yang akan mampu memimpin anak buah dari berbagai lapisan,” ujar Kuncoro tandas.

Orang tentu boleh menaruh harapan. Akan tetapi, bagaimana keyakinan dan kepercayaan itu dibalas Anton, masih ditunggu jawabannya. Yang pasti, bisnis pelayaran internasional terus merasakan dampak krisis global karena negara-negara yang selama ini aktif melakukan perdagangan menghentikan kegiatannya. Diperkirakan, di pelayaran internasional terjadi penurunan muatan 20%-90% akibat menyusutnya perdagangan dunia. Inilah tantangan buat “kapten” Anton.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag