Home » Updates » Industri Jamu Hadapi Tekanan

Industri Jamu Hadapi Tekanan

Menurut Irwan, salah satu indikasi tidak berkembangnya industri jamu pada tahun 2005 ini dapat dilihat dari billing iklan (khususnya TV) dari perusahaan jamu yang mengalami penurunan drastis. Dia mengatakan, sepanjang tahun 2003, billing iklan (TV) industri jamu mencapai Rp 80 miliar, tahun 2004 lalu Rp 86 Miliar. “Tahun 2005 ini, hingga kahir semester I, billing iklannya hanya Rp 20 Miliar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, menurunnya daya beli masyarakat merupakan faktor utama yang membuat industri jamu tidak mengalami. Menurut Irwan, ada 3 faktor yang membuat daya beli masyarakat mengalami penurunan. Pertama, karena dananya sudah habis tersedot untuk pembayaran angsuran kendaraan bermotor (khususnya roda dua). “Maraknya kredit motor merupakan penyebab utama menurunnya daya beli masyarakat. Uangnya sebagian besar dialokasikan ke situ,” ujarnya.

Selain itu, pembelian pulsa handphone juga menjadi pos pengeluaran yang menyebabkan turunnya daya beli masyarakat. Dan yang terakhir, turunnya daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh naiknya harga BBM yang selama tahun 2005 ini terjadi dua kali.

Kata Irwan, industri jamu belakangan juga semakin terdesak oleh industri farmasi dan obat-obatan Cina yang kian menjejaki pasar Indonesia. Untuk itu, Irwan mengatakan bahwa ia akan merangkul GP Jamu untuk mendesak pemerintah untuk mengesahkan lahirnya mediator bagi industri jamu. “Di industri farmasi ada dokter, obat-obatan Cina ada Sin Se, sedangkan jamu tidak ada,” keluhnya.

“Saya mendorong untuk diciptakan mediator yang nantinya akan disebut Herbalish,” ungkap Irwan yang mengaku sudah menyiapkan kurikulum kursus singkat untuk melahirkan para herbalish itu.

Be Sociable, Share!

RELATED POST

  • No Related Post
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


five + = 14