Menurut Christian, Irfan telah membangun tim yang sangat bagus yang terus berfokus dalam komitmen bagi pelanggan dan mitra channel di Indonesia. Hal yang sama diungkapkan Kurnijanto E. Sanggono, Direktur Pemasaran Cisco Indonesia. Di mata Kumijanto, Irfan merupakan sosok visioner yang juga dapat mengajak rekan-rekannya bekerja sama mewujudkan visi tersebut. Lalu, mengapa Irfan mundur dari Cisco?
Irfan punya alasan. Pertama, ia sudah terlalu lama menjadi orang nomor satu di perusahaan tersebut. Hal ini, menurutnya, akan membuat organisasi jadi tidak sehat. “Organisasi harus bersifat dinamis sehingga perlu ada perubahan, reorganisasi,†ujarnya. “Pergantian kepemimpinan dan reorganisasi merupakan sesuatu yang normal,” tambahnya. Selain itu, ia merasa tidak fair karena banyak teman kerjanya yang bagus, tapi belum memperoleh kesempatan naik.
Kedua alasan itu yang mendorong Irfan mencari tantangan baru di lingkungan kerja baru. Awalnya tak mudah. Ketika secara resmi lepas dari Cisco Januari 2009, sesungguhnya ia belum tahu ke mana akan berlabuh. “Saya mau istirahat dulu,†katanya waktu itu. Namun ternyata, selama masa istirahat ia justru menerima banyak tawaran. Di antaranya, dari Kementerian BUMN, yang kemudian munculah nama PT Inti.
Irfan goyah. Mendapat tawaran menjadi Dirut PT Inti membuatnya merasa terhormat. Namun, sebelum akhirnya memutuskan mengambil tawaran tersebut, pada pertengahan Maret 2009, ia juga mempertimbangkan apakah value yang dimilikinya cocok dengan BUMN ini. Menurutnya, kondisi PT Inti saat ini tidak terlalu bagus untuk ukuran sebuah perusahaan. “Saya tidak mengatakan salah, tetapi berbeda dari ketika masa membangun industri telekomunikasi dalam hal ini manufakturing, sekarang lebih banyak ke sistem integrator atau kontraktor, maintainence untuk para operator komunikasi,†kata pria kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1964, ini. Ia mempermasalahkan apakah PT Inti menjalankan bisnisnya dengan benar atau tidak.
Langkah awal yang dilakukan Irfan adalah menyehatkan perusahaan. Menurutnya, kondisi keuangan PT Inti juga tidak terlalu bagus. Selain itu, ia merasa perlu meredefinisi industri telekomunikasi mana yang akan dimasuki PT Inti. “Dunia telekomunikasi sangat luas, mulai dari operator, bisnis yang menyokong infrastruktur telekomunikasi, hingga masuk ke bisnis konten,†ujarnya. “Yang penting, dasar apa yang akan kami lakukan, kami harus lihat ke depan, bukan hari ini. Harus melihat tren seperti apa. Jangan masuk ke industri yang mau mati, harus visioner,” katanya optimistis.
“Saya sedang membangun tim internal, belum pakai bala bantuan dari luar, untuk melihat ke depan bagaimana,” ujar Irfan. Ia mengatakan, sebelum mengambil langkah, ia butuh masukan dari berbagai pihak. Ia percaya banyak “orang bagus†di PT Inti. Buktinya, PT Inti pernah menjadi impian para insinyur muda untuk bekerja pada 1980-an. Artinya, orang yang masuk punya kualifikasi tertentu. “Saya targetkan sebelum akhir 2009 kami sudah punya solusi dan dari sisi keuangan harus positif,†ujarnya tandas.
Menurut Gunawan Wibisono, pengamat teknologi komunikasi dan informasi dari Universitas Indonesia, langkah awal yang harus dilakukan Irfan adalah menegaskan visi dan misi yang ingin dicapai PT Inti, yaitu sebagai penghasil perangkat telekomunikasi Indonesia terdepan.â€ÂUntuk mewujudkan itu perlu penyegaran SDM, peningkatan kegiatan riset melalui kerja sama dengan mitra lokal maupun luar negeri, pemutakhiran perangkat produksi, dan tentunya keuangan yang sehat,†tuturnya.
Namun Gunawan menegaskan, tantangan yang dihadapi Irfan tergolong berat. Pasalnya, etos kerja di BUMN sangat berbeda dari perusahaan multinasional. Karena itu, ia berpendapat, yang perlu dilakukan manajemen PT Inti yang baru adalah perubahan paradigma menuju etos kerja koorporasi yang berorientasi pada produktivitas. “Untuk mampu mengubah paradigma ini, perlu adanya suntikan SDM yang memahami perancangan perangkat telekomunikasi yang berorientasi broadband multimedia,†ujarnya.
Irfan sadar bahwa lingkungan kerjanya saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. “Kerja di BUMN punya tantangan tersendiri. Saya tidak bisa menerapkan seutuhnya yang pernah dilakukan di Cisco,†katanya. Pengalaman positif di perusahaan swasta akan diteruskan. Salah satunya, karakter egaliter, karena dengan begitu kedekatan akan terjalin. Masalah yang bisa memengaruhi perusahaan bisa didengar langsung dari staf, tidak perlu filter. “Prinsipnya, sepuluh kepala lebih baik daripada satu. Makin banyak ide, makin bagus. Tetapi ketika sudah diputuskan, yang tanggung jawab saya,” katanya menandaskan.
Irfan optimistis bisa membawa PT Inti kembali ke masa kejayaannya. Menurutnya, PT Inti masih sangat potensial, apalagi didukung pertumbuhan bisnis telekomunikasi yang sangat besar. Ia juga termotivasi dengan iklim persaingan yang semakin ketat belakangan ini. “Jangan teralu berharap mendapatkan proteksi, itu sudah lewat,” ujarnya.
Kunci sukses Irfan adalah jangan takut salah. Alasannya, semua keputusan yang diambil ada risikonya. Artinya, selama kesalahan itu tak disengaja, tidak jadi masalah.
