Â
Mau sukses merintis karier di luar negeri? Simak nasehat Iwan Jaya Azis Ph.D berikut ini. Dia mengatakan, tidak ada kompetensi khusus untuk berkarier di luar negeri. Menurut pakar matematika ekonomi dan ekonomi regional ini, masalah keseriusan adalah faktor utama plus mencintai pekerjaan. “Kalau Anda mencintai pekerjaan yang Anda lakukan, secara otomatis Anda lebih mudah berprestasi,†ujar Guru Besar Cornell University, AS, tentang tips berprestasi dalam karier di luar negeri.
Â
Dia mengaku, hanya bermodal pada kecintaan pada dunia pengajaran dan ekonomi yang bisa membuatnya seperti sekarang. Boleh dibilang Iwan tidak ingin membesar-besarkan apa yang selama ini dia lakukan. Namun, beberapa sumber mengatakan kalau semasa kuliah di FE UI, Iwan tergolong aktif di dunia kampus. Bahkan dia sering berdiskusi dengan kolega mahasiswa dari lain universitas. “Itu sebagai bentuk kecintaan saya pada dunia yang saya tekuni,†jawab Iwan dalam surat elektroniknya memberi alasan.
Â
Di Amerika Serikat sendiri, dia mengaku menyukai sistem yang diterapkan di sana. “Kebetulan di AS, khususnya di dunia perguruan tinggi, “merit system” sangat kuat dan saya sejalan dengan system semacam ini,†katanya tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.
Â
Ditanya soal peluang profesional Indonesia berkarier di luar negeri, Iwan sedikit bingung. “Sulit untuk meramalkan ini,†kata dia. Tetapi dia optimistis soal peluang berkarier di negara maju. “Sangat bisa. Asal kita bersikap terbuka dan berprestasi baik. Kunci utama untuk berprestasi baik adalah mencintai apa yang Anda lakukan,†katanya mengulang petuah sebelumnya.
Â
Dia berharap, ke depan lebih banyak profesional Indonesia yang berkiprah tidak hanya di Indonesia tapi di dunia internasional, apa pun bidang dan profesinya. “Yang penting, di mana pun dia berada dan di bidang apa pun yang ditekuni, tetap memikirkan masalah-masalah di Indonesia,†pesan dia.
Â
Berkarier boleh di mana saja. Bahkan di negara maju sekalipun. Tetapi, dia tetap berharap agar misi memperbaiki keadaan di negara berkembang dan negara miskin tetap dijalankan. “Agar kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia yang perlu dijadikan tujuan, dan jumlah manusia di negara berkembang dan negara miskin jauh lebih besar daripada di negara maju,†kata dia. Sayangnya, dia tidak banyak menceritakan pengalamannya saat menjadi headhunter. “Pernah juga saya dimintai tolong untuk mencarikan profesional dari Indonesia,†katanya. Namun, dia enggan berbagi kriteria apa saja yang disyaratkan. (EVA)