Home » Updates » Julianto Sidarto: Konglomerasi Indonesia Berpotensi Masuk Fortune 500

Julianto Sidarto: Konglomerasi Indonesia Berpotensi Masuk Fortune 500

Julianto Sidarto, Direktur Pengelola Accenture Indonesia, mengungkapkan, potensi kongkomerasi di Indonesia untuk masuk Fortune 500 mestinya ada. “Kita termasuk ketinggalan, kalau dibilang potensi, Indonesia itu terbilang kaya dengan natural resources dan orangnya banyak, sehingga memiliki domestic economy yang kuat. Bandingkan dengan Korea, negara yang tidak memiliki sumber daya seperti Indonesia, bahkan ‘miskin’ dilihat dari sumberdaya alamnya, tapi sejumlah perusahaannya menjadi global player seperti Samsung dan LG yang dikenal dunia. Indonesia dikenal kuat di produk komoditas, tapi apakah punya identitas sebagai best in class in world in something. Kita memang masih mesti worked on,” ujarnya prihatin.

Untuk menjadi top global company, kriterianya macam-macam. Menurutnya, tiga hal yang pokok, size and profitability, growth, dan sustainability. “Mereka harus bisa sustain dalam revenue, profit dan continual growth,” ia menambahkan. Di mana pun pelanggannya, mereka harus bisa menjualnya secara lebih baik dari yang lain. High performing company, menurut Julianto, selalu berada di depan dalam memahami apa perlu dan bagaimana melayani pelanggan lebih baik dari kompetitornya.

Selain itu, high performing company, bukan sekadar bicara gedung, perusahaan, proses dan mesin, tapi juga memikirkan orang yang menjalankannya. Mereka yang bagus mengelola best talent berarti kans dalam masuk Fortune 500 lebih besar. Di samping itu, harus memperhatikan pula soal inovasi. Apalagi kala dunia makin cepat bergerak dan makin global. Kini jamannya dunia terhubung dengan cepat. Dampaknya, pekerjaan yang ada pada 20 tahun lalu, mungkin separuhnya sudah tidak ada lagi.

“Pebisnis consumer good, semisal penjual makanan kecil, berkompetisi bukan saja dengan sesama pelaku bisnis consumer good, tapi juga penjual pulsa. So, they compete with consumer wallet, karena pilihan makin banyak,” katanya. Pemenang bisa menciptakan hal baru, menciptakan yang tadinya tidak ada, menjadi pasar baru. Sebagai contoh, Apple dengan I-Tune-nya, membuat toko fisik kaset mati karenanya.

Menurutnya, dalam pengelolaan bisnis, semua harus dijaga keseimbangannya, mulai dari size, profit, pertumbuhan, sustainabilitas dan inovasinya. Tidak ada yang utama satu di antara yang lain jika memang ingin benar-benar seimbang.

Beberapa di antara pelaku bisnis di Indonesia sudah mendunia, contohnya, Indofood dan Sinar Mas yang produknya sudah di beberapa negara. Mengapa mereka belum masuk Fortune 500? Bisa jadi, itu karena visinya memang belum ke sana. Sebagai contoh, Brasil, salah satu emerging country yang sangat sukses, mereka punya one of the best aircraft in the world di kelasnya. Ada beberapa juga bisnis yang cukup best in class. Mereka sangat efisien dalam manufacturing dan sebagainya.

Selain itu, perusahaan Indonesia menghadapi kendala soal lingkungan. Inilah mungkin yang ‘mencegah’ mereka masuk ke Fortune 500, terutama perusahaan yang bergerak terkait dengan sumber daya alam seperti perkebunan dan pertambangan. “Sekarang, bagaimana our big company atau konglomerat bisa segera mem-value change posisinya di dunia, di mana sebenarnya tempat mereka,” katanya. Meskipun sebenarnya diakui Julianto, beberapa perusahaan di Indonesia sudah cukup advance “Mereka mungkin sukses, besar, dan pabriknya bagus, tapi diragukan dalam hal transparansi, kepeduliannya terhadap lingkungan dan sebagainya. Bisa saja itu persepsi, selama itu tidak sesuai, tidak bisa masuk,” ia menambahkan.

Bisa saja perusahaan di Indonesia masuk, karena semuanya bagus, tapi jika ternyata mereka diketahui pernah diketahui terlibat kasus penyuapan, langsung terpatahkan untuk bisa masuk Fortune 500. “Tapi perlu diingat, perusahaan yang best in class di dunia, tidak harus konglomerasi yang besar sekali atau best in class di semua area. Tapi perusahaan yang bisa fokus di mana dia bisa kuat dikenal di dunia,” dia mengingatkan.

Ekonomi biaya tinggi, kepastian hukum dan berusaha, efisiensi dalam menjalankan bisnis, infrastruktur dan kondisi makro bisnis juga bisa menjadi penghambat perusahaan di Indonesia bisa menjadi global player. “Bagaimana bisa berkompetisi jika kondisi makronya tidak support,” Julianto menegaskan. Namun, dia menekankan, bukan berarti dalam kondisi keos, tidak ada kesempatan, bisa saja itu justru menjadi peluang menjadi pemain global. (EVA)

SHARE SOCIAL MEDIA


Tags: , ,
Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


5 × seven =