Jurus Putar Duit ala Robby Djohan

Jurus Putar Duit ala Robby Djohan

Robby Djohan tak mau menyebut dirinya wirausahawan. Ia mengaku, dirinya bukanlah pebisnis, melainkan profesional. Itu merupakan tradisi keluarganya yang telah dibentuk selama puluhan tahun. “Ketika pertama kali memasuki dunia bisnis, saya ditanya Ayah, ?Mau ke mana?? Saya menjawab, ?Mau menjadi supplier Pindad.? Lalu, ayah saya bilang, di keluarga kami tidak ada yang menjadi businessman. ?Jadi, lu kerja aja?,” tutur mantan Presdir Bank Niaga ini mengenang. Sejak itu, Robby terus menempa dirinya menjadi pekerja profesional yang andal. Kini setelah puluhan tahun menjadi profesional dan punya duit berlimpah, pembayar pajak perorangan yang pernah menduduki No. 9 terbesar itu kembali menapaki dunia bisnis. Kali ini bukan lagi sebagai profesional, juga bukan pebisnis, melainkan investor.

Robby memang secara tegas membedakan pebisnis dari investor. Baginya, pebisnis adalah orang yang menjalankan perusahaannya sendiri dan mengambil risikonya sekalian. Sementara itu, investor adalah orang yang ikut menanamkan dananya dalam suatu proyek. Tidak masalah dia ikut dalam manajemen atau tidak. “Saya suka menjadi investor, karena risikonya kecil. Saya juga senang bila diminta ikut mengelola sebagai profesional, karena itu berarti mereka percaya pada kredibilitas saya,” kata mantan CEO Bank Mandiri ini terus terang. Investor, menurut dia, adalah orang yang pandai menggunakan uangnya untuk kegiatan produktif. Bentuknya bisa deposito, emas atau investasi tanah. Namun, investasi yang terbaik adalah investasi produktif yang menciptakan lapangan kerja, menyedot tenaga kerja, dan menghasilkan pendapatan.

Dalam berinvestasi, pertimbangan pertama pencinta motor gede ini adalah siapa yang mengelola proyek. “Saya tertarik berinvestasi lebih pada orangnya daripada proyeknya,” kata pemilik 8 Harley Davidson ini bersungguh-sungguh. “Kalau saham saya cuma 1% sih, saya cukup melihat proyeknya. Namun, kalau investasi saya sudah mencapai 10%-15%, saya harus tahu siapa yang mengelola perusahaan tersebut. Sebab, sebagus apa pun proyeknya, kalau orangnya nggak bener, ya nggak bener aja,” tambahnya. Sebagai contoh, dia menunjuk Indonesia. Negeri yang memiliki segalanya ini ketinggalan dari Singapura dan Malaysia. Bukan karena proyeknya jelek, melainkan karena pengelolaannya tidak pernah efisien dan efektif. Begitulah, dia memilih menanamkan dananya di Golf Course, perusahaan iklan Lowe Lintas dan Hotel Legian. Semuanya dilakukan karena dia tahu pengelolanya bagus.

Menurutnya, kalau saja tak ada Pak Oong (pengelola Golf Course Senayan), tak mungkin dia mau menginvestasikan dananya di Kedaton Golf Course. Instingnya tentang tangan dingin Pak Oong segera terbukti. Kini di antara puluhan kursus golf di Jakarta, Kedaton masuk dalam deretan 5 besar yang paling menguntungkan. Golf Course, dikatakan Robby, menelan investasi sekitar US$ 12 juta (tahun 1994). Dia sendiri punya saweran US$ 1 juta. Bagaimana dengan investasi Anda di hotel? Bukankah dulu ketika masih menjadi profesional di perbankan Anda tak mau mengucurkan dana buat bisnis hotel, properti dan hak pengusahaan hutan (HPH)?

Robby sedikit terperangah dengan pertanyaan ini. “Kalau HPH saya nggak suka, karena merusak lingkungan. Kalau hotel, waktu itu susahlah mencari untung dari bisnis hotel. Kalau kemudian saya masuk ke bisnis hotel, saya juga bingung,” katanya jujur. Ceritanya, ia menerangkan, agak berputar. Dulu dia membeli tanah di daerah Legian. Maunya dijadikan rumah atau vila. Proyek itu batal. Lalu, dia membangun beberapa flat. Adrian Zecha dari Hotel Amandari kemudian menyarankannya membuat hotel karena lokasinya bagus. Dia setuju bila Amandari mau mengelola hotelnya. Begitulah, Hotel Legian terwujud dengan konsep minimalis dan sedikit bersuasana Bali. Hotel ini didesain oleh Hadiprana dan interiornya dibuat oleh jagoan interior yang juga menangani Hotel Dharmawangsa. “Jadi saya kembali pada prinsip semula, investasi di orangnya. Hemat saya, kalau Amandari bisa begitu sukses, tentu bila dia yang mengelola, akan sukses juga. Hotel Legian kemudian dikelola sister company Amandari, yaitu GHM Hotel, dan sukses,” paparnya sambil tertawa.

Hotel Legian bukanlah milik Robby 100%. Dia memiliki 20% saham di hotel itu, sisanya milik 9 kawannya.. Nilai total proyek ini pada 1995 sekitar US$ 10 juta. “Equity-nya paling sekitar US$ 3 juta, berupa tanah kosong seluas 2 hektare,” ungkap kakek seorang cucu itu. “Pinjaman dari bank sekitar US$ 7 juta. Jaminannya adalah nilai proyek, termasuk tanah dan bangunannya. Yang dibagi 10 orang adalah yang US$ 3 juta,? tambahnya. Dulu pinjaman diberikan oleh Bank Umum Nasional. Akan tetapi, karena BUN jatuh, kemudian di-refinance. Robby bangga karena dalam kondisi ekonomi yang sulit, ia tetap dapat membayar pinjaman dan bunganya, sekalipun tanpa diskon.

Berbeda dari masuknya Robby sebagai investor perhotelan yang mengambil jalan berputar, ke bisnis periklanan (Lowe Lintas) caranya lebih sederhana. Awalnya, perusahaan itu milik Unilever, lalu dijual kepada Robby sekitar 20 tahun lalu. Sahamnya dibagi-bagi untuk Robby dkk. Dia memegang 20%. “Sebetulnya saya yang dapat waktu itu, tapi saya selalu pengen ramai-ramai. Tidak ingin mengambil risiko sendiri. Lagian juga nggak ada duit,” tuturnya setengah bercanda. Seingatnya, investasi yang ditanamkannya waktu itu Rp 300 juta. Setidak-tidaknya ada tiga pertimbangan yang mendasari keputusannya mengambil alih Lowe Lintas. Pertama, perusahaan ini mempunyai basis klien besar: Unilever. Kedua, balance sheet dan income statement-nya sangat bagus dan cash flow-nya positif. Ketiga, dikelola oleh Lowe International yang merupakan salah satu perusahaan iklan terbesar di dunia. “Inilah keputusan investasi paling bagus yang pernah saya bikin,” katanya bangga.

Kini di Lowe Lintas Robby cuma memegang posisi Preskom. Pengelolaannya 100% diserahkan ke manajemen. Cuma finansialnya yang dia perhatikan. Selain itu, dia juga ikut dalam pemilihan Chief Executive Officer. “Di Lowe Lintas saya murni sebagai investor. Lagi pula, itu bukan bidang saya, meski saya senang bergaul dengan mereka. Mereka semua nyeni dan selebor,” katanya seraya terkekeh.

Pria yang tak suka birokrasi ini berpendapat, saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi, karena investment cost-nya rendah. Dia memang tak asal cuap. Bahkan tahun 2000 dia merealisasi ucapan itu dengan mendirikan PT Citra Dana Asia (Fund Asia). Ini dimaksudkannya untuk menampung profesional yang pandai, tapi tidak mau bekerja lagi. Sebagai contoh dia menyebut Hendro Martowardoyo, mantan Dirut Aerowisata. Perusahaan ini membidangi restrukturisasi perusahaan. Lantas, fungsi Robby di situ sebagai apa? “Saya nggak ikut. Saya hanya bantu-bantu. Saya tidak ikut dalam pekerjaannya, karena saya nggak mau kerja lagi. Mereka yang mempunyai saham,” jelasnya. Hanya saja, kalau ada bisnis darinya, ia berikan ke perusahaan itu. Tahun 2002, Fund Asia membukukan omset hampir Rp 1 triliun. Ia mengaku kepemilikannya di Fund Asia sangat kecil.

Dalam berinvestasi, Robby mengaku suka mengajak banyak orang. Dengan cara itu, dia mendapatkan kesenangan tersendiri. “Biar hidup tidak tegang. Selain menebar kesenangan, juga menebar risiko. Senangnya kalau 10 orang ikut dalam satu proyek. Kan happy. Sudah berteman, risikonya tidak seberapa lagi,” ungkapnya. Kini Robby berencana membeli satu hotel lagi di Bali. Hitung-hitungannya sedang dibuat. “Saya belum tahu siapa bank yang beruntung mendapatkan proyek ini. Bank senang membiayai proyek saya,” katanya sambil tertawa. “Saya kumpulkan kawan-kawan untuk mewujudkan proyek ini. Saya cukup memiliki 5%-10% saham di proyek murah, tapi memiliki future yang baik ini,” tambahnya. Di hotel baru ini, ia mematok target pinjaman bank hanya 30%. Mengapa? “Pada saat yang tepat, pinjaman diperbesar tak masalah. Tapi kalau di saat tidak baik seperti ini, pinjamannya yang diperkecil,” jawab pengagum Jack Welch ini enteng.

Peristiwa bom Bali memang sedikit berpengaruh terhadap investasi dan bisnis hotelnya. Saat itu hampir semua perusahaan yang berhubungan dengan pariwisata di Bali lumpuh. Namun, Robby tak mau duduk menangis. Dia mengambil jalan yang oleh banyak orang dianggap agak sinting. Sebab, di saat pengusaha lain berusaha mencari selamat, dia malah mengeluarkan dana miliaran. “Hotel Legian yang punya empat tower, saya operasikan satu tower saja. Yang tiga tower direnovasi, mulai dari kamar mandi, mengganti kayu yang sudah jelek, AC, sampai memperbaiki kolam renang. Renovasi itu mamaksa share holder mengeluarkan biaya sekitar Rp 3 miliar,” ia menjelaskan dengan bersemangat. “Yang penting, perusahaan jalan. Bahwa saya rugi, itu nggak penting,” ia menegaskan. Dalam kondisi seperti itu, dia mengaku hanya menurunkan target revenue karena cuma mengoperasikan satu tower dengan 20 kamar. Namun harga tak diturunkan, sebab nanti susah menaikkannya kembali. “Top-lah kami. Orang lain mundur, kami maju terus,” katanya berseloroh.

Yang paling penting dalam berinvestasi, menurut Robby, adalah mencari mitra yang sevisi. “Saya kenal banyak orang yang sevisi. Dan saya jago dalam mencari orang yang saya perlukan. Saya tidak tertarik mencari sponsor yang hanya berduit banyak. Itu di mana-mana banyak, tapi saya pengen senang. Ketawa-ketawa sama mereka, jalan, dan mereka bisa dipercaya. Trust itu harus tetap ada,” katanya lagi. Lihat saja, misalnya, dalam bisnis hotel. Hotel dinilai baik bila yang datang ke sana terkesan. Kesan utamanya adalah ?you have very friendly people?. Itu sebabnya, di Hotel Legian semua yang masuk, juga tamu, dipanggil dengan namanya. ?Mereka senang banget diperlakukan seperti itu,” sambungnya.

Risiko berinvestasi, menurut dia, ada dua, internal dan eksternal. Risiko internal berarti memang tidak ada pengawasan di perusahaan tersebut. Manajemennya tidak baik, sehingga kualitas kerja dan produk tidak terjaga. Kalau terjadi apa-apa, perusahaan ini tak perlu menyalahkan orang lain. Sementara itu, risiko eksternal sebagian merupakan ketetapan Tuhan, misalnya bom Bali atau SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). “Nah yang eksternal ini, kita pasrah saja. Kita mesti beriman. Jangan ketakutan. Uang kalau hilang ya sudah. Saya tidak mau itu jadi beban, sebab kebahagiaan bisa ikut melayang. Percayalah, itu bukan the end of the world,” paparnya bijak.

Robby juga mengoleksi lukisan bernilai tinggi, kendati benda seni ini tidak dimaksudkan untuk investasi. Ia sejak dulu gemar mengoleksi lukisan dan patung. Koleksi patung ini dipajang di kantor, rumah dan di galeri lukisannya Galeri Nusantara yang punya koleksi 300 lukisan. “Dulu saya mengoleksi karya pelukis terkenal, tapi sekarang tidak lagi. Kalau saya bilang bagus, saya beli, siapa pun pelukisnya,” tuturnya. Koleksi lukisannya beragam, dari karya sejumlah pelukis ternama sampai yang tak terkenal. Harganya juga beragam, ada yang miliaran. Demikian juga patungnya -? antara lain patung Cina. Salah satu patung yang dibeli 15 tahun lalu berharga Rp 150 juta. Kini kalau ada yang mau membeli Rp 200 juta, tak akan dilepasnya. Tempo-tempo lukisannya juga dijual, bila ia sudah tak suka. Kalau sudah begitu, jual rugi juga tak soal buatnya.

Tak berhenti sampai di lukisan dan patung, penulis buku The Art of Turn Around ini juga mengoleksi keris. Ia punya 30 koleksi keris. “Saya percaya pada kharisma keris tersebut, bukan pada ada isinya atau tidak,” kata penggila bonsai ini. Sekadar diketahui, setiap pukul 5 pagi sesudah shalat subuh, ia menyirami bonsai kesayangannya, memotongnya dan ngomong sama tanaman itu, ?Wah bagus amat kamu.? Ia menambahkan, ?Kalau nggak ngomong, bisa mati.? Perawatan bonsai itu ia serahkan kepada tiga pembantu.

Kini Robby berancang-ancang berinvestasi di bisnis restoran. Menurutnya, investasi yang dibutuhkan Rp 1,5 miliar. Ia akan menggandeng dua orang. Jadi, masing-masing setor Rp 500 juta. “Nggak untung juga nggak apa-apa. Yang penting, hati senang,” jawabnya ringan ketika ditanya prospek bisnis resto yang bakal dibangun itu. “Dengan adanya restoran, saya merasa senang. Karena saya dan teman-teman disediakan meja khusus, yang hanya dipakai ketika mereka datang. Kan seneng,” katanya sembari tersenyum. Ini sekadar bisnis-bisnisan? Tidak memakai prinsip lama? “Prinsipnya tetap sama, bukan asal-asalan,” ia menegaskan. Masuknya Robby ke bisnis resto juga punya cerita sendiri. Mantan juru masaknya di Hotel Legian menelepon dan mengatakan tidak bekerja lagi di Dubai. Dia akan membuka resto. ?Saya langsung ikut. Jadi, proyeknya saya suka dan kebetulan orangnya juga saya suka. I believe in people,” ungkapnya lagi. “Percayalah, saya masih ahli dalam melihat dan memilih orang. Insya Allah tahun depan restoran itu terwujud,” sambungnya yakin.

Rencana ke depan? “Saya kan orangnya impulsif, sehingga tidak pernah mikir ngerjain apaan. Bagi saya, investasi kalau lagi ada, ya oke. Kalau nggak, ya nggak apa-apa,” jawabnya ringan. “Tapi saya ingin sekali memperdalam karier saya di bidang pendidikan dan advisory, serta membantu pemerintah keluar dari persoalan. Saya ingin membantu negeri ini memperbaiki ekonomi. Menurut saya, tidak sulit. Saya yakin dalam waktu 5 tahun akan bisa baik, dengan catatan semua serius,” katanya sungguh-sungguh.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag