Home » Updates » Jurus Teka Melapisi Sudut-sudut Dunia

Jurus Teka Melapisi Sudut-sudut Dunia

Bagi banyak kalangan menengah-atas di Indonesia nama Donald Trump bukan nama asing. Ia seorang pebisnis televisi, kasino dan juga real estate kelas dunia asal Amerika Serikat. Namun siapa sangka, penthouse mewah milik pendiri Miss Universe Organization di New York ini menggunakan lantai kayu Teka Parquet, merek asli Indonesia dan produknya pun dibuat di Tanah Air. Tak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan lebih dari Rp 6 miliar untuk melapisi kediamannya dengan parket ini.

Teka merupakan produksi PT Tanjung Kreasi Parquet Industry (TKPI). Tahun ini, TKPI sedang mengerjakan proyek Al-Barari – mal seluas 21 ribu m2 – di Dubai, senilai Rp 8 miliar.

Tak hanya pasar global yang merespons positif kehadiran Teka. Sejumlah orang ternama di Tanah Air juga merupakan klien Teka, terutama untuk kebutuhan rumah tinggal mereka. Di antaranya Martha Tilaar, Abdul Latief, Arifin Panigoro, Rini Soewandi, Desi Ratnasari dan Dorce Gamalama.

Bahkan, sudah banyak sekali berbagai bangunan ternama di Indonesia yang menggunakan lantai kayu Teka. Di antaranya: Apartemen The Belleza, Pavilion, The Peak, The Bellagio Mansion, Apartemen DaVinci, Hotel Novotel (Jakarta dan Palembang), Hotel Ibis Pekanbaru, Hotel Sheraton Surabaya, Starbucks Coffee di Kemang (Jakarta) dan Cihampelas Walk (Bandung), toko buku Kinokuniya, restoran Shabu Tei, beberapa gerai Pizza Hut (Jakarta dan Bali), Sogo di Plaza Senayan, Excelso Cafe Pasaraya Blok M, Cafe Bean&Tea Leaf, MD Entertainment, Fitness First, hingga Wisma Daarut Tauhiid. Klien besar TKPI yang terbaru adalah Kedubes Qatar di Indonesia yang menggunakan 1 juta m2 lantai kayu Teka.

Keberhasilan TKPI dengan Teka-nya membuktikan bahwa ia bukan cuma pemain kelas lokal, melainkan sanggup pula bertarung di pasar global. Cerita keberhasilan ini tentu saja melalui proses yang cukup panjang, persisnya 16 tahun terhitung sejak didirikan pada 1993. Menurut Presdir TKPI Daniel Nugroho Handoyo, kehadiran produk laminate merupakan salah satu alasan mengapa TKPI terjun ke bisnis lantai kayu asli. Seperti diketahui, laminate yang mulai masuk ke pasar Indonesia pada akhir 1980-an, merupakan sejenis lantai kayu tiruan (imitasi) hasil desain komputer yang menyerupai corak kayu asli. Ketika itu, permintaan laminate hampir seimbang dengan permintaan karpet yang sedang naik daun. “Kalau yang palsu saja suka, apalagi yang asli. Nanti mereka pasti akan bosan sendiri dengan yang palsu,” ujar insinyur Teknik Sipil dari Universitas Gadjah Mada ini mengenang pemikirannya saat itu.

Kualitas kayu asli tentu berbeda dari laminate. Menurut Daniel, lantai laminate akan segera mengelupas jika terkena air beberapa kali. Hal ini berbeda dari lantai kayu asli yang bisa tahan bertahun-tahun walaupun sering terkena air. Tentu saja perawatan yang sesuai dengan petunjuk, bisa memperpanjang usia produk.

Menurut Daniel, kala itu potensi lantai kayu belum tereksplorasi dengan baik di Tanah Air. Bahkan di tingkat global, penggunaan parket hanya 1%. Karpet mengambil pangsa pasar terbesar. “Ketika saya mengunjungi pameran di Jerman saat itu, stand lantai kayu hanya sedikit. Lebih banyak stand karpet,” ujar pria yang memang membidani kelahiran Teka ini. Porsi pasar karpet sebesar 70%. Ia melihat karpet sudah tidak higienis karena menyimpan debu. Di sisi lain pangsa pasar parket kecil sekali, hanya 1%. Alasan penguat lainnya bagi kehadiran Teka adalah keberagaman kayu yang dimiliki oleh Indonesia. Bahan bakunya bisa diperbarui dengan ditanam lagi. “Sifat kayu unik sekali. Finger print-nya tidak akan sama antara satu kayu dengan kayu lainnya,” ujar mantan karyawan perusahaan kayu lapis ini.

Ia menambahkan, kelebihan kayu adalah mampu menyesuaikan dengan suhu udara di sekitarnya. Kalau suhu udara panas, kayu akan terasa menyejukkan. Begitu pula jika suhu udara dingin, kayu terasa lebih hangat. Menurutnya, semakin berat kayu maka semakin tinggi kualitasnya – walaupun belum tentu mencerminkan keawetannya.

Pada akhir 1993, TKPI didirikan. Sebagian besar sahamnya dipegang oleh Milena Utomo, putri pendiri Aqua, Tirto Utomo. Mengambil lokasi di Tanjungpriuk, Jakarta, sebanyak 100 karyawan mengisi berbagai divisi. Setahun kemudian, pabrik dipindahkan ke Pingit (antara Ambarawa dan Magelang), Jawa Tengah. “Seharusnya saya sudah pensiun. Tapi Ibu Milena tetap meminta saya menjadi presdir,” ujar pria yang kini berusia 63 tahun ini.

Menyiapkan infrastruktur tentu bukanlah hal yang mudah. Pengalaman Daniel di industri kayu lapis ternyata tidak bisa begitu saja diterapkan. Mesin-mesin produksi baru harus disiapkan. Pembayarannya lewat kredit jangka panjang selama lima tahun. Untungnya, penjual mesin mau membantu Daniel memproduksi Teka selama tiga bulan. “Saya belum berani memasang sendiri. Setelah tiga bulan kemudian, pada saat serah terima mesin, barulah kami mengoperasikan sendiri,” ujar mantan kontraktor bahan bangunan ini.

Tujuan pasarnya langsung berorientasi ekspor. Pesanan pertama datang dari Eropa. Maklum, pasar dalam negeri sendiri saat itu belum cukup familier dengan lantai kayu. “Dulu masyarakat kita masih takut dengan rayap,” ujarnya. Setelah sukses di pasar Eropa, Teka masuk ke pasar AS. Sementara pasar lokal (Indonesia) baru dimasuki tahun 2001. “Saya memberi garansi hingga lima tahun,” ujar Daniel.

Beratnya pasar lokal diakui Kurniadi Tejo Suwarno, Dirut PT Lentera Karya Aditama, distributor TKPI. Menurutnya, hingga tahun 2003 peminat lokal lantai kayu masih seret. “Kalau pameran, banyak konsumen membandingkan dengan keramik, misalnya soal ketahanan,” katanya.

Empat bulan pertama usia TKPI merupakan masa penuh ujian. Terutama dalam hal memenuhi kualitas standar Eropa. “Banyak bahan yang terpaksa dibuang,” kata Daniel seraya menegaskan, kualitas merupakan hal utama yang dipegang teguh oleh perusahaannya. Sebelum parket merek Teka ini diekspor, pihaknya selalu melakukan simulasi pemasangan lantai kayu di ruangan mengikuti suhu udara di mana parket akan dipasang. ”Untuk dilihat seberapa besar ketahanannya.”

Bahkan, karena urusan kualitas dan permintaan calon pembeli di mancanegara, bahan baku kayu masih diperoleh melalui impor. “Sebenarnya saya paling senang kalau kayunya lokal. Cuma pembeli kita paling takut kayu ilegal. Apalagi dengan global warming, harus ada cap stempel yang sudah diperbarui dan bukan ilegal,” tutur Daniel. Saat ini TKPI mendapat impor kayu dari berbagai negara seperti Eropa Barat dan Brasil.

Di sisi lain, edukasi pada pekerja merupakan prioritas pula. “Orang Indonesia kurang menghargai kayu. Mungkin karena di sini kayu melimpah,” kata Daniel. Toh, setelah melalui proses lima bulan, barulah proses produksi bisa dibilang berjalan dengan baik.

Awalnya, pesanan yang masuk ke TKPI hanya empat kontainer lantai kayu. “Ketika itu kontrak pertama dari orang Jerman sebanyak 1 juta m2,” ujarnya. Pada tahun pertama TKPI hanya bisa memenuhi permintaan sebanyak 30 ribu m2/tahun. “Karena kami masih baru melatih karyawan. Manajemen pun belum berjalan dengan baik.” Baru di tahun kedua produksi naik menjadi 400 ribu m2, disusul pencapaian angka 1 juta m2 di tahun ketiga.

Menurut Daniel, peningkatan permintaan ini terjadi setelah perusahaan melakukan perbaikan dan inovasi di sana-sini. Salah satu terobosan TKPI adalah penggunaan kayu kempas. Ia menyebutkan, TKPI berusaha mengelaborasi jenis kayu lokal yang sangat tidak disukai perusahaan kayu lapis umumnya ini, karena terlalu keras dan mudah pecah, tapi harganya murah. Toh, lewat tangan dinginnya, Daniel berhasil mengubah kempas menjadi lantai kayu. Tekniknya, ada perlakuan khusus dan cairan kimia khusus yang dicampurkan ketika pemanasan. Daniel meyakini, dibutuhkan ketekunan untuk membuat sebuah terobosan. “Semua kayu bagus. Ini cuma masalah penilaian orang,” ucap pria yang membawahkan 3 ribu karyawan ini.

Terobosan lain dalam hal pemasangan. Dulu ketebalan penampangnya hanya 0,2 mm. “Sekarang, penampang kayu (yang bersentuhan langsung ke lantai) didesain lebih tebal. Jadi kalau ada yang mau dipelitur, tidak perlu dibongkar tapi cukup ganti yang baru,” Daniel menerangkan.

Menurut Kurniadi, saat ini di Tanah Air sudah banyak permintaan lantai kayu untuk memperkuat interior. Ia memang tak asal bicara. Sekarang telah banyak selebriti yang menggunakan lantai kayu. Menurut Eko D.J. atau yang lebih dikenal sebagai Eko Srimulat, salah seorang konsumen Teka yang sangat puas dengan produk ini. Ia pertama kali menggunakan Teka tahun 2004 untuk rumahnya yang luasnya hanya 50 m2. ”Hasilnya sangat bagus,” katanya mengakui. Itulah sebabnya, sekitar dua tahun kemudian, Eko memasang Teka lagi untuk rumah lain miliknya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Luasnya, sekitar 300 m2. “Saya puas menggunakan Teka. Teman-teman artis lainnya yang bertamu, mengagumi rumah saya,” ucapnya. Malah sejak itu banyak teman Eka terinspirasi menggunakan lantai kayu. Alhasil, rumahnya masuk acara Griya Unik di TransTV dan dikategorikan sebagai contoh rumah inspirasional.

Eko berpendapat harga yang ditawarkan sangat pantas dengan kualitas pelayanannya. Ia mengungkapkan, harga lantai kayu yang dia pakai Rp 500-600 ribu/m2. “Mereka sangat bertanggung jawab. Bahkan kalau saya mau, jika ada lantai yang kotor, mereka mau saja diminta datang ke rumah,” ucap pelawak senior ini.

Hal senada juga dikatakan Sutio Lisman, General Manager Proyek FX. Menurut pendapatnya, kelebihan Teka pada sisi inovasi, motif, dan layanan. “Sering kali kami di proyek membutuhkan kecepatan dan kualitas. Nah, mereka bisa membantu mempercepat pengerjaan proyek,” ujarnya. Itulah sebabnya, arsitek di Apartemen The Essence Dharmawangsa, Kebayoran Baru ini memilih Teka. “Tapi penggunaannya tidak banyak, hanya untuk sole unit tiga kamar dengan luas sekitar 300 m2.”

Kini TKPI boleh bangga. Dari situsnya, www.Tekaparquet.com yang menggunakan tiga bahasa (Inggris, Spanyol, Jerman), diketahui perusahaan ini memiliki sejumlah kantor pemasaran di luar negeri yaitu dua di Eropa, plus masing-masing satu kantor di AS, Korea dan Cina. Kini perusahaan yang memiliki pabrik di Temanggung, Ja-Teng seluas 17 ha dan berkapasitas 5 juta m2/tahun ini mengekspor produknya – dengan total ekspor 250 kontainer/bulan – ke lebih dari 43 negara.

Berbicara tentang pemasaran dan distribusi produk Teka di berbagai negara, tentu tak bisa dilepaskan dari nama PT Lentera Karya Aditama (LKA). Sejak 2001, LKA menjadi distributor resmi Teka. Perusahaan ini sengaja didirikan untuk memasarkan produk Teka. LKA mempunyai mitra distribusi di berbagai negara, semisal di AS, Cina, Korea, Jerman, Spanyol, Australia dan Brasil. Masing-masing distributor, sesuai dengan hak prerogatifnya, menggunakan penamaan merek berbeda dari distributor lainnya. Contohnya di Cina memakai merek Teka Holy, dan di Korea memakai merek Teka Korea. Prosesnya, jika ada pesanan datang, baru diajukan pada distributor di Jakarta untuk disiapkan dan segera dikirim.

Dalam kaitannya dengan pemasaran dan melihat tren industri ini di tingkat global, setiap tahunnya Daniel mengagendakan produk Teka mengikuti pameran Domo Text di berbagai negara, seperti Jerman, Cina (Shanghai) dan Dubai. “Dari sebelum merek kami dikenal sampai sudah dikenal sekarang ini, kami terus mengagendakan mengikuti Domo Text,” kata Daniel.

Selain itu, Teka juga terus-menerus mengembangkan tren motif. Misalnya saja kayu karet yang bercorak kecil-kecil lalu disambung. Hasilnya membentuk sebuah motif guratan yang lebih lebar. “Ini laku sekali. Bahkan di Cina dan Eropa banyak yang ikut membuat (motif) ini.” Sayangnya motif tersebut belum dipatenkan TKPI.

Sebagai perusahaan yang berorientasi ekspor, Daniel mengakui krisis global saat ini cukup berimbas pada penjualan perusahaannya. Toh, ia mengaku tak terlalu resah. “Volume berkurang, tapi kami harus mencari pasar baru, misalnya Yunani,” katanya dengan bersemangat.

SHARE SOCIAL MEDIA


Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


3 × = nine