Kartu Perdana Dijual Asongan
Jualan asongan ini mula-mula dipelopori Exelcomindo. Sekitar Februari lalu kartu perdana prabayar XL dijual di kereta-kereta ekonomi. Maklum harganya cuma Rp 10 ribu, tanpa pulsa (kosong). Setelah itu Telkomsel, memasarkan kartu perdana Hoki (banderol Rp 50 ribu). Satelindo tak mau ketinggalan, meluncurkan Paket Gemilang Mentari Rp 60 ribu yang juga dijual asongan.
Pertanyaannya, kenapa semua operator melakukannya? Apakah jalur asongan pilihan yang tepat? Satu jawaban yang sudah pasti, perusahaan operator tak ingin melewatkan peluang dari penetrasi ponsel yang kini sudah menyentuh lapisan bawah. Mereka ingin memperbesar kue di pasar bawah melalui channel asongan.
“Ini peristiwa alami karena ponsel sekarang bukan lagi barang mewah. Siapa saja bisa beli,” tutur Suryo Hadiyanto, Humas Telkomsel. Menurutnya, penjualan melalui asongan ini tidak didesain kantor pusat karena itu wilayah kerja para agen. “Ini bukannya disengaja,” ujarnya. Telkomsel selama ini hanya menjual kartu perdana melalui 57 dealer di seluruh Indonesia. Dari mereka distribusi kartu perdana mengalir ke jaringan di bawahnya yang lebih kecil. “Kami tidak bisa tahu sampai ke mana saja dijual,” sambungnya.
Sugiono Wiyono, Predir PT Trikomsel Multimedia — distributor berbagai kartu perdana dan isi ulang dari Satelindo, Telkomsel dan ProXL — menjelaskan kemungkinan perdana asongan itu dijual oleh agen-agen di bawah distributor. Lewat agen, sebagian produk kartu perdana ataupun isi ulang juga terjual hingga ke rombong-rombong dan pedagang asongan. Namun, ia melihat penjualan kartu perdana melalui asongan akan lebih kecil ketimbang kartu isi ulang. Perputaran bisnis kartu perdana lebih lambat dibanding isi ulang. “Mereka bisa rugi kalau fokus jual staterpack,” kata Sugiono.
Menurutnya, kemungkinan produk yang dijual hanya limpahan atau konsinyasi dari agen setingkat di atasnya. Ini bisa terbaca dari untung tipis yang berani mereka ambil. Mereka menjual jauh di bawah banderol. Seperti Sempati Hoki, resminya dijual Rp 50 ribu di asongan bisa dibeli Rp 35 ribu. Atau Paket Gemilang Mentari Rp 60 ribu bisa dilego Rp 40 ribu. Menurut Sugiono, jumlahnya tak akan banyak, kecuali kalau main diisi ulang. Trikomsel sendiri, selain sebagai distribustor handphone Nokia dan Sony Ericsson, selama ini 30% kue bisnisnya dari jualan kartu perdana dan isi ulang melalui jaringan ritel OkeShop dan agen distribsusinya.
Yang pasti, sejauh ini Telkomsel masih memimpin di persaingan kartu prabayar. Hingga akhir tahun jumlah pelanggannya lebih dari 10 juta nomor, sama dengan separuh jumlah nomor pelanggan seluler di Indonesia. Tahun ini hingga Maret penjualan kartu perdana Sempati mencapai 1,5 juta unit. “Mayoritas kartu perdana Sempati Hoki,” kata Suryo. Sayang, Suryo enggan menceritakan berapa persen penjualannya yang dikontribusi oleh asongan.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.