Home » Updates » Kebangkitan (dan Kejatuhan) Berbagai Bangsa

Kebangkitan (dan Kejatuhan) Berbagai Bangsa

Peru, 16 November 1532. Siang itu, Francisco Pizarro menunggu kedatangan Atahuallpa, kaisar Inca — kerajaan terbesar dan termaju di benua Amerika — di Cajamarca, sebuah kota di pegunungan. Bersama Pizarro, vasal Raja Charles I, hanya 168 prajurit Spanyol yang kelelahan setelah perjalanan 1.000 mil dari Panama. Sementara itu, Atahuallpa yang duduk di atas tandu besar berhiaskan emas, perak, berbagai permata dan bulu burung aneka warna, dikelilingi oleh puluhan ribu prajuritnya.

Saksi mata peristiwa yang mengubah sejarah dunia itu mencatat:

“Yang datang pertama adalah sebuah skuadron Indian berpakaian warna-warni, seperti papan catur. Mereka berjalan maju sambil mencabuti rerumputan dan membersihkan jalan. Kemudian tiga skuadron dengan pakaian berbeda, menari dan menyanyi. Setelahnya, sejumlah lelaki yang menyandang senjata, perisai metal besar, dan mahkota dari emas dan perak… Di antara mereka terlihat Atahuallpa yang berpakaian indah di atas sebuah tandu besar. Delapan puluh bangsawan memikulnya di pundak, semua mengenakan seragam biru yang mewah.”

“Di belakang tandu Atahuallpa, dua tandu besar lagi berisi para petinggi. Lalu, beberapa skuadron Indian bermahkota emas dan perak. Semua Indian itu memasuki plaza diiringi nyanyian, sehingga plaza penuh sesak. Sementara itu, kami orang-orang Spanyol menunggu sambil sembunyi di pelataran, penuh ketakutan. Banyak d antara kami yang tanpa sadar terkencing di celana.”

Pizarro lalu mengirim Friar Vicente de Valverade untuk berbicara dan memerintahkan Atahuallpa tunduk pada hukum Kristiani. “Dengan satu tangan mengacungkan salib dan tangan lainnya memegang Alkitab,” tulis para saksi mata, “Friar berjalan di antara pasukan Indian ke hadapan Atahuallpa dan meneriakkan ajakan. ‘Aku adalah Pendeta Tuhan… aku datang untuk mengajarimu. Yang kuajarkan adalah perintah Tuhan yang tertulis dalam Kitab ini…’”

“Atahuallpa meminta Kitab itu untuk dilihat, dan Friar memberikannya dalam keadaan tertutup. Atahuallpa tak tahu cara membuka Kitab tesebut, Friar mengulurkan tangannya untuk membantu membukakan… Atahuallpa murka dan memukul tangan itu. Dia membuka Kitab itu sendiri lalu, tanpa memperhatikan tulisan yang ada, dia buang …”

Yang terjadi kemudian adalah sebuah sergapan kilat. Pizarro memberi tanda agar anak buahnya melepaskan tembakan. Pada saat yang sama, terompet ditiup keras dan para prajurit Spanyol, kavaleri maupun infanteri, menyerbu dari tempat persembunyian seraya memekikkan teriakan perang, “Santiago!” Mereka membantai orang-orang Indian yang hanya bersenjata tongkat. Dalam bilangan menit, Atahuallpa tertangkap dan prajurit Indian yang tersisa kabur, meninggalkan 6-7 ribu teman mereka yang tumpas.

Dalam budaya Inca, Atahuallpa bukanlah sekadar raja, melainkan titisan Dewa Matahari. Tak mengherankan, mereka memenuhi tuntutan Pizarro dengan membayar tebusan terbesar sepanjang sejarah — sejumlah emas yang cukup untuk menyesaki ruang sepanjang 6,7 meter, lebar 5,2 meter, tinggi 2,4 meter. Namun, Atahuallpa yang sempat disandera selama 8 bulan itu tetap dibunuh. Dan, ketika akhirnya pecah perang, pasukan Inca dengan mudah dilibas Pizarro yang telah mendapat tambahan tenaga dari Panama.

Sejarah telah berjalan. Kendati demikian, beberapa pertanyaan tetap menggantung. Mengapa Pizarro datang ke Cajamarca dan menyandera Atahuallpa, bukan sebaliknya Atahuallpa meluruk ke Spanyol dan mempermalukan Raja Charles I? Sebelumnya, Hernando Cortés telah menaklukkan Aztec, sebuah kerajaan Indian di Meksiko yang diperintah Kaisar Moctezuma.

Jared Diamond, ahli biologi evolusioner yang yakin bahwa tak ada ras yang superior secara genetis, menjawab dalam Guns, Germs, and Steel — bukunya yang menyabet hadiah Pulitzer. Awalnya, menurut Diamond, adalah geografi. Dari sekian banyak benua, hanya Eropa yang memberikan kuda, tunggangan gesit untuk kendaraan perang. Dari Eropa, tepatnya kawasan Ukraina sekarang, kuda dengan cepat menyebar sampai ke Timur Tengah yang tak kelewat jauh. Pasukan Inca yang tak mengenal kuda mengira kavaleri Spanyol sebagai sekelompok monster ganas berkepala dua.

Yang tak disangka adalah “senjata biologis” yang secara tak sengaja dibawa orang-orang Spanyol: virus flu dan sebangsanya. Tak ditemukan di Dunia Baru, kaum Indian Amerika tak memiliki kekebalan terhadap mikroba patogen tersebut. Endemi yang ditimbulkan mikroba itulah yang memusnahkan suku Inca ataupun Aztec.

Faktor lain yang menyebabkan kekalahan Inca (juga Aztec) adalah sistem pemerintahan mereka yang kelewat terpusat pada kaisar. Hal ini bertolak belakang dengan Spanyol dan (suku) bangsa Eropa pada umumnya.

Berabad-abad dilanda perang, berbagai suku bangsa di Eropa jadi belajar mempertahankan diri, dengan atau tanpa bantuan para pemimpin yang sering begitu cepat menyerah pada kemauan para penyerbu dan mengorbankan rakyatnya. Masyarakat Dunia Lama itu pun lalu jadi mandiri — bibit yang subur untuk tumbuhnya segala hal yang bersifat bottom-up. Sistem yang terbentuk, yang cenderung demokratis dan menghargai kepemilikan oleh swasta (private property), memicu inovasi dan, pada gilirannya, lahirnya industri.

Pada Abad Pertengahan, berbagai inovasi penting berkembang di Eropa, melahirkan Pencerahan. David S. Landes dalam The Wealth and Poverty of Nations mengemukakan, setidaknya lima inovasi yang dihasilkan itu telah mengubah jalannya sejarah dunia. Mulai dari kincir air, kacamata dan jam mekanik, sampai percetakan dan serbuk mesiu.

Dikatakan mengubah sejarah karena inovasi kincir angin, yang dengan pembangunan dam serta penciptaan berbagai aksesorinya, antara lain roda gigi, misalnya, telah memungkinkan produksi massal peralatan logam (untuk pertanian maupun persenjataan) dan pulp (bahan baku kertas yang selama ribuan tahun di tangan bangsa Cina dan Arab dibuat secara manual). Bahkan, kacamata yang sekarang merupakan barang lumrah melipatgandakan usia produktif para perajin terampil, termasuk penata huruf yang posisinya krusial sebelum penemuan alat cetak, pembuat instrumen dan peralatan, pembuat baju zirah dan perajin metal. Sementara itu, jam mekanik memungkinkan pengorganisasian secara baik kegiatan kolektif, sehingga ikut mendorong industrialisasi.

Masih kurang? Didukung produksi massal kertas, percetakan mempermudah dan memperluas penyebaran pengetahuan, teknologi dan informasi. Lalu, dengan berkembangnya penempaan logam secara mekanik, tersedianya serbuk mesiu (yang selama ribuan tahun lebih banyak digunakan sebagai pemeriah pesta dalam kebudayaan Cina), memantapkan supremasi di bidang persenjataan dengan penciptaan bedil dan meriam.

Mengapa bangsa Cina tak mampu meluncurkan inovasi dari berbagai teknologi yang mereka temukan dan kuasai terlebih dulu?

Para sinolog memberikan beberapa jawaban. Pertama, ketiadaan pasar bebas dan property right yang melembaga di Negeri Langit itu. “A law against property,” seperti dikatakan Edmund Burke, “is a law against industry.”

Pemerintah Cina selalu mencampuri sektor swasta – mengambil alih aktivitas yang menjanjikan keuntungan, melarang berbagai macam kegiatan, memanipulasi harga, mendorong praktik suap (antara lain dengan memberikan gaji terlalu kecil buat kalangan pegawai negeri yang diberi wewenang begitu besar, termasuk menerbitkan berbagai izin dan surat keterangan), mengebiri segala hal yang dapat memperkaya pihak di luar pemerintah. Dinasti Ming (1368-1644) bahkan tak segan melarang segala bentuk perdagangan internasional. Bad government, kita tahu, mematikan inisiatif, mendongkrak biaya transaksi, mengalihkan talenta dari sektor perdagangan dan industri yang merupakan mesin pertumbuhan dan kemajuan.

Kedua, adanya hambatan dari nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Pemasungan kaum perempuan untuk hanya bekerja di rumah, misalnya, menghambat potensi perkembangan industri tekstil. Inilah salah satu faktor yang membuat Eropa dan Jepang, yang memberikan akses luas kepada kaum Hawa ke ruang publik, dapat menyalip Cina. Belakangan, setelah Mao Zedong memberikan status yang sama terhadap perempuan pada 1949, Cina mulai bangkit jadi raksasa industri (yang hampir menyamai Uni Soviet).

Etienne Balazs memberikan analisis yang lebih luas. Ahli masalah Cina keturunan Hungaria-Jerman-Prancis ini melihat kegagalan teknologi Cina (Abad Pertengahan) sebagai bagian dari pola besar kontrol totaliter. Sistem pemerintahan Cina (tempo doeloe) yang sama sekali tak memberikan peluang pada inisiatif, ekspresi dan segala bentuk kebebasan pribadi ini, menurutnya, membuat masyarakatnya enggan melakukan sesuatu yang baru.

Kalau semua hal, dari lahir hingga mati, termasuk warna baju yang dikenakan dan musik yang didengar, diatur pemerintah, buat apa cari penyakit melakukan sesuatu yang di luar rutin, di luar tradisi?

Maka, setelah Deng Xiaoping memberi tempat kepada swasta dan mulai melepas monopoli Beijing terhadap property rights, Cina yang memiliki tenaga terampil mencapai critical mass (karena di bawah rezim komunis mereka memelihara sistem pendidikan dengan baik) langsung melesat dan berkibar. Jauh sebelum itu, pada Abad Pertengahan, Cina yang mandek segera tersalip oleh Eropa (dan kemudian Jepang).

Walau memiliki kemampuan maritim yang lebih hebat ketimbang Spanyol dan Portugal, misalnya, Laksamana Cheng Ho yang melakukan 7 ekspedisi maritim besar (1405-31) tak membuka banyak peluang untuk perdagangan internasional. Bahkan sebaliknya, ekspedisi yang mahal itu (ditambah pemindahan ibukota dari Nanking ke Beijing) membuat Cina bangkrut dan masyarakatnya (yang dibebani pajak mencekik) terpuruk.

Di sisi sosial-politik, ketiadaan kekuasaan sentral yang kuat membuat kelompok masyarakat di Eropa yang merasa kuat gampang terdorong untuk mendepak kelompok lain kalau mendapat keuntungan dari agresi tersebut. Dengan demikian, walau negara tak ikut campur, kelompok yang ingin melakukan agresi tak perlu menunggu izin. Itu sebabnya, Perang Salib terjadi berkali-kali selama berabad-abad dan meruyak di banyak tempat.

Menghadapi penguasa semacam Saladin yang sangat egaliter — sehingga mendapat dukungan sepenuh hati dari rakyatnya — para penyerbu Eropa yang kebanyakan adalah petualang bermotivasi uang tak berdaya. Namun, penguasa Islam selanjutnya yang otokratis tercerabut dari masyarakatnya, tak berdaya karena tergantung pada pasukan Berber, barisan tentara bayaran dari Afrika Utara yang tak punya loyalitas cukup kuat kepada para penguasa yang menyewa mereka. Apalagi, kaum Muslim yang kemudian tergelincir pada mistisisme, menitikberatkan urusan akhirat dan melupakan kewajiban duniawi, juga kian terputus dari kemajuan ilmu pengetahuan.

Jangan heran, pada abad berikutnya, penguasa Muslim di Spanyol akhirnya terdepak (kekalahan final terjadi pada 1492, dengan jatuhnya Granada). Hengkangnya penguasa Muslim dari Semenanjung Iberia ini mengibarkan Spanyol dan Portugal yang, dengan restu Paus, segera membagi dua dunia di antara mereka. Armada kedua kerajaan ini, dengan motivasi mencari kekayaan — umumnya dalam bentuk emas dan perak — segera saja menaklukkan berbagai kawasan dunia, dari Amerika Selatan sampai Afrika Utara sampai kepualauan rempah di Timur Jauh.

Ironisnya, sihir emas dan perak (dan kemudian rempah-rempah) yang membuat Spanyol dan Portugal menaklukkan dunia itu pula yang membuat keduanya surut setelah Inggris dan Belanda turun gelanggang, mengirim armada mereka empat penjuru Bumi, pada awal abad ke-17. Mulanya, Portugal yang menguasai jalur tradisional melintasi Asia sampai ke Mediterania melalui perdagangan yang monopolistis dan perompakan, menguasai sampai 40% perdagangan lada (rempah paling bernilai waktu itu) dunia. Namun, rute yang dirusak oleh keserakahan sendiri ini akhirnya meredup sehingga pada 1570, mereka tak mampu melanjutkan monopoli perdagangan antara Lisbon dan Goa (di Timur). Bahkan, pada 1586, Raja Portugis melego hak eksklusif perdagangan lada kepada Welser, perusahaan niaga Jerman.

Guna menambal perdagangan yang kian menciut, orang-orang Portugis masuk ke perdagangan intra-Asia yang marak sebelum kedatangan bangsa Eropa. Perdagangan ini bersifat spontan dan improvisasional. Yang mereka lakukan? Orang-orang Portugis itu menggunakan kekuatan senjata untuk memaksa para pedagang Gujarat, Jawa, Cina, India dan Arab untuk membeli lisensi perdagangan yang mereka keluarkan. Pedagang yang tak memiliki lisensi disita barang dan kapalnya.

Praktik tak terpuji (tapi memberikan hasil besar secara cepat) ini segera diikuti orang-orang Inggris dan Belanda. Bedanya, kedua bangsa ini tak melupakan upaya jangka panjang. Orang-orang Belanda, misalnya, mendirikan selusin perusahaan, lalu empat lagi, untuk merebut dominasi atas perdagangan rempah dan barang-barang mewah lainnya (sutera, porselen) di Hindia Timur. Sadar bahwa upaya ini membutuhkan sumber daya besar, 16 perusahaan tersebut lalu bergabung jadi Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC) pada 1602. Mengadu domba satu raja kecil yang menguasai sebuah daerah kesukuan secara absolut dengan raja kecil lainnya, VOC yang partikelir ini mampu menguasai dan menguras kekayaan sebuah kepulauan di katulistiwa selama hampir 3,5 abad.

Sementara itu, Inggris membentuk East India Company (EIC) yang berupaya melakukan hal yang sama terhadap India. Akan tetapi, karena para raja kecil India yang berada di daratan seluas benua lebih kuat ketimbang para raja kecil negara kepulauan yang dikangkangi VOC, upaya IEC ini baru berhasil menjelang akhir abad ke-17.

Penguasaan IEC atas India membawa Inggris ke Cina. Pada abad ke-18, permintaan pasar Eropa terhadap produk Cina meroket — porselen (yang tak dapat dibuat sendiri sampai tahun 1720-an), sutera kasar, teh. Sayangnya, ada satu masalah: Cina tak tertarik pada produk Inggris (kecuali arloji dan jam). Artinya, Ingris harus membayar komoditas Cina dengan emas dan perak. Dan ini tak mudah. Apa yang harus mereka jual buat mendapatkan perak Spanyol dan emas Jepang atau Brasil?

Guna mengatasi hal ini, Inggris harus mencari komoditas lain yang diinginkan pasar Cina. Akhirnya, mereka menemukan jawabnya: opium, yang waktu itu banyak tumbuh di Bengal.

Karena selain membuka pasar, opium juga dapat mengikat pelanggan melalui kecanduan berat, Inggris mengeruk banyak keuntungan untuk waktu cukup lama. Penguasaan perdagangan dengan Cina ini dan cengkeraman yang lebih dalam di India membuat Inggris bisa mengalahkan Dutch East India Company sehingga IEC versi Belanda itu bangkrut memasuki awal abad ke-18. Namun, Inggris sendiri kehilangan koloni sebab Amerika Serikat mendapatkan kemerdekaannya, dan mereka harus menghentikan perdagangan budak lintas Atlantik-nya. Di Eropa, Rezim Lama di Prancis ambruk pula oleh revolusi setelah bonanza gula yang menopangnya jatuh ke titik nadir.

Pendek kata, abad ke-18 menutup era Old Imperial — tetapi membuka cakrawala baru. Eropa yang kehilangan banyak koloni di tempat-tempat lain berhasil memaksa masuk ke teritori yang tadinya tak tersentuh (Cina, Jepang) dan membentuk imperium baru yang mencerminkan citranya di tempat lain (India, Indonesia). Di balik metamorfosis ini adalah Revolusi Industri.

Penerapan mesin uap ke dalam industri membuat Inggris berjaya. Dan Belanda, yang juga mengambil jalan “bisnis” dengan VOC-nya, berhasil ikut mengatasi ketertinggalan karena berhasil menghimpun kapital yang cukup dari tanah jajahan yang diperah melalui tanam paksa. Maklum, kekuatan kapital bisa menambal segala kekurangan—mensubstitusi tenaga kerja, memudahkan kredit, menahan pukulan karena gagalnya satu atau proyek pembangunan, memberikan peluang baru, menstimulasi perekonomian… Pendek kata, ada kapital, semua bisa beres.

Kendati demikian, kapital yang diperoleh dengan jalan mudah belum tentu memberi cukup berkah. Dua bangsa Iberia yang membuka jalan pada penjajahan Eropa, sehingga mengisap paling banyak kapital dari Dunia Baru, justru terseok di tengah kemajuan bangsa Eropa lainnya. Maklum, tak mengeluarkan banyak keringat buat mengeruk kekayaan (karena lebih banyak melalui perampokan dan perbudakan, ketimbang perdagangan), Spanyol terutama, terkena Sindrom OKB (orang kaya baru). Mereka lebih banyak menghamburkan kapitalnya buat bermewah-mewah dan membiayai perang yang tak perlu.

Pada 1545, para pabrikan Spanyol menikmati backlog order sampai 6 tahun dari negeri jajahan di Amerika Selatan yang dipaksa hanya membeli dari mereka. Buat memanen uang gampang ini, para pedagang Spanyol tak mau bersusah payah memproduksi sendiri pesanan yang membanjir tersebut. Mereka cukup memesannya dari pabrikan Inggris, Belanda, Italia dan Prancis.

Ketergantungan terhadap asing ini merupakan wujud ketidakmampuan memobilisasi keterampilan dan bisnis. Dengan demikian, Spanyol menjadi (atau tetap) miskin justru karena memiliki kelewat banyak rezeki nomplok. Maka, ketika aliran emas dan perak dari negeri jajahan berhenti pada pertengahan abad ke-17, perekonomian mereka lantas bangkrut. Belakangan, sejarah dipenuhi semakin banyak bangsa (negara) yang bangkrut setelah rezeki nomploknya (dari sumber daya alam) terhenti (setelah minyak dan gas bumi kering, tambang terkuras, hutan menggundul).

Uang gampang, seperti kata orang bijak, tak bagus buat kemajuan. Rezeki yang didapat tanpa keringat itu hanya akan mendorong penguasa menciptakan distorsi ekonomi yang bakal menimbulkan sesal berkepanjangan.

Order yang diterima Inggris dan beberapa negara lain dari para pencari rente ekonomi Spanyol bukan hanya memberikan lapangan pekerjaan. Lebih dari itu, order tersebut mendorong naik industrialisasi dan, yang tak kalah penting, membentuk ethos dan profesionalisme kerja yang tinggi di negeri-negeri yang bersedia mencari fulus dengan memeras keringat.

Buktinya, setelah penemuan mesin uap dengan kondenser terpisah oleh James Watt (1768), Inggris mampu mempertahankan kepemimpinannya dalam inovasi dengan penemuan uap tekanan tinggi untuk menggerakkan dua atau lebih piston yang pada 1850-an diterapkan dalam kapal uap yang segera saja mengokohkan posisi Britania Raya dalam peta perdagangan dunia. Inovasi ini masih diteruskan dengan penemuan turbin yang memungkinkan pembangunan PLTU pada akhir abad ke-19 dan generasi kapal penjelajah samudra yang lebih maju lagi. Inovasi lebih lanjut dalam bidang metalurgi melahirkan sistem transportasi kereta api, selain kapal yang bodinya lebih tipis sehingga dapat memuat lebih banyak dan melaju lebih kencang dengan bahan bakar lebih sedikit.

Lompatan kuantum Inggris dan segelintir negara lain membuat negeri yang jalan di tempat atau berkembang lamban kian tertinggal. Di Eropa saja, kalau pada 1750 perbedaan pendapatan per kapita antara Eropa Barat (termasuk Britania Raya) dan Timur hanya sekitar 15%, pada 1800 sudah menembus 20%, lalu menjadi 64% pada 1860 dan hampir 80% pada 1900-an. Polarisasi yang lebih tajam terjadi antara Eropa dan negara-negara yang kemudian dikelompokkan sebagai Dunia Ketiga.

Mengapa lompatan kuantum tersebut terjadi di Inggris dan pada abad ke-18? Mengapa bukan di Cina pada era Dinasti Sung (pemintalan serat, pembuatan besi) atau di Italia pada awal era modern (produksi massal sutera, pembangunan kapal) atau, bahkan, di Inggris pada Abad Pertengahan (kincir air)?

Lompatan kuantum tersebut terjadi karena adanya buildup (akumulasi knowledge dan knowhow) dan breakthrough (pencapaian dan pelampauan threshold). Keduanya bisa berlangsung di Inggris, karena di negeri itu terdapat tiga unsur yang diperlukan untuk perkembangan berkelanjutan tersebut: (1) tumbuhnya autonomy of intelectual inquiry, (2) berkembangnya unity in disunity dalam bentuk metode yang disepakati bersama — digunakannya bahasa pembuktian dalam tatanan nasional dan budaya seluruh masyarakat, dan (3) rutinisasi riset dan difusi hasil penelitian tersebut ke dalam cara melakukan sesuatu.

Dengan kata lain, karena Inggris pada abad ke-18 memberikan lahan yang subur bagi berkembangnya budaya ilmiah yang diterapkan ke dalam sistem produksi, bahkan kehidupan sehari-hari. Apalagi, di Inggris waktu itu telah berkembang barisan industri rumahan yang sangat dinamis. Kondisi yang kondusif untuk kemajuan ini tak pernah terbentuk sebelumnya di Cina (yang totaliter) maupun Dunia Islam pra-Abad Pertengahan (yang keburu balik badan ke mistisisme).

Faktor lain yang membuat kondisi di Inggris kondusif adalah negeri itu boleh dibilang bebas dari hambatan irasional terhadap modernisasi yang membelenggu kebanyakan negeri Eropa Daratan. Di Prancis, misalnya, kaum Protestan dihukum dan diusir (1685). Di kebanyakan negeri Eropa, kaum Yahudi dilarang terlibat dalam segala bentuk perdagangan, karena alasan kebencian ataupun agama. Di Jerman, hanya lelaki dari keturunan murni yang dianggap layak untuk maju. Maka, kebebasan di Inggris lalu menarik para tenaga terampil dan ahli yang tersisih dari negeri Eropa lainnya.

Dari Inggris, model masyarakat industri lalu menyebar ke belahan dunia lain. Para follower bisa mengatasi ketertinggalan bukan karena mampu melakukan yang Inggris lakukan dengan biaya lebih rendah. Mengikuti prinsip comparative advantage yang benar, mereka melakukannya melalui keberhasilan dalam memproduksi dan menjajakan produk yang memberikan keuntungan terbesar. Toh, data menunjukkan, diperlukan seabad lebih untuk negeri “follower” tercepat dari Eropa buat menyamai kemajuan ekonomi Inggris.

Hanya dua negara yang mampu menyalip Inggris dalam bilangan dasarwarsa, yaitu sejak 1913 atau sebelumnya: Amerika Serikat dan Kanada. Penyebabnya, infrastruktur kedua negara ini tak mengalami kerusakan secuil pun oleh Perang Dunia I yang melanda seluruh Eropa. Kejadian yang berulang pada PD II mengukuhkan mereka, terutama AS, di posisi puncak negeri termaju dunia. Pada 1970, produk domesik bruto (PDB) riil AS dan Kanada masing-masing US$ 3.605 dan US$ 3.005 — jauh di atas PDB Inggris yang US$ 2.225.

Yang menakjubkan, pada 1970 itu, PDB dua negara yang kalah dan hancur luluh dalam PD II telah menyalip (Jerman Barat, US$ 2.705) atau sangat mendekati (Jepang, US$ 2.130) PDB Inggris. Kebangkitan yang cepat ini — pada 1950 PDB keduanya baru US$ 995 (Jerman Barat) dan US$ 405 (Jepang) — sekali lagi membuktikan pentingnya sumber daya manusia dibanding sumber daya alam. Hal ini juga membuktikan, sistem yang memberi reward pada inisiatif swasta lebih kondusif terhadap kemajuan ketimbang sistem yang sentralistis. Bagaimana tidak, Rusia (Uni Soviet) yang komunis telah membukukan PDB US$ 600 pada 1950 (karena (dan infrastrukturnya relatif utuh pasca-PD II), tapi hanya meningkat jadi US$ 1.640 pada 1970.

Memasuki milenium ke-3, AS masih menjadi negara termaju di dunia walau mulai terseok. Sebagian penyebabnya adalah karena industri raksasa adidaya ini mengalami “hollowing out” dengan bermigrasinya sebagian besar kegiatan manufaktur ke negara lain, pada dasawarsa terakhir menjelang abad ke-21. Untuk sebuah negara besar, industri jasa saja (betapa pun canggihnya) terbukti tak cukup buat mempertahankan supremasi ekonomi.

Pemenang terbesar dari perubahan akbar ini? Cina dan India (disusul Brasil dan Rusia yang mampu mengelola sumber daya alamnya yang kaya). Dua negara yang disebut pertama ini bisa bangkit dan melejit karena, mudah ditebak, mereka memiliki SDM yang terampil dan terdidik cukup besar untuk pertumbuhan berkelanjutan (setidaknya sampai saat ini), sistem yang relatif kian bebas dan terbuka, penghargaan cukup tinggi terhadap property rights — faktor-faktor yang dulu memungkinkan Spanyol mengirim Pizarro menangkap Atahuallpa, dan bukan sebaliknya…

SHARE SOCIAL MEDIA


Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


− three = 0