Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengharapkan percepatan penyelesaian divestasi kedua anak perusahaan Bank Indonesia (BI) divestasi yaitu PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).
“Persoalan ini menunggu deal antara BI dengan kementerian keuangan baru dengan kementerian BUMN. Bagi kita, makin cepat makin baik,†ujar Deputi Meneg BUMN Bidang Perbankan dan Jasa Keuangan, Parikesit Suprapto, seusai Rapat Dengar Pendapat Komisi XI dengan Kementerian BUMN hari ini (17/2). Menurutnya, hingga saat ini kementerian BUMN hanya diminta membuat uji tuntas (due dilligence) mengenai nilai perusahaan dan itu sudah dilakukan.
Dengan hibah saham dari BPUI dan Askrindo, diharapkan saham pemerintah dapat di atas 20% dan dapat memberikan dividen bagi pemerintah. “Keuntungan dari proses hibah tersebut kita dapat mengambil dividen,†jelas Parikesit. Adapun total hibah saham mencapai Rp 1,54 triliun yang mekanismenya telah disetujui oleh Komis XI sejak November 2008.
Sementara, untuk BPUI sendiri, kementerian BUMN masih menunggu terbitnya peraturan pemerintah mengenai hibah saham dari BI. Seperti disampaikan oleh Sekretaris Kementerian BUMN, M Said Didu, proses hibah tersebut belum selesai hingga saat ini salah satunya disebabkan oleh persoalan hutang. Kini, BPUI memiliki utang rekening dana investasi (RDI) senilai Rp1,2 triliun yang berasal dari utang pokok Rp 250 miliar dan beban bunga serta denda Rp 950,6 miliar dan akan dicicil secara berjenjang selama 20 tahun. “Posisi BUMN tidak boleh menunggak pajak. Kami akan menerima dalam bentuk clean and clear,†paparnya.
Untuk diketahui, pada 2009 pendapatan operasional BPUI tercatat Rp 538 miliar, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 429 miliar. Laba bersih yang berhasil dicapai sebesar Rp 129, yang juga naik dari 2008 sebesar Rp 50 miliar.
Sedangkan Askrindo yang 17,6% sahamnya dimiliki BI pada tahun lalu mencatat pendapatan premi gabungan sebesar Rp 310,4 miliar, naik dari 2008 sebesar Rp 298,5 miliar dan laba setelah pajak sebesar Rp 88,3 miliar, naik dari tahun lalu sebesar Rp 36,7 miliar. Untuk total aktivanya sendiri pada 2009 mencapai Rp 2,2 triliun.