Kuliah Lagi Bukan untuk Kejar Posisi

Kuliah Lagi Bukan untuk Kejar Posisi

Tidak puas cuma mengenyam pendidikan S-1 Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, Arief Pradetya melanjutkan kuliah ke S-2 Manajemen Bisnis (bidang finance) Prasetiya Mulya Business School. “Pertimbangannya, untuk mendukung pekerjaan existing saya,” ujar Manajer Data & Broadband Services Telkomsel itu. Selama ini pekerjaannya banyak terkait dengan analisis profitabilitas, revenue impact, full business case dalam menopang manajemen lifecycle produk broadband, terutama dari paket produk dan strategi pricing.

Senada dengan Arief, Rachmanto pun haus menimba ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, ia kuliah lagi di Jurusan Manajemen Kepelabuhanan (Port Management) World Maritime University (WMU) Malmo, Swedia. “WMU adalah universitas yang dikelola IMO, badan khusus PBB yang menangani masalah maritim,” tutur Rachmanto yang bekerja di Bagian Humas & Hubungan Internasional Pelindo III.

Urusan mengejar ilmu bukan milik Arief dan Rachmanto saja. Masih banyak eksekutif muda lain yang getol belajar. Hasil survei SWA merefleksikan fenomena tersebut. Berdasarkan sigi SWA pada 3-12 April lalu terhadap 45 eksekutif pria dan wanita dengan jabatan supervisor ke atas dan latar belakang pendidikan diploma (4,44%), S-1 (68,89%) dan S-2 (26,67%), sebanyak 44,44% responden ingin kuliah lagi, 20% tidak berminat, serta 35,56% tidak tahu.

Tujuan utama mereka kuliah lagi bukan untuk mengejar jabatan. Merujuk hasil survei, alasan menimba ilmu menjadi prioritas (80%), lalu meningkatkan kemampuan (30%), memenuhi kesukaan untuk terus belajar (25%), aktualisasi diri (10%), dan lainnya (15%).

Pernyataan Yusinda Nilamsari kian menguatkan hasil survei tersebut. Menurut GM Manajemen dan Akuisisi Klien PT Smailing American Express (SAE) ini, kuliah S-2 sungguh berguna untuk meningkatkan skill diri, bukan semata demi meningkatkan posisi. “Peningkatan karier akan mengikuti dengan sendirinya kalau kinerja kita baik,” ujar wanita 39 tahun itu. Uniknya, ia lebih suka kuliah lagi di S-1 dengan jurusan berbeda ketimbang harus menempuh S-2. Mengapa? “Karena setelah pensiun, saya ingin menjadi dosen atau guru bahasa Inggris, atau buka kursus,” lulusan S-1 Manajemen Transportasi Udara Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, Jakarta, ini menerangkan. Ia mengambil program S-1 di Jurusan Sastra Inggris Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA, Jakarta.

Bagi Arief, targetnya kuliah lagi untuk amunisi tambahan sebagai bekal bersaing di dunia kerja atau usaha yang kian kompetitif. Ia merinci, tujuan kuliah S-2 ada empat: memperbarui basis pengetahuan tentang manajemen bisnis paling up-to-date, mendapatkan linkage antara teori dan fakta pekerjaan melalui case studies, hands on experience & business plan, serta mendapatkan teman-teman baru dan memperluas jejaring. “Jadi, saat ini tidak zamannya lagi dengan S-2 mengharapkan kenaikan gaji atau posisi,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 6 Oktober 1978 itu.

“Apalagi, agama juga mengajarkan kita untuk menuntut ilmu dari lahir hingga tua,” ujar Rachmanto tentang alasannya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Selain itu, ia suka belajar terus agar tidak ketinggalan masalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga, dengan belajar lagi, ia mendapatkan perbandingan ilmu pengelolaan pelabuhan di Indonesia dengan negara-negara yang sudah maju.

Jurusan apa yang diincar para eksekutif yang berhasrat kuliah lagi itu? Mengacu pada hasil riset SWA, rupanya bidang manajemen menjadi favorit (20%), disusul pemasaran (15%). Sisanya, sumber daya manusia, ekonomi, keuangan, komunikasi internasional, profesi psikologi dan pendidikan (masing-masing 10%).

Rupanya kampus di negeri sendiri lebih diminati para eksekutif. Kembali merujuk ke hasil survei, sebanyak 85% responden mengaku tertarik kuliah lagi di dalam negeri, sedangkan 15% responden ingin melanjutkan kuliah ke mancanegara. Eksekutif yang lebih enjoy kuliah di luar negeri memiliki pertimbangan tertentu. Dikatakan Rachmanto, lulusan luar negeri lebih unggul dalam penguasaan bahasa asing dan kemandirian. “Selain itu, mahasiswa kita yang kuliah di luar negeri dapat belajar masalah budaya orang lain.”

Untuk institusi pendidikan idaman, 40% responden memilih Universitas Indonesia sebagai kampus untuk tempat belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara 25% responden menjawab masih mencari informasi, 20% memilih Prasetiya Mulya, dan 25% lagi mengatakan yang lain.

Pilihan eksekutif atas kampus favoritnya itu bukan asal tunjuk. Arief, misalnya, melihat lima hal saat memilih perguruan tinggi bonafide: reputasi, figur pengajar, fasilitas belajar, rekomendasi kawan, serta kelengkapan informasi seperti brosur, website dan sesi informasi.

Rachmanto menambahkan, dengan memilih perguruan tinggi yang reputasinya bagus, otomatis alumninya memiliki daya saing tinggi. “Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan besar banyak yang memilih alumni dari perguruan tinggi yang berkualitas dibandingkan sekolah yang ecek-ecek,” ujarnya. Ia memberi contoh, banyak mahasiswa dari Harvard University yang ditawari pekerjaan oleh perusahaan-perusahaan besar meski belum lulus kuliah. Maklum, sekolah bereputasi bagus kebanyakan didukung tenaga pengajar yang berkualitas pula.

Soal sumber pembiayaan, para eksekutif lebih condong dengan biaya sendiri (55%). Mengapa? “Lebih enak biaya sendiri. Selain faktor kebebasan, tidak terikat kontrak kerja, kontrak penelitian, atau keharusan melakukan A-Z,” kata Arief. Pendeknya, ia menegaskan, dengan uang sendiri dorongan untuk lebih serius belajar adalah nilai tambahnya. “Alasannya, untuk consider it as how to get the return of investment ASAP (as soon as possible),” ia menambahkan.

Berbeda dari Arief, Rachmanto lebih suka kuliah dengan beasiswa. Alasannya, banyak asumsi yang berkembang bahwa mahasiswa yang mendapatkan beasiswa merupakan mahasiswa pilihan lantaran seleksinya sangat ketat. “Ini masalah pride atau kebanggaan,” katanya. Apalagi, dengan beasiswa, lebih hemat. “Saya tidak pernah membayangkan jika kuliah master saya senilai US$ 50 ribu itu harus dibiayai sendiri,” kata Rachmanto yang pernah meraih beasiswa S-2 dengan nilai setara Rp 500 juta itu. Karena ketagihan nikmatnya beasiswa itulah, kini ia tengah mengajukan beasiswa short course di Antwerpen University, Belgia.

Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar & Tutut Handayani/ Riset: Siti Sumariyati

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag