Home » Updates » Mari, Bangkitkan Potensi Industri Kreatif

Mari, Bangkitkan Potensi Industri Kreatif

“Indonesia Bisa!” Deklarasi yang digaungkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istora Senayan pada peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei lalu, yang gegap gempita itu, tentu saja berlaku pula untuk lahan industri kreatif negeri ini.

Ya, industri yang berbasis aset kekayaan intelektual (intellectual property) ini dianggap sebagai pilar penting untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tak mengherankan, saat ini industri kreatif terus menggeliat di seluruh dunia. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan negara-negara di Eropa, industri kreatif terus dipacu dan bisa dioptimalkan untuk menggerakkan perekonomian negara. Sekarang, industri kreatif dunia telah menyumbang produk domestik bruto (PDB) global sebesar US$ 2 triliun dan dua tahun mendatang akan mencapai US$ 10 triliun. Di Inggris, saat ini industri kreatif mampu menyumbang hingga 8,2% pada pendapatan nasional negeri itu. Industri ini bahkan menjadi sektor terbesar setelah jasa perbankan, dengan menyerap sekitar 2 juta tenaga kerja. Begitu juga industri kreatif di negara-negara berkembang seperti Kolombia, Meksiko, negara-negara Baltik, India dan Filipina yang menyumbang hingga 4%-5% dari PDB negara-negara tersebut.

Potensi industri kreatif di Indonesia pun luar biasa. Negeri ini menyimpan potensi besar untuk memanfaatkan ragam budayanya sebagai sarana penggerak industri kreatif. Pemerintah sendiri memproyeksikan pemasukan devisa dari pengembangan industri kreatif mencapai US$ 6 miliar pada 2010. Saat ini baru sekitar US$ 2 miliar. Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, industri kreatif Indonesia baru menyumbang PDB sekitar 1,9%. Ditargetkan dalam 5-8 tahun mendatang, industri kreatif ini dapat memberikan kontribusi PDB sebesar 10%. Untuk mencapai target tersebut, menurut Mari, harus dibuat roadmap yang jelas dengan pembahasan lintasdepartemen. Departemen Perdagangan mendaftarkan 15 sektor yang masuk kategori ekonomi kreatif, yakni jasa periklanan, seni rupa, desain, film, seni pertunjukan, riset dan pengembangan, televisi dan radio, video game, arsitektur, kerajinan, mode (fashion), musik, penerbitan, software, serta games.

Dari berbagai sektor yang masuk kategori industri kreatif, Indonesia jelas menyimpan potensi besar. Lihat saja pertumbuhan industri desain visual — termasuk animasi, desain grafis, periklanan dan multimedia — yang terus bergerak naik. Pertumbuhannya diperkirakan 10%-15% per tahun dengan market size diprediksi Rp 5 triliun. Media advertising juga sektor industri yang makin moncer. Perputaran uangnya tahun lalu mencapai Rp 30 triliun. Geliat bisnis periklanan ini tak lepas dari pertumbuhan industri televisi yang mencengangkan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk pada kisaran 240 juta jiwa, potensi industri ini saban tahun makin membesar. Market size tahun 2007 diperkirakan mencapai Rp 19 triliun. PT Rajawali Citra Televisi (RCTI) sebagai televisi swasta pertama diperkirakan meraup pendapatan Rp 2 triliun/tahun. Billing iklan televisi dari tahun ke tahun terus naik. Kue iklan nasional yang terserap untuk televisi tahun lalu saja mencapai 64,2% dari total kue iklan nasional yang mencapai Rp 30 triliun.

Industri film pun terus menggeliat. Setelah Ada Apa dengan Cinta? yang menorehkan pemasukan kotor Rp 24 miliar, industri perfilman seperti bangkit dari liang kubur. Saban tahun, produksi film terus bergulir dan meningkat jumlahnya. Meski tidak semua film berhasil, kebangkitan film ini mampu mengucurkan berkah bagi para pelakunya. Keberhasilan Ayat-Ayat Cinta, yang mampu menggiring lebih dari 3 juta penonton, membuat para artis pendukungnya kebanjiran order.

Fashion juga sektor industri kreatif yang menawarkan potensi menangguk fulus luar biasa besar. Meski tidak ada data tentang perputaran uangnya, bisnis ini sangat menggiurkan. Dengan pertumbuhan industri aparrel nasional yang mencapai triliunan rupiah, industri fashion jelas sangat potensial. Di ranah bisnis ini juga turut berkembang bisnis factory outlet dan distro (distribusi pakaian independen). Saat ini ada sekitar 1.500 gerai distro yang dikelola anak-anak muda yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Penghasilan mereka cukup mencengangkan. Ada yang mampu meraup US$ 75-100 ribu/bulan.

Peluang mendulang rezeki dari industri kreatif ini memang sangat luas. Bahkan, industri kreatif saat ini dianggap penting untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Karena itu, Departemen Perdagangan bekerja sama dengan Departemen Perindustrian serta Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah telah mencanangkan Indonesia Design Power. Tujuannya, untuk mengusung Indonesia menjadi salah satu pelaku industri kreatif masa depan.

Kalangan akademisi dan swasta pun menempatkan industri kreatif sebagai upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Seperti yang dilakukan Institut Teknologi Bandung yang membesut gagasan menjadikan ITB sebagai Pusat Industri Kreatif Jawa Barat belum lama ini. Menggandeng pemerintah pusat dan daerah, CAM Solution menyelenggarakan ajang lomba industri kreatif. Indonesian Creative Idol 2008 ini akan digelar pada Juni-Agustus mendatang di 12 kota di Indonesia. Tujuannya, mengembangkan industri dan masyarakat kreatif. Ada 9 spektrum yang dilombakan, yakni komik digital, musik digital, animasi digital, game, kerajinan, dance performance, fashion, music performance dan ilmu terapan.

Menurut Yoris Sebastian, Chief Creative Officer OMG Creative Consulting, Indonesia akan mampu bersaing dengan negara lain kalau fokus di industri kreatif. Dalam pengamatan gitaris band Padi, Satrio Yudi Wahono yang akrab disapa Piyu, sektor industri kreatif yang berpotensi terus dikembangkan adalah entertainment. Bahkan industri musik Indonesia, tambahnya, memiliki sumber daya manusia yang besar dan piawai. “Untuk Asia Tenggara, pemusik kita sudah juara,” katanya.

Periklanan, televisi, radio, penyiaran dan musik adalah bidang yang diperkirakan Yoris sangat berprospek. Sementara dalam penilaian Andi S. Boediman, Direktur Digital Studio, industri musik bahkan berpeluang besar go international. Industri perfilman nasional juga berpeluang diekspor. Sektor lain yang potensial, menurut Andi, bidang publishing, promoting, dan packaging yang nilai industrinya ditaksir mencapai Rp 30 triliun.

Dengan kapitalisasi yang luar biasa besar dari industri kreatif ini, tentu dibutuhkan kejelasan regulasi pemerintah, termasuk dukungan infrastruktur. Sehingga, potensi yang menjanjikan ini mampu membangkitkan optimisme kita bahwa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan!

Reportase: S. Ruslina, Eddy Dwinanto Iskandar, Wini Angraeni
Riset: Siti Sumariyati

SHARE SOCIAL MEDIA


Category: Updates  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


− 6 = null