Home » Updates » Mayoritas CEO di Asia Pasifik Optimistis Revenue-nya Akan Naik

Mayoritas CEO di Asia Pasifik Optimistis Revenue-nya Akan Naik

Sebanyak 82% CEO di kawasan Asia Pasifik percaya akan adanya pertumbuhan pendapatan bagi perusahaannya untuk 12 bulan ke depan. Hal tersebut terungkap berkat survei global firma konsultansi PricewaterhouseCoopers (PWC) bertajuk, 13th Annual Global CEO Survey.  Hasil survey tersebut menurut PWC sekaligus mengindikasikan bahwa krisis global telah berlalu.

Hasil ini sangat berbeda dengan hasil survei di tahun 2008, dengan hanya 66% CEO di Asia Pasifik yang berpendapat optimistis.  Dasar dari optimisme ini adalah kepercayaan bahwa Asia akan menjadi pusat  pertumbuhan ekonomi di dalam tatanan dunia baru. Adapun isu penting untuk mencapai status itu mencakup berinvestasi dalam pengembangan bakat dan usaha mengatasi perubahan iklim.

“ Agar pertumbuhan ini bermanfaat, para CEO di Asia Pasifik  harus tetap fokus terhadap prospek jangka panjang mereka meskipun adanya perubahan global dan tantangan yang dihasilkan oleh kemerosotan ekonomi”  ujar Denis Nally, Chairman dari PricewaterhouseCoopers Global International.

Secara global, mayoritas CEO (82%) berharap untuk mengembangkan bisnis mereka di Asia dalam 12 bulan kedepan. Walaupun Eropa Barat (53%) saat ini menjadi kawasan pilihan untuk kegiatan akusisi dibandingkan kawasan Asia Pasifik  (42%), hal ini dilihat akan berubah cepat dalam 12 bulan kedepan. Amerika Latin menjadi kawasan pilihan selanjutnya untuk berinvestasi bagi 75% responden.

Kesadaran terhadap pemulihan yang berkelanjutan, direfleksikan dari meningkatnya harapan terhadap pinjaman bank yang akan berperanan penting terhadap pertumbuhan keuangan (45%), sementara pemanfaatan kas keuangan internal perusahaan (internally generated cash flow) tetap dijadikan metode pilihan (78%).

Selain itu kepemimpinan dan pengembangan bakat menjadi kunci utama (75%) bagi para CEO Asia Pasifik yang akan menjadi fokus pertimbangan investasi jangka panjang.  Akan tetapi, krisis telah membuat para CEO tersebut  menjadi lebih berhati-hati dengan pengeluaran mereka sehingga inisiatif terhadap efisiensi biaya (84%) menjadi pertimbangan utama. Meskipun berfokus kepada penghematan biaya, hampir 50% CEO menyatakan keinginan untuk menambah jumlah karyawan dalam 12 bulan kedepan, dan hanya 16% yang berniat untuk mengurangi jumlah karyawannya.

“ Krisis telah mengajarkan kita dalam beberapa hal – salah satunya adalah organisasi yang mampu mempertahankan dan mengembangkan karyawannya bahkan di saat melakukan program efisiensi biaya akan mempunyai posisi yang bagus ketika bisnis mulai meningkat, ” urai Jusuf Wibisana, Chairman PricewaterhouseCoopers

Selain itu, hampir separuh  dari organisasi di Asia Pasifik menyadari pentingnya untuk terlibat di dalam isu lingkungan hidup – 47% dari para CEO mengindikasikan kalau mereka telah menyiapkan strategi untuk menanggapi isu perubahan iklim dunia. Hanya 12% dari para CEO Asia Pasifik memutuskan untuk menunda investasi mereka dalam strategi perubahan iklim dunia di12 bulan terakhir.

Sekadar catatan, dalam survey kali ini, PricewaterhouseCoopers mewawancara 1.198 CEO di 52 negara dalam kuartal terakhir di tahun 2009. Mayoritas wawancara dilakukan melalui telepon.  Sebanyak 535 wawancara dilakukan di kawasan Eropa (Austria, Belgium, Cyprus, Czech Republic,  Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Italy, Netherlands, Norway, Poland, Portugal, Romania, Russia, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, UK, Ukraine), 289 di kawasan Asia Pacific (Australia, China/Hong Kong, India, Indonesia, Japan, Korea, Malaysia, New Zealand, Singapore, Taiwan, Thailand, Vietnam), 167  di kawasan Amerika Latin (Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Colombia, Ecuador, Mexico, Paraguay, Peru, Uruguay, Venezuela), 139  di kawasan Amerika Utara (US, Canada), dan 68 di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Be Sociable, Share!

LEAVE A REPLY


* one = 6