Melayani Wong Ndeso dengan Teknologi Terkini

Melayani Wong Ndeso dengan Teknologi Terkini

Tak ada keputusan tanpa risiko. Demikian salah satu prinsip manajemen yang sering dikemukakan begawan manajemen dunia, Peter F. Drucker. Dalam praktik manajemen di dunia bisnis mana pun, konstatasi Drucker itu tampaknya ada benarnya. Setiap kali sebuah keputusan bisnis dibuat atau dipilih, selalu saja ada risiko yang menyertainya. Manajemen Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun tampaknya punya pengalaman seperti itu.

Simak saja, sejak 1983 BRI telanjur memilih strategi positioning sebagai bank yang menyediakan jasa perbankan mikro (microbanking) yang melayani nasabah menengah-bawah. Mau tak mau manajemen BRI menghadapi berbagai kenyataan pelik. Sebut saja, BRI harus memiliki coverage yang secara geografis jauh lebih luas ketimbang bank-bank yang berorientasi korporat. Cabang-cabangnya juga harus sampai ke dusun-dusun yang bahkan sangat terpencil, dan belum dipenetrasi jaringan listrik apalagi telepon tetap. Padahal, produk-produk andalan BRI seperti Kupedes (Kredit Umum Pedesaan) dan Simpedes (Simpanan Pedesaan) memang menyasar masyarakat pedesaan.

Tantangan berat itu tak bisa dielakkan BRI ketika salah satu bank milik pemerintah ini hendak membangun sistem TI guna menopang kelancaran operasional bisnis. Otomatis sistem TI yang dibangun –terutama infrastrukturnya — harus menjangkau dusun-dusun terpencil di mana kantor BRI berada. Padahal bukan rahasia lagi, BRI termasuk bank dengan jumlah cabang terbanyak di Tanah Air. Saat ini BRI setidaknya punya sekitar 4.500 gerai kantor, terdiri dari 326 kantor cabang, 186 kantor cabang pembantu dan hampir 4.000 kantor BRI Unit. Jumlah account (rekening) BRI juga tak bisa dibilang sedikit, mencapai 38,7 juta rekening. “Membangun TI BRI menghadirkan tantangan yang sangat unik,” komentar Abing Rabani, GM Teknologi Informasi BRI.

Sejak awal, manajemen BRI tampaknya sudah menyadari keunikan positioning BRI sebagai bank yang kuat di bidang ritel dan microbanking, sehingga dalam membangun TI pun sudah diharmonisasikan dengan positioning-nya. Kekhasan produk dan layanan tampaknya dicoba untuk diakomodasi. Di antara kekhasan itu, pertama, produknya bersifat massal dan standar. Kedua, layanan yang cepat dan aksesnya mudah (bisa anytime, anywhere dan anyhow). Ketiga, tersedia jaringan gerai yang luas tersebar di mana-mana, termasuk di desa-desa. Keempat, mesti aman dan nyaman.

Di BRI, inisiatif untuk membangun sistem TI yang mendukung positioning-nya sebagai bank mikro itu mulai serius diformulasi tahun 2003. Tahun itu BRI malahan berhasil merumuskan IT Strategic Plan yang akan dilakukan dari 2003 hingga 2007. Isi penting strategi itu: BRI harus segera melakukan proses transformasi mendasar di bidang TI guna mendukung positioning-nya. Karena itulah, BRI kemudian mencoba mengubah arsitektur dasar TI-nya dari yang semula bersifat distributed system menjadi centralized system. Bila dulu ada beberapa wilayah (regional) yang punya pusat data (data centre) sendiri, sekarang semua dipusatkan di Gedung BRI di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta. Visinya, semua titik pelayanan BRI bisa terkoneksi online dengan kantor pusat.

Hingga saat ini, proses implementasi sistem TI baru yang online dan terintegrasi itu — manajemen BRI memberi nama BRINETS — ke daerah-daerah masih berlangsung guna memperluas jangkauannya. Untuk menghubungkan antarkantornya, BRI memanfaatkan very small aperture terminal (VSAT) di setiap gerai microbank-nya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Maka jangan heran, di setiap gerai BRI terdapat semacam antena parabola untuk menerima sinyal data dari satelit. Dalam hal ini BRI memang memilih menggunakan teknologi satelit untuk koneksinya, karena kenyataannya banyak gerai microbank BRI di dusun-dusun yang belum terpasang kabel telepon dari PT Telkom. “Tapi VSAT yang kami pakai yang cost effective lho, yang memakai light bandwidth,” ujar Abing tanpa mau menyebut biaya detailnya .

Salah satu komponen penting dalam transformasi TI ini adalah pengembangan aplikasi inti microbanking terpadu. Aplikasi terpadu ini terdiri dari beberapa modul aplikasi, antara lain: aplikasi untuk informasi pelanggan (customer information application); aplikasi kredit (loan application) yang di BRI dikenal dengan sebutan Kupedes; aplikasi untuk simpanan (tabungan) yang dikenal sebagai Simpedes; dan aplikasi untuk transfer uang (remittance).

Sebagai informasi tambahan, BRI memperkuat saluran elektronisnya untuk proses layanan delivery. Hal ini dilakukan BRI pada dua segmen, yakni pada kanal kantor cabang (branch channel application) dan e-channel (fasilitas ATM, electronic phone banking, kartu debit, dan lain-lain). Strategi mengembangkan electronic channel ini diambil karena melihat ada pula pelanggan BRI yang mengalami mobilitas secara sosial ekonomi, sehingga butuh saluran pelayanan alternatif (tidak melulu lewat konter BRI).

Pada dasarnya teknologi yang digunakan BRI untuk membangun sistem BRINETS bukan hal yang baru, yaitu dengan memanfaatkan jaringan komputasi berbasis Web yang terhubung langsung secara real time dan online dengan host computer di Kantor Pusat BRI di Jakarta, melalui jaringan satelit (VSAT). “Bedanya, kalau bank lain saat ini banyak yang menggunakan traditional client-server yang biayanya relatif lebih mahal,” ungkap Abing. Memang, untuk arsitektur client-server ini, BRI menggunakan pendekatan thin client. Maksudnya, komputer di sisi user sifatnya lebih sederhana, lebih sebagai workstation. Yang jelas, dengan aplikasi microbanking berbasis Web ini, nasabah BRI di pedesaan dapat melakukan transaksi perbankan seperti transaksi antarcabang (BRI Unit) dan transfer uang dilakukan online, hanya beberapa detik sudah sampai di tujuan. “Jadi orang desa pun kini sudah bisa menikmati layanan transaksi perbankan yang cepat, mudah dan aman,” katanya bangga.

Dalam perjalanan implementasinya, menurut Abing, dari sekitar 4.500 gerai kantor yang dimiliki BRI, sudah 1.300 gerai yang terkoneksi (online) hingga akhir 2005. Tahun ini akan ditambah 1.000 gerai lagi, sehingga akhir 2006 ditargetkan jumlah gerai yang online mencapai 2.300. “Ini akan menjadikan kami memiliki jumlah gerai online terbesar di perbankan Indonesia,” ujarnya. Memang, untuk itu investasi yang dibenamkan BRI tak sedikit. Pasalnya, untuk menopang sistem dan aplikasi yang hendak dikembangkan, BRI juga membangun jaringan infrastruktur pendukung baik hardware — mencakup instalasi thin client workstation dan data communication satellite network — maupun software infrastruktur berbasis Web.

Dalam perhitungan Abing, biaya TI rata-rata di tiap unit sekitar US$ 11.600/tahun. Dana sebanyak itu digunakan untuk menyediakan host computer dan server Web, pengembangan software aplikasi, pembelian lisensi software (Windows 2000 dan Microsoft SQL) di kantor pusat, hardware (per unit dibutuhkan 4 PC, passbook printer, UPS dan genset). Di luar itu, BRI masih harus mengeluarkan biaya sewa jaringan komunikasi sendiri dengan menggunakan satelit VSAT. Abing memperkirakan, setelah lima tahun, BRI Unit tidak perlu mengeluarkan biaya lagi. Sementara break even point-nya diprediksi tercapai setelah 24 bulan. Bagi BRI sebenarnya dana itu tak terlalu memberatkan karena satu unit BRI di kecamatan saja bisa punya perputaran uang hingga Rp 20 miliar/tahun. “Padahal karyawan mereka hanya empat orang,” ujar Abing.

Yang paling penting, lanjut Abing, manfaatnya cukup signifikan. Dibandingkan dengan masa sebelumnya, proses kerja di setiap BRI Unit lebih efisien. Pasalnya, menurut Abing, sistem ini memudahkan operasional, pemeliharaan dan kontrol aplikasi di BRI Unit, serta meningkatkan daya saing BRI di antara bank-bank lain. “Dulu kalau transfer uang dari Papua ke Semarang bisa memakan waktu seminggu lebih, sekarang bisa langsung masuk karena sudah online,” ujar Erika, staf BRI Cabang Semarang.

Sudah pasti, di lain sisi, sistem baru juga memberi keunggulan kompetitif (competitive advantage) tersendiri, serta peluang bisnis baru bagi BRI. Tanpa menyebut angka pastinya, menurut Abing, pendapatan fee based dari jaringan online ini cukup besar. “Inovasi di bidang TI juga pasti meningkatkan citra BRI,” katanya. Sementara bagi nasabah, manfaat yang diperoleh cukup signifikan. Mereka di pedesaan bisa bertransaksi online di seluruh gerai BRI, dan memungkinkan mengakses e-channel (ATM dan phone banking) selama 24 jam setiap hari.

Secara keseluruhan, bila dipetakan, aplikasi di BRI yang menjadi bagian penting dari sistem BRINETS itu dibagi tiga bagian besar. Pertama, aplikasi di back office, yang di BRI sering dinamakan management support system. Kedua, aplikasi di bagian tengah, yakni core banking system. Ketiga, aplikasi di front office, yakni delivery channel.

Untuk management support system, aplikasi yang dipakai BRI tak beda jauh dari perusahaan pada umumnya. Misalnya ada aplikasi SDM, keuangan (internal) dan lainnya, yang di BRI memakai buatan SAP. Lalu, di bagian tengah (core banking application) yang mencakup aplikasi pinjaman (Kupedes) dan tabungan (Simpedes). Di sini BRI memakai aplikasi buatan Silverlake, vendor asal Malaysia. Sementara untuk aplikasi di front office alias delivery channel, BRI memakai software 100 ON2 (buatan ON2 Technologies). “Namun untuk aplikasi delivery channel ini mau kami ganti karena sudah agak usang. Sekarang sedang seleksi vendor,” kata Abing. Menurutnya, dibandingkan dengan bank-bank lain, keunikan aplikasi BRI terletak pada bagian core banking yang dimiliki.

Sejauh ini Abing yakin, proses transformasi TI di BRI tidak keluar sasaran seperti yang sejak semula ditargetkan. Yakni TI sebagai business operation enabler, untuk mendorong produktivitas, meningkatkan efisiensi, meminimalkan risiko operasional, serta secara berkesinambungan dapat menyediakan layanan TI pada tingkat competitive service level agremeent. Hanya saja, Abing mengakui, dalam proses implementasinya selama ini terdapat berbagai tantangan dan kendala.

Kendala terberat dari sisi lokasi geografis BRI Unit yang banyak terletak di remote area, sehingga implikasinya banyak. Misalnya, ada masalah transportasi, pengiriman barang, kondisi power listrik di lapangan dan hal-hal lain. “Tapi bagi kami itu menjadi tantangan yang harus bisa kami hadapi kalau kami mau membangun bisnis microbanking,” paparnya.

Bagaimana dengan masalah SDM? Abing merasa tak ada kendala. Bahkan di BRI Unit di kecamatan yang terpencil biasanya ada seorang staf masih muda yang melek komputer, sehingga tak sulit memahami dan mengoperasionalkan TI BRI yang sudah dibuat user friendly.

Ke depan, Abing menyebutkan, BRI tetap akan mempertahankan posisinya sebagai leader dalam bisnis microbanking dengan menguatkan TI-nya. Rencananya, dalam tiga tahun ke depan akan menyelesaikan implementasi di sisa 3.000 BRI Unit yang masih offline. Hal ini dilakukan secara bergegas mengingat sekarang banyak bank besar yang juga mulai melirik arena microbanking, semisal Bank Danamon dan BCA.

Pengamat TI Hadi Barko melihat sudah cukup tepat apa yang dilakukan BRI dengan membangun TI untuk memperkuat positioning-nya sebagai microbanker. Karena, dalam catatan Hadi, 99% pelaku bisnis memang UKM yang merupakan target BRI, sehingga TI bisa memperkuat posisi BRI di segmen ini. Hanya saja, menurutnya, BRI perlu lebih mempertajam fungsionalisasi TI. Misalnya untuk melihat dan memetakan bagaimana perilaku dan keinginan pelanggannya. Dengan cara itu, BRI bisa mempunyai suatu produk keuangan yang sesuai dengan perilaku nasabah. Bahkan, dengan TI BRI bisa mengustomasi (customize) nasabah berdasarkan lokasi. “Inilah tujuan akhir investasi TI, yakni untuk meningkatkan sales, dan mempercepat keputusan manajemen strategis berdasarkan data yang akurat,” ujarnya.

Hal lain yang diingatkan Hadi, BRI tetap harus mencermati kesiapan SDM-nya, dan perlu mengkaji SDM-nya yang di pelosok-pelosok sudah siapkah atau perlu pelatihan khusus. Budaya electronic banking (melalui ATM atau bahkan Internet banking) mesti pula dipersiapkan. Soal mesin ATM misalnya, bagi Hadi, BRI bisa saja menyediakan dengan cara alih daya (outsourcing). Tak harus membeli sendiri karena mengurus dan memberikan support ke ATM sampai ke pelosok tidaklah mudah.

Yang terpenting, kalau semua sudah diimplementasi tinggal bagaimana divisi pemasaran BRI memanfaatkan data yang tersedia. “Mereka harus secara tajam mengolah data, sehingga menghasilkan produk yang memang dibutuhkan oleh nasabah setempat yang bisa bersaing dengan bank lain yang punya ATM banyak,” ujarnya. Dalam hal ini, lanjut Hadi, kesuksesan BRI sangat tergantung pada tiga hal: proses, SDM, dan teknologi. “Yang paling dominan adalah bagaimana kesiapan people-nya,” ia menegaskan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag