Menangguk Berkah Lewat Meji Mejiku

Menangguk Berkah Lewat Meji Mejiku

Untuk melihat potensi pasar, Suprapto pun melakukan riset pasar sekitar dua tahun. Hasilnya, ternyata masyarakat antusias terhadap model baru salon kecantikan ini, terutama di kota-kota besar. Tak tanggung-tanggung, seorang ahli perawatan kuku langsung didatangkan dari Jepang untuk menyalurkan ilmunya di Indonesia. Setelah yakin, tahun 2005, Meji Mejiku di bawah payung PT Pacific Macronic Industry sebagai pemegang lisensi dikibarkan. Meji mejiku dalam bahasa Jepang berarti cantik. “Kami buat brand Japanese karena negara itu jadi trendsetter,” katanya.

Bekerja sama dengan investor daerah, dua salon perdana Meji Mejiku dibuka di Plaza Tunjungan dan Pasar Atom Surabaya pada 2006. Dalam waktu singkat, salon yang hanya menyediakan produk dan layanan kecantikan kuku ini beranak-pinak ke berbagai daerah. Gerai yang didominasi warna merah muda ini dengan mudah dijumpai di beberapa mal di kota-kota besar. Saat ini, sudah ada 16 salon yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung dan Surabaya. Di Jakarta, Meji Mejiku hadir Mal Kelapa Gading, Tamini Square, Mal Taman Anggrek dan Plaza Semanggi. Rencananya, Agustus nanti buka cabang baru di Megamal Pluit.

Suprapto mengatakan, kerja sama yang ditawarkan bukan franchise murni dan lebih ke lisensi. “Kami tidak ikut dalam pengelolaan manajemen,” kata Direktur Eksekutif Meji Mejiku ini. Investor yang berminat membuka Meji Mejiku hanya perlu mengalokasikan investasi senilai Rp 150-250 juta untuk jangka tiga tahun. Investasi ini sudah termasuk tempat, dekorasi interior, pelatihan karyawan, serta produk dan peralatan pendukung. “Karyawan akan dilatih tiga bulanan hingga betul-betul mahir,” ujarnya.

Selain itu, diberikan pula pelatihan manajemen usaha. Investor juga mendapatkan jaminan jika tempat usaha kurang strategis bisa dipindahkan tanpa dikenakan penalti. Namun, sebelum salon itu dibangun, ada tim survei yang menentukan layak-tidaknya lokasi. “Ini bisa dilihat dari seberapa peluang pasar yang bisa diraih. Kebanyakan memang di mal, meski tidak menutup kemungkinan untuk di luar mal,” kata Suprapto.

Diakuinya, selama ini omset tiap cabang berbeda, tergantung pada lokasi. Sayang, ia tak mau menyebutkan angka persisnya. Menurutnya, rata-rata pelanggan yang datang mencapai ratusan tiap minggu. “Besarnya biaya investasi tergantung tempat dan bisa (meraih) BEP (breakeven point) dalam 1,5-2 tahun,” ujar lulusan komunikasi pemasaran Melbourne Institute of Technology, Australia, ini.

Menurut dia, meski dari Jepang, ilmunya diselaraskan dengan citarasa orang Indonesia. Variasi produk dan layanan yang ditawarkan pun sangat banyak, sekitar 30 item. Salon ini lebih fokus pada pelayanan, sedangkan produk hanya sebagai pendukung. Namun, produk kecantikan kuku yang diimpor dari Jepang dan Kor-Sel ini lebih lengkap ketimbang produk yang dijual di toko-toko kosmetik.

Meji Mejiku juga menawarkan harga yang lebih terjangkau. Harga produknya mulai dari Rp 15 ribu untuk magic nail buffer (alat untuk mengilapkan kuku) sampai Rp 75 ribu untuk manicure set (seperangkat alat untuk manikur lengkap, seperti gunting kuku, lidah ular untuk menghilangkan kulit mati, dan kikir kuku. Untuk jasa yang sekadar membentuk dan mengecat kuku (polish) dikenakan tarif Rp 15 ribu. Adapun manikur mulai dari Rp 27 ribu dan tato kuku bertarif Rp 55 ribu. Juga ada paket khusus senilai Rp 200 ribu. “Yang paling banyak diminati konsumen adalah paket manikur,” ujar suami Rinny Siman dan ayah Clinton Siman (1 tahun) itu.

Menurut Suprapto, pesaing di bisnis ini memang banyak, tapi tidak head-to-head. Segmen pasar yang dibidik adalah perempuan umur 18-35 tahun dan tidak hanya kalangan high-end. “Harga yang kami tawarkan cukup kompetitif, bahkan jika menjadi member, bisa lebih murah 30%,” kata Suprapto yang berencana ekspansi ke luar Jawa. Keunggulan Meji Mejiku, tambahnya, terbukti dari keberhasilannya meraih Indonesian Creative and Inovative Award dan Indonesian Quality and Developmnent Award pada 2007.

Diakui Yuli Octavia, salah satu franchisee Meji Mejiku, salon kuku ini cenderung unik karena belum ada salon yang khusus menyediakan jasa kecantikan kuku. Ia mengaku tertarik membuka salon di Plaza Semanggi karena pasarnya potensial. Yuli yang berlatar belakang di periklanan ini menilai promosi yang dilakukan Pacific Macronic Industry untuk menawarkan bisnis ini cukup gencar. “Iklannya sering disiarkan di radio sehingga kecantikan kuku ini menjadi tren,” katanya. Ketertarikannya juga dipicu oleh besaran investasi yang dipatok yang menurutnya cukup kompetitif dibanding dengan waralaba lain.

Yuli menuturkan, kebanyakan pengunjung salonnya adalah karyawati. Sementara jasa yang paling banyak diminta adalah manikur dan pedikur. Ada beberapa pelanggan setia yang datang seminggu sekali ke salonnya.

Moh. Husni Mubarak dan Henni T. Soelaeman

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag